Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tradisi Literasi dan Non-Literasi dalam Studi Kitab Suci: Membaca Tawaran Sam D. Gill

Sumber: https://www.colorado.edu/rlst/sam-gill

Tulisan ini berupaya melihat kajian yang telah dilakukan Sam D. Gill, seorang Profesor dalam bidang Studi Agama yang berafiliasi dengan Universitas Colorado, Boulder, berkenaan dengan sejauhmana tradisi non-literasi dan tradisi literasi berpengaruh terhadap kajian keagamaan, utamanya terhadap Kitab Suci (Denny and dkk 1993, 224).

Pemilihan topik kajian ini didasarkan pada keresahan Sam D. Gill yang melihat bahwa ada semacam penurunan ‘kualitas’ yang terjadi dalam kajian-kajian yang berkenaan dengan agama dan Kitab Suci. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa sedari awal, Sam D. Gill telah menegaskan apa yang ia paparkan dalam tulisan tersebut hanya akan sampai pada tahapan paling awal dari sebuah pencerahan dalam usaha penemuan kembali agama. 

Tinjauan Argumentasi Kalangan Penganut Tradisi Non-Literasi dan Tradisi Literasi

Sam D. Gill menghadirkan dua term penting di sini: tradisi non-literasi atau juga biasa disebut dengan tradisi ‘tidak melek huruf’; dan tradisi literasi atau ‘tradisi melek huruf’, yakni tradisi yang sadar akan pentingnya dunia keaksaran atau tulis-menulis. Kedua term ini dijelaskan dengan cukup panjang, lengkap dengan beberapa argumentasi dari masing-masing kalangan yang termasuk di dalamnya.

Mula-mula, Sam D. Gill memfokuskan diri untuk melihat apa yang menjadi keyakinan dari kalangan tradisi non-literasi.

Pengamatan paling awal melihat bahwa meskipun kalangan non-literasi menekankan pada pola komunikasi lisan, ini tidak membuat kalangan ini tidak menyadari kehadiran dunia keaksaraan dan buku, upaya-upaya memahami gagasan tertulis, mengevaluasi sebuah tulisan, dan mengungkap dengan jelas apa yang menjadi pandangan mereka atas keaksaraan.

Namun demikian, kalangan ini justru secara sadar memilih untuk mempertahankan pola komunikasi lisan yang ekslusif sembari menjelaskan manfaat dari apa yang menjadi keyakinannya tersebut.

Terdapat sebuah catatan yang cukup kritis yang diberikan kalangan non-literasi, bahwa dengan hanya membaca dan menulis, ini justru akan mengantarkan pada hilangnya pengalaman dalam dimensi sosial. Adapun pengalaman ini merupakan inti dari hadirnya sebuah pengetahuan.

Baca Juga  Islam dan Tradisi dalam Surah Al-A’raf Ayat 199

Kritikan Russell Terhadap Kalangan Literasi

Satu contoh penting yang merepresentasikan keyakinan ini dapat dilihat dari argumen Russell Means, seorang aktivis India. Dalam artikelnya ‘Fighting Word on the Future of the Earth’, yang dalam pengakuannya ini tidak dituliskan secara langsung olehnya, Russell Means menyatakan sebuah argumen yang cukup keras kepada kalangan literasi.

Kalangan literasi, yang olehnya secara khusus ditujukan kepada kalangan Eropa, memiliki sebuah tujuan yang kejam melalui tradisi literasi, yakni menghancurkan budaya masyarakat yang bukan non-Eropa.

Alih-alih menyebarkan ajaran-ajaran yang terdapat di dalam Kitab Suci (dalam konteks ini Al-Kitab), justru melalui tradisi literasi, mereka telah sampai pada adanya pemaksaan abstraksi atas hubungan lisan suatu bangsa. Mereka, oleh Russell Means, dianggap telah menunjukkan sejarah bahwa mereka tidak dapat melihat dan mendengar; mereka hanya bisa membaca.

Di sisi yang lain, sebuah respon hadir dari kalangan literasi atas apa yang dikatakan Russel Means. Sam D. Gill, sebagai salah satu yang mewakili dari kalangan ini justru mempertanyakan argumen Russell. Sam D. Gill menyatakan bahwa apa yang sebenarnya dikatakan Russell Means murni salah tempat. Dan pembelaan sebagaimana disebutkannya merupakan sebuah kekuatan kreatif untuk menulis dapat dibenarkan.

Lebih lanjut, bahwa pada dasarnya tradisi literasi justru menunjukkan sebuah kekuatan bahwa, melaluinya (tradisi literasi), dunia akan menjadi dekat, sebuah kreativas lanjutan akan muncul, dan salah satu media pembelajaran yang hebat.

