Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Ulil Abshar: Membaca Ulang Kitab Ihya Karya Imam Al-Ghazali

Sumber: Sumber: https://www.datdut.com/fakta-ihya-ulumiddin/amp/

Kitab Ihya ‘Ulūm al-Dīn karya Imam al-Ghazali merupakan satu kitab yang menarik untuk dibaca dan dipelajari. Kitab ini merupakan salah satu kitab yang sering dipelajari di kalangan pesantren di Indonesia, bahkan juga masyarakat Islam pada umum.

Salah satu tokoh di Indonesia yang consern dalam kajian kitab Ihya adalah K.H. Ulil Abshar Abdallah. Beliau merupakan penggagaa dan pengasuh ngaji kitab Ihya secara online. Beliau juga bisa disebut sebagai tokoh yang mengubah dan menjadikan pengajian online menjadi trend di kalangan anak muda di Indonesia.

Kitab Ihya merupakan kitab yang sangat penting untuk dikaji. Mengingat kitab ini memiliki pengaruh yang sangat besar dalam sejarah intelektual Islam, dan juga dalam sejarah umat Islam itu sendiri. Namun sayangnya, sebagian dari umat Islam keliru dalam memahami isi kandungan kitab Ihya. Hal ini dikarenakan mereka memahami isi kandungan kitab Ihya hanya secara leterlek (harfiah/tekstual). Bahkan pemahaman secara leterlek ini, kitab Ihya dituduh seolah-olah sebagai salah satu sumber kemunduran dunia Islam.

Untuk menyangkal tuduhan ini, tugas seorang intelektual muslim modern saat ini adalah menjadikan teks-teks yang ada dari tradisi Islam. Demikian juga dengan kitab Ihya, menjadi teks yang relevan dengan zaman saat ini. Meskipun teks itu berasal dari masa lampau, tetapi harus dibuat relevan dengan keadaan saat ini. Karena itu perlu pembacaan ulang terhadap teks-teks tersebut.

Penafsiran Ulang Atas Term “Dzamm al-Dunyā” (ذمّ الدنيا)

Salah satu gagasan yang sampaikan olehKiai Ulil Abshar pada kanal youtube UIN Sunan Kalijaga (Rabu, 5/1/2022) adalah perlunya saat ini pembacaan ulang kitab Ihya karya Imam al-Ghazali. Agar kita tidak keliru memahami isi kandungan dari kitab Ihya.

Tidak semua pembahasan dalam kitab Ihya harus dipahami secara leterlek apa adanya. Ada sebagian makna yang juga harus ditafsirkan ulang agar sesuai dengan zaman saat ini. Kalau tidak, maka akan ada muncul prombel akibat pemahaman yang keliru berdasarkan makna leterlek saja.

Baca Juga  Tiga Tngkatan Orang yang Berpuasa Menurut Ihya Ulum al-Din

Misalkan dalam kitab Ihya ada pembahasan mengenai “dzamm al-dunyā”. Kalau kita artikan secara leterlek (harfiah) maka maknanya ialah “mencela dunia”. Kalau pembahasan tentang dzamm al-dunyā dipahami sebagaimana adanya, yaitu untuk mencela dan menjauhi dunia. Maka seakan-akan umat Islam tidak boleh untuk membangun dunia dan peradaban, dunia ini harus kita cela dan kita jauhi. Pemahaman keliru seperti ini yang terjadi kepada sebagian orang apabila memahami kitab Ihya hanya secara leterlek.

Tidak Dikuasai Oleh Dunia

Kalau hal demikina terjadi, maka ini merupakan sesuatu yang sangat disayangkan. Karena pesan kitab Ihya yang sebenarnya tidak tersampaikan dengan baik. Pesan dalam kitab Ihya adalah bukan mengajak kita untuk membenci dunia, tetapi memperingati agar kita tidak dikuasai oleh dunia. Meskipun term “dzamm al-dunyā” kalau diterjemahkan secara leterlek artinya adalah “mencela dunia”, namun kalau kita maknai demikian maka akan menjadi problematis, sehingga harus ada penafsiran ulang tentang term tersebut.

Makna yang sesusai dari kata dzamm al-dunyā dengan umat saat ini adalah bukan berarti kita membenci dan menjauhi dunia, tetapi makna yang sesuai adalah kita tidak boleh dikuasai oleh dunia walaupun kita membangun dunia. Kita tetap terlibat dalam membangun peradaban, khususnya peradaban Islam, tetapi kita tidak boleh dikuasai oleh dunia. Itulah cara pembacaan ulang kitab Ihya yang sesuai dengan zaman saat ini. Makna yang seperti inilah yang kurang dipahami oleh sebagian umat Islam ketika membaca kitab Ihya.

