Persoalan teologis di Indonesia merupakan salah satu isu sensitif yang sering diperbincangkan. Sebagai dampak dari Keragaman agama-agama yang diakui di Indonesia, membuat warganya mesti hidup berdampingan di tengah perbedaan. Apalagi di era terbukanya ruang media sosial saat ini, mengindikasikan kecenderungan “mengeras” (radikal, ekstrem) dalam beragama semakin mencuat. Permasalahan yang terkadang masih sering dijumpai adalah mengkafirkan kelompok lain (takfiri). Penyematan kafir kepada non-muslim sering dilempar denganrasa kebencian karena berbeda keyakinan.
Muhammadiyah memandang isu takfiri ini menjadi salah satu isu strategis di agenda gerakan Abad ke-2, karena hal ini dapat memicu pada konflik kerukunan antarumat beragama semakin merenggang. Orang-orang non-Muslim terkadang juga mendapatkan perlakuan diskriminatif oleh mayoritas umat Islam yang berpaham ekstrem.
Kita ambil satu kasus ketika kontroversi lambang salib di logo HUT RI Ke-75. Bintang komika ernest merasa tersinggung dan kecewa atas tuduhan tersebut, karena umat Kristiani seperti “dikambing hitamkan” sebagai bentuk aksi Kristenisasi di Indonesia. Padahal sikap tersebut seharusnya tidak boleh menjadi pendiskriminasi terhadap kelompok agama lain, dengan dalih yang kurang rasional untuk dipertanggung jawabkan.
Memaknai Kafir dalam Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah
Kata Kafir disebutkan Al-Qur’an sebanyak 525 kali. Kafir yang disebutkan sebanyak itu menunjukan istilah kafir sangat penting karena sering dibicarakan dalam al-Qur’an. Akan tetapi, justru sekarang kata ini malah digunakan menyerang agama lain termasuk ke sesama Muslim sendiri.
Salah satu ayat yang Muhammadiyah terhadap term kafir dalam Tafsir At-Tanwir adalah pada surah Al-Baqarah ayat ke-6. Kata ka-fa-ra bisa diartikan secara bahasa berati menutup. Ustadz Abdul Somad membahasakan kafir seperti cover buku yang menutupi isinya. Karena orang-orang kafir menutup karena mereka menolak keras untuk beriman dengan ajaran Islam yang dibawa Rasulullah SAW.
Orang kafir bersifat menutup karena pendengaran, penghilatan dan hati mereka untuk menerima hidayah iman dari Allah Swt. Pendengaran, penglihatan dan hati yang dimaksud adalah benda abstrak karena mereka menolak kebenaran. Sebagai akibatnya, Allah Swt menyegel semua perangkat komunikasi (penglihatan, pendengaran, dan hati) menjadi tidak berfungsi karena sikap mereka yang tertutup. Tindakan menyegel yang mereka lakukan adalah implikasi sikap yang sengaja menolak masukan.
Muslim Berlabel Kafir
Kata kafir yang dijelaskan dalam Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah, sebenarnya tidak hanya di tujukan kepada non-Muslim. Bahkan, penyematan kafir kepada seseorang sesungguhnya tidak harus selalu ditujukan dalam lingkup agama non-Muslim saja. Tetapi sekalipun ia orang Muslim bisa dianggap kafir disebabkan karena mempunyai sifat yang tertutup dan eksklusif. Sebagaimana yang dikutip dalam Tafsir At-Tanwir:
“Dari pemahaman ini kita dapat menangkap isyarat bahwa orang kafir dalam arti yang luas tidak harus berbaju agama atau keyakinan, tetapi siapa saja yang punya sikap tertutup dan tidak peduli terhadap pihak lain yang berbeda pandangan. Orang atau kelompok yang merasa pihaknya saja yang benar dan yang lain salah, termasuk kufur dalam pengertian ini”
Label kufur yang sering disematkan kepada non-Muslim, ternyata orang Muslim pun dapat masuk dalam pelabelan kafir. Contohnya ketika orang Islam yang tidak peduli dengan kebenaran yang dibawa oleh sesama muslim lain, dan sebaliknya ia hanya memaksakan bahwa pandangan diri dan kelompoknya saja yang paling benar dan yang lain salah, bisa masuk kateogori dalam label sifat kafir ini.
Kekufuran yang dijelaskan Tafsir At-Tanwir menurut penulis, tetapi bukanlah kekufuran yang bertentangan dengan keimanan yang dapat mengeluarkan seseorang murtad dari agama Islam. Melainkan, kufur perbuatan yang tidak bertolak belakang dengan iman. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa kufur perbuatan tidak dapat mengeluarkan seseorang murtad dari agama Islam, karena status kafirnya.
Titik Temu Humanisme Universal
Orang kafir bersikap tidak mau menerima nasehat karena mereka memandang hal tersebut dengan sikap sombong atau angkuh. Sifat tersebut yang dimiliki orang kafir membuat dirinya terjerembab pada ekslusifitas karena merasa bangga dengan dirinya, merasa hebat bahkan merendahkan orang lain disekitarnya.
Hal inilah yang menyebabkan mereka menjadi kafir dengan sifat ini, sangat egois, berpandangan sempit, sehingga sukar menerima pandangan di sekitarnya. Rasyid Rihda mengatakan bahwa sifat kesombongan dan keangkuhan menghalangi seseorang untuk berfikir secara jernih guna memperoleh kebenaran dan hidayah. B
Sifat tertutup yang dimiliki orang kafir, walaupun bukan konteks teologis tetap merugikan orang banyak. Apalagi di Indonesia yang menjunjung tinggi budaya toleransi. Prof. Abdul Mustaqim menyebut, persoalan kafir di Indonesia seharusnya dibawa ke dalam konteks etika sosial beragama agar lebih humanis. Pancasila di Indonesia sebagai darul ahdi wa syahadah menjadi simbol kebhinekaan dalam keberagamaan yang rukun dan harmonis, tanpa rasa benci dan pertikaian.
Tindakan penggelapan uang (korupsi), konflik antar agama, komunikasi yang tidak sehat, permusuhan dan sebagainya itu disebabkan karena sifat tertutup dan enggan mau bersikap terbuka. Sekarang kita berada dalam era keterbukaan dan transparansi. Semua pihak, antara pemimpin dengan yang dipimpin, antara sesama orang yang sedang bekerjasama, dituntut bersikap terbuka.
Semangat beragama yang moderat perlu diterapkan oleh umat Islam sebagai umat wasthiyah (tengahan), dan menjadi contoh yang baik dari umat-umat yang lain. Prof. Azyumardi Azra menekankan kepada penganut agama Islam untuk mengembangkan common platform/ kalimatun sawa’ (titik temu). Dengan pengembangan titik temu yang tentu bukan aspek teologi, tetapi bertolak pada ajaran etis dan moral humanisme universal. Sehingga dari titik temu tersebut, dapat menciptakan kehidupan bersama yang toleran, saling menghargai dan saling mempercayai. Dengan dakwah yang bersikap inklusif (terbuka dalam berbaga ipandangan) dan tidak ekslusif (tertutup, radikal, ekstrem), akan membendung kelompok-kelompok takfiri.




























Leave a Reply