Sebuah ucapan yang tertuliskan akan bertahan dalam durasi yang lebih lama dari suara, bahkan daging dan tulang sekalipun. Karenanya, ketika suatu pengetahuan tidak tertuliskan, bahkan tidak diwariskan pada generasi-generasi berikutnya, ini justru bermuara pada musnahnya sebuah pengetahuan tersebut.

Baca Juga  Penciptaan Perempuan Pertama: Tidak Diciptakan dari Tulang Rusuk Adam

Implikasi terhadap Studi Keagamaan

Berangkat dari apa yang didapatkan dari argumentasi kalangan tradisi non-literasi dan tradisi literasi, Sam D. Gill telah sampai pada titik penemuan sebuah perspektif kritis yang mendalam tentang studi agama dalam upaya menemukan kembali agama. Untuk tujuan ini Sam D. Gill menawarkan untuk melakukan pembahasan lebih mendalam terkait dimensi horizontal dan dimensi vertikal dalam studi agama.

Dalam dimensi horizontal, menurut Sam D. Gill, ini berkaitan dengan jenis data yang digunakan dalam lingkup studi agama. Pada dimensi ini, seorang peneliti disyaratkan untuk tidak membeda-bedakan sumber data, baik itu dari kalangan non-literasi maupun literasi.

Sam D. Gill menghendaki bagi setiap yang ingin melakukan studi tentang suatu agama untuk tidak terbatas pada dimensi tekstualnya saja, melainkan juga dibarengi dengan hadirnya dimensi kontekstual, yakni objek, tindakan, struktur, dan bentuk yang diyakini sebagai agama atau yang digunakan orang-orang dalam tindakan keagamaan.

Dengan kata lain, pada dimensi ini seorang peneliti harus menghilangkan keterbatasan data yang membuat studi agama hanya bergantung pada literasi atau tekstual.

Dalam pengamatan Sam D. Gill, sejauh ia melakukan kajian, ia menemukan fakta bahwa kecenderungan studi agama yang hanya berfokus pada dimensi tekstual dari Kitab Suci telah terjadi sebuah kekeliruan.

Sam D. Gill menganggap bahwa ‘fungsi-fungsi agama yang dilakukan oleh kalangan non-literasi, yang oleh kalangan literasi dianggap merupakan pragmatism yang sempit dan atau fungsionalisme yang salah secara logika’ adalah tidak valid.

Dua Aspek Kitab Suci Sam D. Gill

Di luar Kitab Suci sebagai objek, sebagai tanda, isi kitab suci biasa dibacakan, dilantunkan, dan dinyanyikan. Dalam pertunjukan ini, kualitas pertunjukan—suara, pengulangan, gerakan, objek, pakaian, gerak tubuh, dan sebagainya—setidaknya sama pentingnya dan seefektif pesan informasi yang terkandung dalam kata-kata dalam Kitab Suci.

Baca Juga  Mengenal Tafsir Sunda Karya Mhd. Romli dan H.N.S Midjaja

Di luar ini ada banyak konteks di mana kitab suci diterapkan pada kehidupan, di mana kitab itu memberikan bimbingan, inspirasi, pelipur lara, dan pengetahuan untuk memenuhi segala jenis kebutuhan mendesak dan pribadi.

Kitab Suci melayani agama dengan cara yang tak terhitung banyaknya yang hampir tidak berhubungan dengan makna intelektual atau historis dari kata-kata yang tercetak di dalamnya. Kitab suci berfungsi sebagai tanda budaya dan agama, bentuk yang terlibat dalam tindakan dan perilaku manusia.

Sementara itu, dalam dimensi vertikal, ini berkaitan dengan pendekatan interpretatif atau gaya hermeneutika yang cenderung digunakan dalam studi agama. Umumnya, dimensi ini dibagi dari apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan dilakukan, yakni aspek ‘informatif dan performatif’.

Dalam aspek informatif, proses interpretatif berpusat pada atribut bahasa yang mengandung informasi yang bermakna dari tindakan keagamaan. Sementara performatif, ia menyajikan gagasan bahwa agama, seperti yang diaktualisasikan, melakukan sesuatu bahkan jika itu untuk mengatakan sesuatu.

Satu hal yang perlu digarisbawahi dalam upaya ini adalah bahwa menguraikan informasi dari data-data keagamaan, baik berupa teks, ucapan, maupun tindakan tidak dimaksudkan untuk menguras data. Akan tetapi, usaha tersebut berusaha untuk membantu menguraikan dan menjelaskan segala bentuk data yang sangat bermakna dari tindakan keagamaan dalam masyarakat. Wallahualam.

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho

Referensi

Denny, Frederick M., and dkk. 1993. The Holy Book in Comparative Perspektive. Columbia: University of South Carolina Press.