Sudah sekian lama di Indonesia mengalami banyak polemik dalam beragama. Indonesia digadang-gadangkan dengan moderasi beragama untuk kesatuan umat apakah hanya analisis wacana saja? Apa lagi yang sedang marak terjadi seorang agamawan yang membawa atas nama “Tuhan” dan “Agama” yang hanya untuk tujuan pribadi. Seperti misalnya kasus predator seksual yang berada di pesantren, daerah Jombang. Ia mengatasnamakan Tuhan sebagai objek afirmasi dalam tindakannya. Kemudian juga mengatasnamakan Tuhan sebagai petunjuk bahwa ajarannya yang paling benar. Atau lebih parah mengatasnamakan ajaran Islam untuk melakukan kegiatan terorisme atau radikalisme. Tulisan ini akan mengkaji pemikiran Soroush dan realitas tersebut.
Banyaknya dogma dan doktrinasi akan hal tersebut merupakan bukti degradasi pengetahuan tentang keislaman. Apa lagi dalam bidang tafsir yang sekedar tekstual tanpa pemaknaan yang dalam. Seorang agamawan seharusnya sebagai cerminan kedalaman ilmu dan akhlak, bukan sebagai orientasi untuk hal keduniawian saja. Maka dari itu, pentingnya kita mengkaji tafsir atau refleksi semantik yang digagas oleh Abdul Karim Soroush; dengan tema tentang pengetahuan agama dan keagamaan.
Abdul Karim Soroush seorang Revivalis Islam Reflektif
Nama beliau adalah Hossein Haj Faraj Dabbagh. Ia berasal dari Iran, lahir tahun 1945 M dan seorang pemikir dan penggiat filsafat. Studinya kepada Murthada Muththahhari membuatnya ia gemar mengkaji sesuatu hal yang berbau falsafi. Namun, tidak mengurangi rasa kecintaan beliau akan ilmu keislaman, seperti fiqh,tafsir, tasawuf dan ilmu keislaman lainya. Kecintaan beliau akan filsafat dan ilmu islam, menaruh pemikiranya kepada hubungan mutualisme Islam dan Filsafat.
Karyanya berupa karya ilmiah yang ditulis dalam bahasa inggris pada tahun 1977, seperti What is Science? What Is Philosophy? Philosophy of History dan beberapa buku untuk mata kuliah serta juga yang berbahasa Arab yang memfokuskan tentang basis dalam memahami agama. Al-Qabdh wa al-basith fi asy- Syaria’ah,yang dalam dunia epistemology dikenal teori penyusutan dan pengembangan. Makanya ia dijuluki seorang revivalis Islam reflektif, atas keresahan tentang modernisasi dan sekularisasi. Namun, ia tidak menentang justru mengembangkan prinsip-prinsip dalam beragama.
Dua Prinsip: Pembedaan dan Keterhubungan.
Dalam teorinya ia menyatakan dengan ekplisit bahwa pengetahuan agama dan keagaamaan adalah dua hal yang berbeda tetapi saling berhubungan. Pengetahuan Agama merupakan sakralitas yang Ilmu murni (pure science) dari sang Adikodrati atau mudahnya ini adalah pengetahuan Ilahi. Yang merupakan sekumpulan rukun- rukun, ushul- ushul, dan furu’- furu’ yang diturunkan oleh Allah Swt. Dalam firman Allah Swt Al- Maidah ayat 3 dijelaskan,
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍۙ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu. dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barangsiapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Ayat tersebut menjelaskan dengan tegas bahwa Allah telah memurnikan Pengetahuan-Nya untuk manusia sebagai bentuk ridha Islam. Pengetahuan agama yang sakral dan murni dan bersifat absolut, autentik, universal tidak mengalami perubahan atau wahyu dan risalah yang digenapkan untuk manusia itu sendiri.
شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَاوَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَاوَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلاَتَتَفَرَّقُوا فِيهِ
Artinya: “Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh. Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa. Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya…. ” (QS. Asy Syura:13)
Pengetahuan Keagamaan
Kemudian Pengetahuan Keagamaan. Dalil di atas merupakan petunjuk bagi manusia bahwa pengetahuan keagamaan orisinal adalah yang diajarkan nabi-nabi dan rasul; yang mengajarkan ajaran yang sama yakni menyembah kepada Allah Swt, Tuhan Yang Maha Esa. Pengetahuan tersebut masuk ke zaman para tabiin yang menjadikan pengetahuan tersebut bersifat manusiawi. Yakni pengetahuan yang berasal dari tafsir manusia itu sendiri yang kemudian menghasilkan ilmu baru atau yang mengalami gerak dinamis. Seperti ilmu fiqh, kalam, nahwu, tasawuf, dan ilmu keislaman lainya. Yang biasanya lahir atas usaha ulama dengan Hadits, ijma’, Qiyas atau pengalaman subyektif.
Hubungan keduanya memang sangat positif karena saling berkaitan tidak ada kontradiksi di dalamnya. Oleh karena itu, pengetahuan agama menyediakan solusi atas permasalahan, permasalahan yang datang dari manusia itu sendiri. Untuk usaha manusia mendekatkan kepada Tuhan dengan cara yang baik. Pengetahuan agama dalam pandangan Soroush selalu berada dalam posisi menyesuaikan dan membutuhkan ilmu pengetahuan non agama. Dan tetapi dari keduanya pengetahuan keagamaan selalu bercampur dengan pengetahuan lainya atau antara satu pengetahuan terlibat pengetahuan lainya. Maka munculah saling mengkritik, saling menyalahkan, atau saling mendukung.
Urgensi Dua Prinsip Soroush
Seseorang yang sudah mengetahui hal tersebut seharusnya lebih bersikap bijak dan penuh kehati- hatian untuk menafsirkan pengetahuan agama. Dan memakai pengetahuan keagamaan yang mana. Seandainya umat islam menyadari bahwa pengetahuan keagamaan merupakan kebenaran relatif dan dinamis, belum tentu benar. Al-Quran turun ke dunia untuk memudahkan manusia untuk saling memahami lainya, bukan bersifat keagamaan eksklusif, yang selalu menganggap madzhab atau thariqahnya yang paling benar.
Dari itulah muncul konflik diantara mereka. Meninggalnya penafsir otoritas pertama (Nabi & Rasul) membuat manusia bertengkar sesuai ideologinya. Tetapi integrasi dari semua itu bahwa Agama, atau Islam itu sendiri hal yang sangat sakral dan menanggung beban moral, hukuman di akhirat nanti. Maka berhati- hatilah jika ingin menyampaikan suatu pengetahuan agama. Sebaiknya langsung saja jika menyampaikan pendapat tafsir, karena kebenaran itu relative. Dan kebenaran mutlak hanya milik Allah Swt, Maka sikap toleransi adalah kunci dalam beragama itu sendiri, semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan kalian.
Penyunting: Ahmed Zaranggi

























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.