Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Sujud: Antara Ketundukan dan Kesyirikan Terhadap Allah

Sujud
Gambar: wahidfoundation.org

Allah Swt. mengutus Nabi Muhammad Saw. di kala manusia bertindak dengan tanpa petunjuk dikarenakan ketidaktahuan mereka. Dengan itu, Nabi membuka pintu-pintu ilmu bagi mereka dengan mengenalkan Allah Swt, nama-nama dan sifat yang dimiliki-Nya. Pintu-pintu memperkenalkan makhluk dari permulaan hingga sampai kesudahan, mengenalkan adanya hari perhitungan dan pembalasan.

Pengutusan Nabi Muhammad

Melalui kerasulan Muhammad Allah Swt. membuka pintu-pintu ilmu tata cara beribadah kepada Allah dan perjalanan menuju ridho-Nya. Pintu-pintu ilmu pengetahuan kehidupan dunia di berbagai kawasan untuk meraih rizki dengan jalan yang halal.

Oleh karena itu, apapun yang dibutuhkan oleh manusia untuk mengetahui segala urusan, baik urusan dunia maupun urusan akhirat, telah dijelaskan dan diterangkan secara lengkap nan sempurna oleh Allah Swt. Melalui rasul Muhammad Saw. Agar mereka berjalan di jalan yang terang benderang, sejuk lagi damai, seakan-akan tidak ada bedanya antara siang dan malam.

Nabi Muhammad Saw. juga diutus Allah Swt. di saat manusia tenggelam dalam kemusyrikan yang sangat melekat pada masa itu. Kemusyrikan yang dilakukan mereka di antaranya, menyembah patung, ada yang menyembah nabi Isa Al-Masih, menyembah pohon-pohon besar dan ada yang menyembah batu-batu. Sehingga ada seorang di antara mereka, ketika berpergian dan singgah di suatu tempat, ia mengambil empat biji batu. Tiga di antaranya dilatakan di bawah periuk, dan yang keempat ia angkat sebagai Tuhan, lalu disembahnya.

Dengan rasa sayang-Nya, Allah SWT. menyelamatkan mereka dengan mengutus beliau Muhammad Saw. dan mengangkat dari jurang dalam yang menghancurkan dan dari kebodohan yang keterlaluan. Yaitu dengan; perombakan ibadah, dari menyembah berhala menjadi menyembah Allah Azza wa Jalla.

Tauhid dan Syirik

“Seorang hamba akan bertulus hati mengerjakan sesuatu karena Allah dalam niatnya atau tujuannya. Maksudnya, bertulus hati karena Allah dalam cintanya, bertulus hati karena Allah dalam mengagumkan-Nya. Serta bertulus hati karena Allah dalam lahir dan batinnya.” Begitulah pemahaman singkat penulis tentang ketauhidan yang dimaksud dalam tulisan ini.

Baca Juga  Bersyukur: Jangan Pernah Lupakan Allah Kala Bahagia

 “Sesungguhnya sembayangku, ibadah dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada-Nya).” (QS. Al-An’aam: 162-163).

Dengan membenarkan tauhid, keikhlasan dan kemurnian akan terjaga dari segala campuran dan dari setiap jalan yang mungkin bisa meretakkan ke-tauhid-an seseorang. Tidak pantaslah seorang hamba melakukan suatu ibadah tanpa mengharap ridho Allah Swt. semata

Pernah suatu ketika Nabi Saw. kedatangan seseorang, lalu berkata; “Apa yang dikehendaki Allah, juga tuan kehendaki”. Lalu Nabi Saw. berkata kepadanya; “Apakah kamu menjadikan aku sepadan dengan Allah? Bahkan semuanya dikehendaki oleh Allah SWT. sendiri”.

Dari sini, terlihat Nabi Saw. tidak menyukai omongan orang ini. Karena ia menghubungkan kehendak Nabi sama dengan kehendak Allah. Ia menggunakan kata yang menunjukan kesamaan di antara keduanya. Menjadikan kesepadanan dengan Allah (walaupun sekelas Rasul) menjadi sebuah kesyirikan.

Sujud: Antara Ketundukan dan Kesyirikan

Bukan hanya itu, bahkan perkara sekelas sujud saja dapat menimbulkan perkara kesyirikan. Islam memberikan petunjuk yang jelas tentang sujud yang dimaksud. Diriwayatkan dari sebuah hadis bahwa sahabat Mu’adz bin Jabal datang di negeri Syam. Di sana beliau melihat penduduk Syam bersujud kepada pemimpin-pemimpin mereka. Hal itu terjadi sebelum diperlakukan salam.

Ketika Mu’adz kembali, dengan serta merta beliau sujud di hadapan Rasulullah Saw. dan Rasulullah berkata; “Apa-apaan ini wahai Mu’adz?”. Mu’adz menjawab, “Saya melihat mereka (penduduk Syam) sujud di hadapan pemimpin mereka. Sedangkan tuan lebih berhak daripada pemimpin-pemimpin mereka untuk disujudi”. Rasulullah Saw. bersabda; “Andaikata aku perintahkan kepada seseorang untuk sujud kepada orang lain, pasti aku perintahkan wanita sujud suaminya. Karena besarnya tanggung jawab suami kepada istrinya.”

Baca Juga  Bertakwa dan Jadilah Manusia Mulia

Rasulullah Saw. mencegah melakukan membungkuk (sujud) ketika memberikan salam atau menghormati orang lain dengan niatan ketundukan yang tidak pantas kecuali kepada Allah SWT. Dia Maha Suci lagi Maha Esa, dan kepada-Nya lah berlutut dan bersujud.

Sungguh, Rasulullah Saw. telah menutup semua sarana dan prasarana kesyirikan. Beliau tidak memberikan di dalam rumah ada gambar sesuatu yang dipuja selain Allah atau diagungkan layaknya orang mengagungkan dalam ibadah.

Penyunting: M. Bukhari Muslim