Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tiga Ahli Tafsir yang Pernah Jadi Jurnalis

Jurnalis
Gambar: ppmn.or.id

Kemarin Indonesia baru saja merayakan Hari Kebebasan Pers Nasional. Umumnya, hari tersebut menjadi momentum refleksi bagi para jurnalis tentang nasib kebebasan pers atau kebebasan bersuara hari ini. Apalagi dengan banyaknya kasus kekerasan yang dialami oleh jurnalis sewaktu meliput beberapa isu-isu genting.

Namun saya tidak akan membahas jauh tentang hal itu. Di sini saya hanya akan membahas tentang beberapa ahli tafsir, baik dalam ataupun luar negeri, yang pernah menjalani hidup sebagai jurnalis. Siapa saja ulama-ulama tafsir yang pernah menjadi jurnalis itu? Tulisan ini akan coba menyebutkan beberapanya.

Buya HAMKA: Jurnalis Sejak Muda

Ulama tafsir pertama yang berlatar belakang jurnalis adalah Buya HAMKA. Nama itu tentu sangat tidak asing oleh kita. Ia adalah tokoh Muhammadiyah, Ketua Umum MUI pertama, dan tokoh pejuang kemerdekaan.

Buya HAMKA berasal dari ranah minang. Tempat yang begitu agresif dalam melahirkan tokoh-tokoh nasional. Di awal-awal kemerdekaan kita mengenal orang-orang seperti Bung Hatta, M. Natsir, Haji Agus Salim, Bung Syahrir, Tan Malaka, Moh. Yamin dan masih banyak lagi yang lain.

HAMKA adalah tokoh yang cukup fenomenal dalam sejarah Indonesia. Sebab, selain menyandang gelar ulama dan ahli tafsir, HAMKA juga kerap disebut sebagai politisi, sejarawan, sastrawan dan sebutan-sebutan lainnya.

Namanya begitu populer di Muhammadiyah. Bahkan salah satu kampus Muhammadiyah ada yang sampai mengabadikan namanya sebagai nama kampus, yakni Universitas Prof. Dr. HAMKA Jakarta.

Lalu, di mana peran HAMKA sebagai jurnalis? Tercatat, ia pernah menjadi jurnalis di beberapa media. Di antaranya Panji Masyarakat, Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Suara Muhammadiyah.

Baca Juga  QS. Al-Baqarah 233: Duhai Ayah dan Ibu, Berilah Kami Perhatianmu!

Media yang pertama disebut tidak memiliki umur panjang. Panji Masyarakat dibredel oleh Bung Karno karena telah membuatnya murka dengan menerbitkan tulisan Bung Hatta yang berjudul: Demokrasi Kita. Tulisan itu merupakan kritik Hatta terhadap Soekarno yang dianggap tidak menjalankan prinsip-prinsip demokrasi dalam menjalankan kepemimpinannya

Adapun media yang terakhir, Suara Muhammadiyah, memiliki nasib yang lebih beruntung. Media ini masih bertahan hingga sekarang. Bahkan saya sempat main ke kantornya beberapa hari lalu.

Kemampuan HAMKA dalam dunia wartawan itu kelak menjadi bekal dirinya dalam melahirkan beragam dan beraneka karya. Termasuk di antaranya ialah maha karyanya Tafsir Al-Azhar, tafsir al-Quran lengkap 30 juz.

Karir Jurnalis Muhammad Asad

Sedangkan ulama tafsir mantan jurnalis yang kedua adalah Muhammad Asad.

Bagi beberapa orang, nama ini mungkin terdengar asing. Namun bagi sebagian yang lain, namanya barang kali sudah demikian lekat dan akrab. Khususnya para peminat kajian tafsir.

Asad memiliki tafsir yang lumayan fenomenal dan banyak menjadi rujukan para cendekiawan muslim. Tafsir tersebut oleh Asad diberi judul: The Message of The Quran. Tafsir ini kemudian terbit dalam bahasa Indonesia berkat sentuhan tangan dingin penerbit Mizan. Dengan sedikit tambahan judul: The Message of The Quran, Tafsir Bagi Orang-Orang yang Berpikir.