Intertekstualitas Kitab Ihya

Selain pembacan ulang, salah satu cara membaca kitab Ihya agar pemahaman kita tidak keliru adalah, kitab Ihya harus dibaca secara intertekstual. Maksudnya ialah ketika kita membaca satu bagian dari kitab Ihya, kita juga perlu membaca bagian yang lain, agar pemahaman kita tidak kaku dan keliru.

Baca Juga  Menjaga Lisan dengan Konsep Diam Imam Al-Ghazali

Misalkan, tentang pembahasan dzamm al-dunya yang telah kita bahas sebelumnya. Pembahasan ini harus kita kaitkan dengan pembahasan lain dalam kitab Ihya, sehingga pemahaman kita akan menyeluruh dan tidak terkotak-kotak.

Pada pembahasan awal kitab Ihya, Imam al-Ghazali membuka dengan pembahasan tentang “Ilmu”. Ada satu teori epistimologi ilmu yang yang ditawarkan oleh Imam al-Ghazali. Ilmu dalam pandangan Imam al-Ghazali terbagi menjadi dua, pertama ilmu yang bersifat syar’iyyah (ilmu keagamaan), kedua ilmu yang bersifat ghayr syar’iyyah (ilmu non-keagamaan). Ilmu keagamaan adalah setiap ilmu yang bersumber dari wahyu, yaitu al-Qur’an dan Hadis. Adapun ilmu non-keagamaan adalah setiap ilmu yang  bersumber dari non-wahyu, seperti observasi empiris dan ilmu nalar.

Pemahaman Keliru Perihal Al-Ghazali

Pemahaman yang keliru tentang teori epistomologi ilmu Imam al-Ghazali adalah, beliau dianggap bertanggungjawab atas terjadinya dualisme ilmu dalam dunia Islam, yaitu pemisahan antara ilmu agama (‘ulūm al-dīn) dan ilmu umum (‘ulūm al-dunyā). Hal ini membuat seakan-akan ilmu umum posisinya lebih rendah/di bawah dari ilmu agama. Ini merupakan pemahaman yang keliru, karena Imam al-Ghazali tidak memisahkan antara ilmu agama dan ilmu umum.

Menurut Imam al-Ghazali, ilmu ghayr syar’iyyah (ilmu umum) bukan berarti nilainya lebih rendah dari ilmu syar’iyyah (ilmu agama), karena beliau mengatakan bahwa ada bagian-bagian dari ilmu umum yang sifatnya harus dipelajari oleh umat Islam, dan hukum mempelajarinya adalah fardhu kifayah. Artinya, kalau tidak ada satu orang pun dari umat Islam yang mempelajari ilmu tersebut, maka akan berdosa seluruh umat Islam.

Ilmu umum yang dimaksud Imam al-Ghazali sebagai fardhu kifayahdi antaranya ialah thibb (pengobatan/kedokteran), filāḥah (pertanian/pangan), ḥiyākah (penenunan/sandang), siyāsah (politik), dan ilmu-ilmu lain yang dibutuhkan untuk melandasi perkara-perkara dunia. Ilmu- ilmu ini disebut secara eksplisit pada pembahasan tentang “Ilmu” dalam kitab Ihya. Ini mengisyaratkan bahwa Imam al-Ghazali sangat menganjurkan umat Islam untuk belajar ilmu keduniaan, karena beliau mengatakan bahwa ilmu-ilmu tersebut sifatnya fardhu kifayah untuk dipelajari oleh umat Islam.

Baca Juga  Coppens: Kontestasi Hadith dalam Penafsiran Eksistensi Melihat Tuhan

Kesimpulan

Jika kita kaitkan pembahasan dzamm al-dunyā dengan epistimologi ilmu yang disampailan Imam al-Ghazali pada pembahasan tentang “Ilmu” dalam kitab Ihya. Maka tidak sesuai jika dzamm al-dunyā dimaknai  dengan mencela dan menjauhi dunia. Karena beliau mengatakan bahwa belajar tentang kedokteran, perdagangan dan pertanian adalah hukumnya fardhu kifayah.

Kalau Imam al-Ghazali mengatakan bahwa ketiga ilmu tersebut wajib dipelajari oleh umat Islam, maka tidak sesuai apabila yang dimaksud dzamm al-dunyā oleh Imam al-Ghazali adalah bahwa umat Islam harus menjauhi dunia. Makna yang sesuai adalah kita harus membangun peradaban. Khususnya peradaban Islam, namun kita tidak boleh dikuasai oleh rasa cinta yang berlebihan terhadap dunia, yang akan menjadikan kita sebagai budak dunia.

Wallāhu A’lam []