Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Rasm Imla’i: Tidak Jauh Berbeda Dengan Rasm Usmani

Imla'i
Sumber: http://quran-nusantara.blogspot.com

Dalam kajian ilmu rasm al-Qur’an, pelajar mungkin akan terbawa pada sebuah kesimpulan di mana rasm merupakan model penulisan yang ‘keluar’ dari pakem penulisan umum. Kesimpulan sementara ini bisa jadi benar melihat fakta banyaknya model penulisan rasm yang benar-benar ‘keluar’ dari pakem penulisan umum bahasa Arab. Namun benarkah demikian? Mari kita runut dari awal sejarah penulisan.

Aktifitas menulis telah mengambil bagian dari sejarah panjang perkembangan kebudayaan umat manusia. Dalam fase kebudayaan ini, ia menempati tahapan kedua setelah sebelumnya umat manusia menggunakan media lisan (oral) dalam proses interaksinya. Media lisan ini menghasilkan bunyi atau suara tertentu yang bisa jadi berbeda antara sekelompok manusia dengan kelompok yang lain. Suara yang dihasilkan ini lebih akrab kita sebut dengan istilah ‘bahasa’.

Merasa menemukan keterbatasan dalam bahasa lisan, umat manusia kemudian berusaha menciptakan media baru yang kemudian disebut dengan ‘menulis’. Menulis secara nyata memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh bahasa lisan. Ia dapat mengabadikan aneka ragam hasil kebudayaan manusia jauh melewati batas waktu dengan tetap menjaga kualitas rekamnya. Sehingga sebuah komunitas manusia dapat lebih menjaga eksistensinya melalui menulis ini.

Tulisan adalah produk dari aktifitas ini. Ia adalah kumpulan dari simbol-simbol bahasa. Ia berupaya melakukan transfer visualisasi suara yang tak kasat mata menjadi simbol yang terlihat jelas dengan mata. Maka dari itu, setiap simbol tulis yang dihasilkan sudah seharusnya mewakili suara bahasa yang ada, tidak boleh kurang atau lebih. Konsep kesesuaian ini lah yang kita akui sebagai acuan dasar dalam penulisan.

Keberbedaan dalam Bahasa dan Tulisan

Namun demikian, faktanya tidak semua bahasa lisan selalu mengalami kesesuaian dengan simbol tulisannya. Ghanim Qadduri al-Hamad dalam bukunya, Rasm al-Mushaf: Dirasah Lughawiyyah Tarikhiyyah, menyebutkan adanya fenomena keberbedaan dalam bahasa dan tulisan. Menurutnya fenomena keberbedaan itu tidak keluar dari tiga macam, yaitu simbol tulisan yang tidak diimbangi dengan suara, simbol tulisan yang tidak sesuai dengan suara yang dihasilkan, dan suara yang tidak ditemukan padanannya dalam simbol tulisan.

Baca Juga  Semantik dan Hermeneutik: Kajian tentang Makna

Fenomena keberbedaan ini, kata Ghanim, tidak hanya terjadi pada bahasa Arab saja. Kita dapat menemukan fenomena serupa dalam bahasa lain di berbagai belahan dunia, Inggris, misalnya. Bahasa yang menjadi lughat internasional ini kebetulan memiliki banyak kosa kata yang mewakili masing-masing fenomena keberbedaan yang ada. Kata write menjadi contoh fenomena pertama sekaligus kedua. Jika kita menyuarakan kata ini, simbol huruf w tidak akan kita jumpai dalam suara tersebut. Sebagaimana simbol huruf i memiliki kualitas suara yang berbeda ketika terbaca ai.

Berdasar pada asas keberbedaan ini, Al-Farmawy juga menyangsikan konsep kesesuaian yang ada antara suara bahasa dengan simbol tulisan. Maka dalam pembagian sistem penulisan bahasa Arab menjadi tiga macam: tulisan (baca: rasm) imla’i, tulisan ‘arudli, dan tulisan ‘usmani boleh jadi tidak berdasar pada konsepsi ini.

Antara Rasm Imla’i dan Usmani

Sementara itu, dalam kajian penulisan bahasa Arab, ‘usmani menjadi ‘tersangka’ utama keluarnya penulisan dari pakem umum. Ia banyak menyimpan anomali-anomali. Sedangkan imlai dipandang sebagai rasm yang benar karena ia merupakan representasi penulisan umum suara bahasa Arab. Padahal tidak demikian.

Dalam tulisan imla’i kita juga akan mendapat fenomena keberbedaan yang sama, sebagaimana terjadi dalam tulisan ‘usmani. Penulisan kata lakinna (لكن) dan ula’ika (أولئك) ternyata juga menyuratkan adanya fenomena keberbedaan bahasa dan penulisan. Dalam kata pertama simbol huruf lam sudah semestinya diikuti dengan simbol huruf alif untuk mengindikasikan adanya suara panjang, berkebalikan dengan simbol huruf waw yang semestinya hilang karena ia tidak mencerminkan suara bahasa apa pun dalam kata kedua.

Maka dari sini, tidak benar jika dikatakan hanya rasm ‘usmani yang keluar dari pakem kaidah penulisan. Selain karena ulasan sebelumnya, fakta bahwa rasm ‘usmani memiliki banyak penulisan yang sesuai dengan suara bahasa memang tidak pernah disebutkan, karena hanya menitikberatkan pada aspek keberbedaannya saja. Mungkin hal ini yang mendasari klasifikasi tulisan (rasm) dalam bahasa Arab, kualitas dan kuantitas keberbedaan yang dimiliki oleh masing-masing tulisan. Wallahu a’lam bisshawab.

Editor: M. Bukhari Muslim

Baca Juga  FMTM Adakan Webinar Jilbab dalam Konteks Indonesia
Santri TBS yang juga alumni Pondok MUS Sarang yang kini sedang mendalami ilmu rasm di UIN Walisongo Semarang