Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan Allah Swt melalui Nabi Muhammad saw untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Untuk mengetahui nilai petunjuk kalamullah tersebut, kiranya perlu dilakukan usaha penelitian dan pengkajian terhadapnya. Kitab suci yang lebih dikenal dengan nama al-Furqan diturunkan Allah Swt dalam bentuk yang lengkap dan sempurna. Karena, al-Qur’an adalah kitab terakhir yang berfungsi sebagai pelengkap dan penyempurna kitab-kitab sebelumnya.
Di samping itu, kalamullah juga memberikan dasar-dasar aturan, yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya, hubungan dengan sesama manusia. Serta mengatur kepentingan mereka secara umum. Perbincangan tentang Tuhan adalah perbincangan yang sulit, demikian kata Karen Armstrong.
Namun, kaum monoteis bersikap positif tentang bahasa sambil tetap menyangkal kapasitasnya untuk mengekspresikan realitas transenden. Tidak sedikit dari kaum monoteis yang mencoba mencari tahu tentang Tuhannya. Bagaimana dapat mengenal (mencintai) dan dikenal (dicintai) oleh Tuhan. Manusia yang demikian dalam al-Qur’an disebut dengan rabbani.
Definisi Rabbani dan Cakupan Maknanya
Kata rabbani asalnya dari kata “rabb” memiliki arti yang musytarak yakni makna memiliki (al-Malik), tuan (as-Sayyidu), memperbaharui keadaan yang buruk, mengurus/memimpin dan mengatur”. Rabbani ialah orang yang dianggap sempurna ilmu dan ketakwaannya kepada Allah SWT. Sebutan kata ini biasa diperuntukan bagi orang-orang yang pintar dari kalangan para pendeta Yahudi yang mendalami kitab taurat.
Dalam sisi lainnya rabbani juga berarti ketuhanan. Menurut Ibnu Abbas, rabbani yang berasal dari kata rabbi yang berimbuhan alif dan nun yang menunjukkan makna mubalaghah. Sebagian ulama juga berpendapat bahwa lafaz rabbani memiliki makna tokoh ilmuan yang mendidik dan memperaiki kondisi sosialnya.
Dan juga ada yang berpendapat kata tersebut bermakna yang ahli dan mengamalkan agama sesuai yang diketahuinya. Maka dengan demikian kata tersebut identik dengan al-alim al-hakim, yang memiliki pengertian orang yang sempurna iman dan ketaqwaan.
Sebagai dasar pembahasan konsep rabbani dalam al-Qur’an surat Ali Imran ayat 79, maka pada bagian ini terlebih dahulu akan dibahas berbagai aspek yang berhubungan dengan seluk beluk ayat tersebut. Dalam hal ini akan dijabarkan pembahasan lafal dan terjemahannya, asbab an-nuzul, dan penafsiran para ulama. Teks lafal dan terjemah QS. Ali Imran: 79 adalah sebagai berikut :
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
“Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitab, hikmah dan kenabian. Lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al- Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. (Q.S.Ali Imran/3:79).
Tafsir QS. Ali Imran Ayat 79
Sementara itu, sebab-sebab diturunkannya (asbab al-nuzul) ayat di atas adalah: “Dalam suatu riwayat yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari al- Baihaqi yang bersumber dari Abbas dikemukakan, ketika pendeta kaum Yahudi dan kaum Nashrani Najran berkumpul di hadapan Rasulullah saw., dan diajak masuk Islam, berkatalah Abu Rafi’: “Ma’adzallah (Aku berlindung kepada Allah dari itu)”.
Maka Allah menurunkan ayat tersebut, sebagai sanggahan bahwa tiada seorang Nabi pun yang mengajak kepada umatnya sendiri untuk menyembah dirinya sendiri. Dalam riwayat lain yang disebutkan oleh Abdul Razaq yang bersumber dari al-Hasan mengemukakan bahwa seorang laki-laki menghadap Rasulullah saw., dan berkata:
“Wahai Rasulullah, apakah mengucapkan salam kepada tuan sebagaimana memberi salam kepada teman kami, apakah tidak perlu sujud kepada tuan?. Nabi menjawab: ”Jangan, cukup kamu menghormati Nabimu dan memberitahukan yang hak kepada yang layak kau beritahu. Karena sesungguhnya tidak dibenarkan seorang bersujud kepada selain Allah”. Maka Allah menurunkan ayat tersebut sebagaimana penegasan atas ucapan Rasulullah.
