Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tasawuf Dalam Pandangan Muhammadiyah

muhammadiyyah tasawuf
Sumber: https://www.intiruh.com

Tasawuf merupakan salah satu cabang dari Ilmu Ushuluddin. Dalam ilmu Islam terdapat tiga ilmu pokok yang harus diketahui oleh umat Islam. Yaitu Ilmu Tauhid/Aqidah, Ilmu Fiqih, dan Ilmu Tasawuf. Tulisan ini akan menguraikan dengan singkat sejarah tasawuf dan pandangan Muhammadiyyah terhadapnya.

Dalam sejarahnya Ilmu tasawuf muncul sesudah masa Nabi Muhammad wafat. Namun, masih banyak pendapat lain terkait kapan munculnya ilmu tasawuf ini. Ilmu tasawuf belum muncul saat Nabi Muhammad masih hidup dan Tasawuf ini baru muncul ketika generasi sahabat dan tabi’in. Hal ini dikarenakan pada masa Nabi masih hidup perilaku umat kala itu masih stabil. Para sahabat kala itu masih dapat mempertanyakan persoalan mereka langsung kepada Nabi. Tasawuf kala itu sebagai sebuah aksi melawan kehidupan yang materialis belum didapati dan istilah Tasawuf kala itu belum ada. Nabi dan para sahabat pada hakekatnya adalah orang-orang yang dekat dengan Allah dan tidak pernah terpedaya oleh gemerlap dunia.

Setelah Islam berkembang dan meluas kehidupan zamanpun berkembang banyak orang lupa akan akherat terpedaya dengan kehidupan hedomisme. Di abad 2 Hijriyah munculah Ilmu Tasawuf sebagai suatu gerakan untuk mengingatkan manusia akan hakekat hidup mereka. Hal ini selaras dengan visi Rasulullah diutus kedunia tidak lain untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dan Tasawuf ini awal mulanya berkembang sebagai sarana untuk menyucikan jiwa.

Definisi Tasawuf

Banyak ulama mendefinisikan Tasawuf sebagai akhlak, baik akhlak kepada sesame manusia, akhlak kepada alam sekitar, dan akhlak kepada diri sendiri. Dalam dunia Islam kemudian Tasawuf ini terbentuk menjadi sebuah aliran dan mazhab yang akhirnya muncul thariqah. Setiap aliran memiliki Mursyid, Murid, dan amalan-amalan tertentu. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan spiritualitas ibadah kepada Allah.

Baca Juga  Muhammadiyah dan Tawaran Tasawuf Berkemajuan

Dalam dunia Tasawuf banyak berkembang aliran, seperti aliran Tasawuf falsafi. Aliran tasawuf ini merupakan penggabungan visi mistis dengan rasionalitas, aliran ini diikuti oleh tokoh Al-Hallaj, Ibnu Arabi. Kemudian tasawuf akhlaki. Aliran ini berfokus pada keshalehan perilaku akhlak atau bisa dikatakan tasawuf ini menekankan pada segi moralitas aliran tasawuf ini diikuti oleh Imam Ghazali, Hasan al-Bashri. Dan yang terakhir adalah tasawuf amali, tasawuf amali berakar dari ilmu yang diyakini harus diamalkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kaidah yang dibangun di dalamnya adalah ilmu amaliah dan amal ilmiah laku tasawuf ini diiringi dengan amalan lahiriyah dan bathiniyah.

Di luar itu ada juga tasawuf yang menyimpang seperti keterangan Syaikh Junaid al-Baghdadi. Tasawuf menyimpang ini merupakan tasawuf yang perilakunya jauh dari tuntunan ajaran Islam. Syaikh Junaid al-Baghdadi selalu mengingatkan bahwa thariqah beliau adalah thariqah yang mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah apabila tidak berpegang pada keduanya maka itu tidak termasuk thariqah yang benar. Maka kita sering mendegar istilah thariqah mu’tabarah thariqah ini meruapakan thariqah yang diakui dan sejalan aqidah Ahlusunnah wal Jama’ah dan memiliki sanad yang bersambung hingga ke Rasulullah.

Tasawuf dan Muhammadiyyah

Lalu bagaimana sikap Muhammadiyah terhadap tasawuf? Dalam risalah Islam berkemajuan Muhammadiyah tidak mengikatkan diri pada satu mazhab tertentu namun Muhammadiyah tidak anti terhadap tasawuf. Tasawuf dalam pandangan Muhammadiyah adalah paham tasawuf berkemajuan yaitu tasawuf akhlaki (moral), ihsani (etika), dan ijtima’i (sosial). Hal ini menunjukan bahwa seorang muslim tidak harus mengikatkan diri pada thariqah sufi tertentu. Namun, perilaku tasawuf Muhammadiyyah ini direpresentasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan bentuk keshalehan sosial tidak terbatas pada ritual ibadah saja.

Baca Juga  Pandangan Teoritis Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zaid

Di Muhammadiyah sering diistilahkan dengan Ihsan, yaitu kita berakhlak,beretika sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah SWT. Meski tidak melaui jalur thariqah hal ini seperti yang dikembangkan oleh para tokoh-tokoh pendahulu di Muhammadiyah seperti KH.Ahmad Dahlan,Buya Hamka, KH. AR. Fakhruddin yaitu tasawuf yang sifatnya praktis. Jadi dalam kita hidup tidak hanya sekedar mementingkan keshalehan individu saja melainkan harus memiliki kepedulian terhadap sesama.

Penyunting: Ahmed Zaranggi