Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tradisi Muslim Di Indonesia yang Tidak Dilakukan Di Tempat Lain

Sumber: https://www.kompasiana.com/

Tradisi memiliki aturan dan tatacara tertentu yang telah ditentukan oleh masyarakat atau kelompok pencipta tradisi tersebut. Sehingga masing-masing tradisi mempunyai perbedaan, baik dalam hal pelaksanaan atau perlengkapannya. Kebiasan yang dilakukan sekelompok masyarakat bertujuan mendapatkan keselamatan dan kebaikan bersama. Tradisi adalah bagian yang integral dari kebudayaan masyarakat. Hal ini terwujud karena fungsi tradisi bagi kebudayaan masyarakat.

Suatu tradisi merupakan adat kebiasaan yang turun menurun masih dilaksanakan oleh suatu anggota masyarakat.Tradisi yang masih dilaksanakan menjadi tanda bahwa tradisi tersebut masih mempunyai fungsi atau makna tertentu dalam tradisi tersebut bagi masyarakat pendukungnya. Acara tiga serangkai merupakan suatu kebiasaan yang masih dilaksanakan oleh masyarakat Stasiun Besitang ketika hendak menjelang bulan suci ramadhan. Hal ini menjadi bukti bahwa tradisi tiga serangkai tersebut mempunyai makna atau fungsi tersendiri bagi masyarakat Stasiun Besitang.

Tradisi Tiga Serangkai

Penyelenggaraan tradisi sangat penting artinya bagi masyarakat pendukungnya. Begitu juga dengan tradisi tiga serangkai yang dilakukan oleh masyarakat Stasiun Besitang, acara tiga serangkai memang sudah menjadi kebiasaan atau adat istiadat secara turun-temurun. Acara ini biasanya dilakukan saat menjelang bulan suci ramadhan. Kegiatan tiga serangkai ini mencakup di dalamnya yaitu pertama, memperingati  isra’ mi’raj, kedua kenduri arwah, ketiga menyambut bulan suci ramadhan yang diadakan menjadi satu waktu yaitu pada bulan sya’ban dalam kalender hijriyah atau sebelum datang bulan ramadhan. Acara tiga serangkai  ini dilaksanakan di Mesjid, dahulu tradisi tiga serangkai di Stasiun Besitang diadakan sejak sekitar tahun 2000-an.

Tradisi tiga serangkai merupakan suatu media yang bertujuan untuk membangkitkan semangat beribadah kepada Allah Swt. Karena kebiasaan tersebut merupakan salah satu acara memperingati isra’ mi”raj. Di mana merupakan kisah perjalanan Rasulullah Saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Kemudian ke Sidratul Muntaha atau langit ketujuh dalam semalam untuk memuliakan Rasulullah Saw dan untuk memperlihatkan kepadanya beberapa keajaiban ciptaan Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Isra’ ayat 1: لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنا  (Agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami).

Baca Juga  Hari Santri: Momentum Meneguhkan Kembali Keutuhan NKRI

Selain itu, Isra dan Mi’raj juga ditujukan untuk mengagungkan derajat Nabi Muhammad SAW. Serta sebagai penguat hati beliau dalam menghadapi tantangan dan cobaan yang dilontarkan orang-orang kafir Quraisy. Terlebih setelah ditinggal mati oleh paman beliau Abu Thalib dan isteri beliau Khadijah. Isra’ mi’raj juga merupakan kisah diwajibkannya sholat 5 waktu yang berawal dari 50 waktu. Kemudian Rasulullah meminta keringangan kepada Rabbnya untuk umatnya yaitu kita umat akhir zaman sekarang ini. Oleh sebab itu dengan adanya acara memperingati isra’ mi’raj; maka semoga menambah dan mempertebal keimanan kita dengan tidak meninggalkan shalat lima waktu yang telah disyariatkan.

Tradisi Kenduri Arwah

Acara yang kedua yaitu kenduri arwah, acara ini diadakan ba’da magrib. Namun saat menjelang magrib warga sudah berdatangan ke mesjid untuk sholat berjamaah; dan membawa satu bungkus nasi yang dinamakan nasi umat. Setelah selesai sholat magrib berjamaah maka diadakan kenduri atau  membaca yasin  bersama untuk orang orang yang telah meninggal terlebih dahulu dan dilanjutkan doa. Doa mempunyai makna simbolik tertentu dan dijadikan sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah. Serta memohon ampunan kepada Nya baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Setelah doa dilanjutkan makan bersama. Namun sebelum makan semua nasi umat yang dibawa masing masing dikumpulkan terlebih dahulu. Kemudian setelah semuanya terkumpul maka akan dibagikan kembali kesemua warga yang telah hadir dengan kata kunci bukan nasi yang telah dibawa sendiri dari rumah masing masing melainkan sudah tertukar dengan nasi yang lain.

Tradisi Menyambut Bulan Ramadhan

Acara yang ketiga yaitu menyambut bulan suci ramadhan dimana umat islam harus bergembira menyambut bulan suci ramadhan. Karena di bulan suci ramadhan jika kita beribadah maka pahala kita akan berlipat ganda; dan terdapat didalamnya malam lailatul qadr yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bahkan ada hadist yang menyatakan “Barangsiapa yang bergembira dengan datangnya bulan suci ramadhan, maka Allah akan haramkan jasadnya tersentuh api neraka (H.R An nasa’i).

Baca Juga  Makna Kehidupan Bermasyarakat (2)

Setiap kegiatan kebiasaan yang dilakukan oleh suatu masyarakat mengandung makna simbolik yang terdapat di dalamnya. Misalnya seperti makan-makan, doa, waktu dan lain sebagainya. Makna simbolik yang terdapat dalam suatu kebiasaan jika dapat dipahami dan diamalkan maka akan membawa manusia ke dalam keselamatan yang inginkan. Makna simbolik dalam suatu kebiasaan menuntun manusia untuk selalu berbuat baik supaya dapat selamat dalam kehidupannya. Suatu tradisi yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat itu bertujuan untuk memperoleh keselamatan dan juga kebersamaan adanya semangat dalam acara memperingati hari hari besar islam.

Sebagai tradisi keagamaan dalam masyarakat muslim Stasiun Besitang, tradisi tiga serangkai juga berdampak positif di masyarakat. Seperti misalnya memperkuat kohesi sosial di internal masyarakatnya, mencerminkan sikap gotong royong dalam melaksanakan setiap acara hari hari besar islam, dan juga untuk meningkatkan semangat beribadah kepada Allah Swt dengan diadakannya tradisi tiga serangkai tersebut.

Editor: An-Najmi