Pendekatan Semantik dalam Kajian Al-Quran
Dalam kajian semantik, pendekatan semantik dalam menafsirkan al-Qur’an lebih nampak pada pemaknaan yang mereposisikan teks al-Qur’an pada tekstualitas dan kontekstualitasnya. Selanjutnya semantik sebagai bagian dalam ilmu kebahasaan memberikan daya tambah terhadap dimensi bahasa dan makna yang terkandung dalam al-Qur’an.
Toshihiko Izutsu, lebih jauh mengglobalkan pemaknaan al-Qur’an dalam dimensi makna dasar dan makna relasional. Analisa ini mempunyai kecenderungan pemaknaan yang sangat luas dari segala dimensi pembentukan ayat-ayat al-Qur’an. Satu sisi semantik memang memiliki daya teori yang mampu mengungkap makna teks yang lebih baik. Ini membuktikan bahwa antara semantik dan al-Qur’an sama-sama memiliki karakteristik penganalisaan.
Menurut Izutsu Tuhan (Allah) dalam al-Qur’an adalah satu-satunya wujud yang pantas disebut “wujud”, realitas di mana tidak satupun di seantero dunia ini yang dapat melawan-Nya. Secara semantik rabb (Tuhan) adalah kata fokus tertinggi dalam kosa-kata al-Qur’an, yang menguasai seluruh medan semantik, bahkan seluruh sistem. Kata Allah (rabb) ini di lawankan dengan kata “manusia “(‘abd atau rabbani).
Sebab, manusia, sifatnya, perbuatan, psikologi, kewajiban, dan tujuannya juga menjadi pusat perhatian pemikiran al-Qur’an. Dalam hal ini, bagaimana manusia bereaksi terhadap firman Tuhan menjadi persoalan yang utama. Reaksi manusia terhadap firman Tuhan sangat beragam. Manusia (al-insan) yang alim dan selalu taat kepada perintah Allah sebagai reaksi atas firman-Nya di dalam al-Qur’an di sebut dengan rabbani.
Rabbani: Relasi Komunikatif Tuhan dan Hamba
Dalam bahasa Arab maupun al-Qur’an istilah rabbani sama dengan rabbaniyyah, yakni masdar shina’i (masdar bentukan) yang dinisbatkan kepada rabb yang berarti Tuhan. Rabba berasal رب – يرب , yang berarti
نشاء الشيئ من حال الى حال الى حال الثمام
Mengembangkan sesuatu dari suatu keadaan pada keadaan lain, sampai kepada keadaan yang sempurna.
Huruf ya’ yang berada di belakangnya adalah ya’ nisbah, (ya’ untuk membangsakan). Artinya, penisbatan tersebut ditujukan kepada rabb atau Allah Swt. Yaitu orang yang alim dan selalu taat kepada perintah Allah, dan akan diangkat derajatnya yang setinggi-tingginya oleh Allah Swt.
Beranjak dari teorinya Izutsu, maka pembahasan di atas dengan jelas menunjukkan adanya relasi Tuhan-manusia. Pada akhirnya, relasi Tuhan-manusia di atas akan membentuk relasi lain, yakni relasi komunikatif antara Tuhan dan hamba. Sebab, makna rabbani adalah orang atau manusia yang alim dan selalu taat kepada perintah Allah. Ia akan menjadi teladan dalam hal ibadah yang berkaitan dengan Allah sebagai Tuhannya, baik itu yang dilakukan secara berjama’ah maupun individu.
Ibadah itu sendiri adalah salah satu bentuk relasi komunikasi antara manusia rabbani dengan Tuhannya (rabb). Komunikasi di sini dapat berbentuk komunikasi verbal seperti do’a dan komunikasi non-verbal seperti shalat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa manusia rabbani dengan segala sifat baik yang menempel padanya adalah manusia yang senantiasa dituntut untuk sadar melakukan komunikasi dengan baik kepada rabb-Nya.
Penyunting: Bukhari



























Leave a Reply