HAMKA, ahli tafsir yang disebut pertama, termasuk ulama yang memiliki kekaguman yang mendalam terhadap tafsir Asad tersebut. Maka tak heran, dalam edisi terjemahan tafsir The Mesaage, testimoni HAMKA termasuk salah satu testimoni yang dicantumkan pada halaman utama cover.

Selain HAMKA, cendekiawan muslim Indonesia yang juga kagum dan lumayan sering merujuk Tafsir The Message adalah Buya Syafii dan Cak Nur (Nurcholis Madjid).

Baca Juga  Mengenal Kitab Raudhatu Al-’Irfan, Tafsir Berbahasa Sunda

Berawal dari Bencana Uni Soviet

Sebelum menulis dan terkenal sebagai mufassir, Asad mengawali karirnya sebagai jurnalis. Karir Asad sebagai jurnalis dimulai ketika sebuah bencana melanda Uni Soviet.

Uni Soviet mengalami bencana kelaparan yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Sebagai sebuah bencana yang akbar, media dan para jurnalis tentu tak mau kehilangan momen untuk meliput. Hanya saja, reportase atau liputan-liputan yang berkembang saat itu hanya menyajikan gambaran umum terkait bencana.

Berbeda dengan itu, Asad mencoba untuk mengambil potret yang lebih eksklusif. Yakni mewawancarai Maxim Gorky, istri seorang kepala daerah di tempat bencana. Hasil wawancara itu kemudian ia kirimkan ke media massa. Tanpa banyak pertimbangan, hasil wawancara Asad itu segera lolos, diterbitkan dan kemudian tersebar secara luas.

Inilah titik awal Asad menjadi jurnalis. Wawancaranya yang ekslusif terkait bencana kelaparan yang melanda Uni Soviet ternyata mempunyai nilai jual yang tinggi dan kelak mengantarkannya pada panggilan menjadi jurnalis di berbagai media. Di antara media yang pernah menjadi tempat Asad bekerja adalah United Telegraph, Frankfurter Zeitung, Neuen Zurrher Zeitung, De Telegraaf dan Kolnische Zeitung.

Karimah Hamzah

Jika nama-nama sebelumnya adalah laki-laki, maka nama yang disebut terakhir ini merupakan perempuan. Ia adalah Karimah Hamzah, wartawan atau jurnalis kondang berkebangsaan Mesir. Karya tafsir yang disusunnya berjudul Al-Lu’lu wa Al-Marjan fi Tafsir Al-Quran. Memiliki tebal sebanyak tiga jilid.

Karimah Hamzah lahir dari pasangan Umm Darman dan ‘Abd al-Latif Hamzah. Ayahnya merupakan seorang profesor di bidang jurnalistik. Barang kali, hal inilah yang sedikit banyaknya mendorong, memengaruhi dan menginspirasi Karimah untuk berkarir di dunia jurnalis.

Perempuan Penyiar Program Keagamaan

Karir Karimah dalam jurnalistik cukup gemilang dan mentereng. Ia menjadi salah satu jurnalis yang paling terkenal di Mesir, khususnya karena statusnya sebagai perempuan berhijab. Dalam satu siaran televisi, ia pernah mengatakan: tidak ada seorang penyiar pertama yang menyajikan program keagamaan kecuali saya.

Baca Juga  Masjid sebagai Pusat Gerakan Islam

Di antara petinggi-petinggi al-Azhar yang pernah menjadi tamu pada programnya adalah Prof. Dr. Abdul Halim Mahmud dan Prof. Dr. Muhammad Al-Ghazali. Bahkan ia pernah memiliki siaran khusus yang menyiarkan tentang tafsir yang salah satu narasumbernya Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi.

Atas kiprahnya itu, Karimah bersama dengan sahabatnya Fauqiyah Sherbini memperoleh penghargaan dari Universitas Al-Azhar. Penghargaan itu diberikan oleh Al-Azhar karena kontribusi mereka yang dinilai besar dalam mempromosikan tafsir al-Quran.

Itulah beberapa nama ulama tafsir yang pernah melakoni pekerjaan sebagai jurnalis. Jika ada yang lewat dan belum disebutkan, saya berharap pembaca berkenan untuk menambahkannya.

Alumni Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Jakarta, Mahasiswa Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta dan Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKU-MI), Bendahara Umum DPD IMM DKI Jakarta 2024-2026.