Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Menjaga Lisan dengan Konsep Diam Imam Al-Ghazali

Sumber: istockphoto.com

Lisan adalah alat vital yang merupakan bentuk dari kenikmatan yang diberikan oleh Allah Swt. Lisan juga mempunyai jalan lurus dalam kebaikan dan memiliki ekor yang dapat ditarik dalam kejahatan; yang dapat menjatuhkan seseorang atas hidupnya. Maka dapat diketahui bahwa lisan dapat mengangkat serta menurunkan derajat seseorang.

Apabila seseorang tidak dapat menjaga lisannya ketika di dunia maka akan berdampak pada dirinya sendiri. Yang mana ia tidak disenangi oleh orang lain, dan ketika di akhirat ia akan terjerumus pada panasnya api Neraka. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Humajah ayat 1:

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ (1)

“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela”

Ayat ini turun berkenaan dengan Umayyah bin Khalaf yang pada saat melihat Rasulullah ia mencela serta mengumpati beliau, sehingga Allah Swt menurunkan ayat ini sebagai suatu peringatan bahwa, “Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela”, baik dalam bentuk ucapan maupun isyarat. Karena perbuatan ini dapat berdampak buruk dalam kehidupan sosial seperti mencoreng wibawa serta kehormatan seseorang, dan dapat menghilangkan kepercayaan orang lain kepada orang tersebut. Meskipun demikian, masih terdapat sebagian orang yang masih tidak dapat menjaga lisannya dari perkataan-perkataan yang tidak baik.

Penyakit Lisan

Lisan juga termasuk penyakit yang ada dalam diri manusia yang sering kali tidak disadari oleh penderitanya. Oleh karena itu, banyak orang yang tidak menjaga lisannya. Menurut al-Ghazali terdapat 20 bahaya lisan salah satu di antaranya yaitu: pembicaraan yang berlebihan, pembicaraan yang panjang dan lebar mengenai hal-hal yang batil, perdebatan, pertengkaran, perkataan keji, mengutuk, bergurau, mengejek, janji yang dusta, mengadu domba, dan berkata mengenai hal-hal yang tidak penting.

Baca Juga  Ulil Abshar: Membaca Ulang Kitab Ihya Karya Imam Al-Ghazali

Sedangkan Nabi Isa A.S. mengatakan bahwa berbicara baik merupakan dzikir dan berbicara sia-sia sama saja dengan ungkapan setan. Dengan demikian, Allah memerintahkan kepada semua hambanya untuk menjaga lisannya, karena kelak di akhirat semua tindakan dan perkataan akan dipertanggungjawabkan. Sehingga menjaga lisan menjadi suatu hal yang sangat penting untuk dilakukan. Dan menurut ahli tasawuf menjaga lisan itu sama dengan puasa rohani, di mana seseorang sedang menahan panca indra, pikiran, dan juga hatinya dari hal-hal yang diharamkan.

Imam al-Ghazali memberikan cara untuk menjaga lisan dengan cara diam, dan konsep diam yang dimaksud oleh Imam al-Ghazali bukanlah dengan diam yang pasif (diam tanpa kata), melainkan diam yang aktif (berkata yang baik-baik serta perkataan yang memiliki manfaat). Maka bagaimana konsep dan keutamaan diam menurut Imam al-Ghazali?

Tiga Konsep Diam Menurut Imam al-Ghazali

Imam al-Ghazali menjelaskan dalam kitabnya yang berjudul Ihya’ Ulum ad-Din Jilid V bahwa di dalam pembicaraan itu terdapat bencana dan di dalam diam itu terdapat keselamatan, maka keutamaan diam sangatlah besar. Sehingga Imam al-Ghazali menganjurkan kepada semua manusia untuk menjaga lisan atau diam, karena sesungguhnya diam itu memiliki nilai ibadah. Dan terdapat tiga konsep diam yang harus diamalkan oleh semua manusia yaitu:

  • Diam berarti berdzikir

Imam al-Ghazali mengatakan bahwa diam dan dzikir memiliki hubungan yang sangat erat, sebagaimana dalam sabda Rasulullah Saw:

وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِر فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ (متفق عليه)

“Barang siapa yang beriman kepada Allah Swt dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam”

Hadist di atas dapat dipahami bahwa diam (tidak berkata kotor seperti ghibah dan memfitnah) merupakan hal yang sama dengan berdzikir kepada Allah Swt. Karena lisan yang dijaga dari perkataan yang tidak baik itu dapat bernilai dzikir kepada Allah Swt dan Rasulullah Saw. Dzikir sendiri merupakan amaliyah jiwa yang memiliki kedudukan sangat peting bagi kehidupan manusia, sebab dzikir dapat mengobati penyakit rohani yang ada dalam diri manusia.

Baca Juga  Islam Menganjurkan Kita Berfilsafat

Terdapat dua macam dzikir. Pertama, dzikir bil lisan adalah mengucapkan lafal-lafal dzikir yang dapat menggerakkan hati untuk selalu mengingat Allah Swt; yang dapat dilakukan dengan cara tertentu serta dapat dilakukan di tempat tertentu. Dan dzikir ini sering kali dilakukan ketika setelah melaksanakan sholat. Kedua, dzikir bil qalb keterjagaan hati untuk selalu mengingat Allah Swt, dan aktivitas dzikir ini dapat dilakukan dimana pun dan kapan pun.

***

  • Diam berarti berfikir

Imam al-Ghazali mengajarkan kepada manusia untuk selalu menjaga lisan dengan cara diam. Sebab diam memiliki nila ibadah yang sama dengan berfikir. Berfikir adalah bentuk dari ibadah yang dapat mengarahkan perilaku seseorang kepada sesuatu yang baik sehingga dapat meningkatkan keimanan, berfikir juga merupakan pangkal dari segala kebaikan dan pekerjaan hati yang memiliki berbagai manfaat. Seperti berfikir tentang keagungan Allah Swt dalam penciptaan langit dan bumi. Dan pemikiran tersebut dapat membuat iman seseorang selalu bertambah karena selalu memfikirkan tentang keagungan dan kemuliaan Allah Swt.

  • Diam berarti ma’rifah

Diam menjadi suatu aktivitas yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Sebab selain mengandung nilai dzikir dan berfikir diam juga memiliki nilai ilmu pengetahuan; yang mana dalam ilmu pengetahuan tersebut terdapat sebuah kema’rfatan. Ketika hati telah memperoleh sebuah kema’rifatan maka keadaan hati itu akan berubah dan apabila keadaan hati itu telah berubah, maka berubah pula amalan-amalan perbuatan yang dilakukannya menjadi lebih baik lagi.

Manfaat Menjaga Lisan

Hendaklah seseorang tidak berbicara kecuali perkataan itu adalah sebuah kebaikan. Sebab seseorang yang dapat menjaga lisannya akan terhindar dari kejahatan lisan, sebagaimana dalam sabda Rasulullah Saw, “Seorang muslim adalah orang yang selamat dari kejahatan lisan dan tangannya” (HR. Bukhari). Selain dapat terhindar dari kejahatan lisan, menjaga lisan juga mempunyai manfaat yaitu:

  1. Mendapat keutamaan di sisi Allah Swt
  2. Mendapat jaminan surga dari Allah Swt
  3. Dipermudahkan dalam segala urusan
  4. Mendapat ketentraman hidup baik ketika di dunia maupun di akhirat
  5. Dan terhindar dari penyakit jasmani
Baca Juga  Tewasnya Ali Kalora dan Urgensi Mewaspadai Gerakan Kelompok Ekstremis

Editor: An-Najmi