Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Al-Maun Ayat 4: Mereka yang Celaka dalam Shalat

Celaka
Gambar: https://www.dream.co.id/

Shalat merupakan rukun Islam kedua setelah syahadat. Salah satu kewajiban bagi umat Islam yang sangat spesial karena perintah tersebut diterima nabi secara langsung di sidratul muntaha. Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa shalat merupakan zikir yang paling utama (Taha 20:14). Namun, dalam pelaksanaannya shalat merupakan sesuatu yang berat kecuali bagi mereka yang khusyuk (al-Baqarah 2:45). Sehingga Al-Qur’an memberi kabar bahwa akan ada golongan yang celaka dalam shalatnya kelak.

Di zaman yang semakin morat-marit ini, orang yang rajin shalat (shalat tepat pada waktunya) dianggap pribadi yang alim. Ini merupakan sebuah kekeliruan karena shalat merupakan kewajiban bagi seluruh hamba mukallaf yang waktunya sudah ditentukan (al-Nisa 4:103]. Tidak boleh ditunda (kecuali ada uzur syar’i) apalagi jika ditinggalkan dengan sengaja. Allah berfirman dalam surah al-Ma’un [107]:4-6:

Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat. (Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya.

Surah Al-Ma’un ayat kelima dan keenam menjelaskan kriteria golongan yang celaka dalam  shalatnya. Secara tidak langsung Allah ingin memberi tahu kita bahwa, orang yang mengerjakan shalat saja masih berpotensi celaka. Lalu bagaimana dengan orang yang meninggalkan shalat tanpa uzur syar’i apalagi dengan sengaja?

Pendapat Mufasir tentang Mereka yang Celaka dalam Shalat

Menurut Imam al-Sa’di dalam tafsirnya, terdapat tiga kriteria yang dimaksud dalam ayat tersebut. Pertama, mereka yang mensia-siakan waktu shalat dan shalatnya sendiri. Golongan yang terbiasa tidak mempedulikan panggilan-Nya (azan). Kemudian menunda waktunya hingga akhir masanya habis. Kedua, mereka yang meninggalkan (menunda waktu) shalat.

Ketiga, mereka yang tidak menyempurnakan rukun-rukun dalam shalatnya. Kemudian beliau menambahkan hal tersebut disebabkan karena tidak adanya perhatian mereka akan perintah Allah. Padahal shalat merupakan bentuk ketaatan yang paling penting dan bentuk kedekatan yang paling utama.

Baca Juga  Sejarah Pengumpulan Al-Qur'an Menurut Richard Bell

Imam Jalaluddin al-Mahalli juga menjelaskan bahwa golongan yang dimaksud celaka dalam shalatnya yaitu mereka yang lalai dan suka menunda atau melaksanakan shalat di akhir waktu. Perbuatan ini sangat tercela tetapi boleh dilakukan jika ada uzur syar’i.

Perlu diketahui bahwa, Al-Qur’an menggunakan redaksi yang berbeda ketika menyebutkan antara golongan yang celaka dengan golongan yang sukses dalam shalatnya. Hal tersebut dijelaskan Quraish Shihab dalam bukunya “Membumikan Al Qur’an” yaitu Al-Qur’an tidak menyebut pelaku shalat kecuali dua:

Pertama, Al-Qur’an menyebut shalat dengan يصلون  yang artinya “melaksanakan shalat” atau kata yang seakar denganya untuk golongan yang lalai (celaka) atau sekadar melaksanakan shalat. Namun tidak dengan penyempurnaan rukun-rukun shalat dan tidak mengetahui hakikatnya. Termasuk di dalamnya mereka yang selalu menunda shalat dan melaksanakannya di akhir waktu tanpa adanya uzur syar’i.

Kedua, Al-Qur’an menggunakan redaksi يقيمون  yang artinya “mendirikan shalat” atau kata yang seakar denganya ketika menyebutkan golongan yang sukses atau tidak celaka dalam shalatnya. Kata tersebut mengandung makna yang lebih lengkap yaitu melakukan sesuatu secara kontinyu dan dengan sempurna sesuai dengan rukun, syarat, dan sunnahnya.

Tips Shalat Khusyuk

Kemudian baginda Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita salah satu do’a agar shalat menjadi lebih khusyuk, berikut do’anya:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Artinya: “Ya Allah, tolonglah aku untuk berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR Abu Dawud, an-Nasa’i, Ahmad, dan al-Hakim).

Selain itu, beliau  juga banyak menjelaskan tentang tips dan rahasia shalat agar khusyuk. Dari khusyuk ini kita bisa terlepas dari golongan tersebut. Berikut tips dan rahasia agar shalat menjadi lebih khusyuk:

Baca Juga  Semiotika Barthes: Telaah Kata Rasul dalam Q.S An-Nisa Ayat 80

 Menyempurnakan wudhu, shalat di awal waktu, membuat pembatas atau sudah, meninggalkan kesibukan dunia, menganggap shalat terakhir, tidak tergesa-gesa atau tuma’ninah

Menyinggung tentang khusyuk dalam shalat, bahkan sekelas sahabat nabi saja mengakui berat untuk bisa khusyuk. Beberapa ulama’ juga mengklaim bahwa khusyuk merupakan fadhal atau karunia Allah yang tidak diberikan kepada semua hamba-Nya. Namun, sebagai hamba yang cerdas kita berikhtiar semaksimal mungkin agar dapat khusyuk. Kemudian dari khusyuk tersebut kita bisa menjadi golongan yang sukses dalam shalat sehingga terhindar dari golongan yang celaka akan shalatnya.

Penyunting: Bukhari