Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Ragam Madzhab Penafsiran Kata Auliya QS. Al-Maidah: 51

auliya
Sumber: lpmsukma.com

Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam memuat berbagai pedoman kehidupan yang sangat global. Karena sifatnya yang global, untuk memahaminya memerlukan penafsiran. Sementara sifat dari al-Qur’an adalah terbuka untuk ditafsirkan (multi interpretable) menyebabkan perbedaan dalam menafsirkan al-Qur’an. Banyak hal yang mempengaruhi penafsiran al-Qur’an seperti, perbedaan qira’at yang dipakai, subjektifitas atau kecenderungan seorang mufasir terhadap suatu madzhab, metode yang digunakan berbeda, dan faktor yang disebabkan dari nash itu sendiri misalnya, lafadh yang mengandung banyak makna, dan lafadh yang mengandung makna umum dan khusus.

Keberagaman aliran penafsiran memberikan dampak yang baik terhadap keilmuan, hal ini menunjukan kekayaan pemikiran umat Islam yang berusaha menggali khazanah yang terkandung dalam al-Qur’an. Selain itu, sebagai usaha representasi dari al-Qur’ān ṣāliḥ li-kulli zamān wa-makān kegiatan penafsiran al-Qur’an akan terus berkembang dengan berbagai coraknya untuk menjawab tantangan dan problematika zaman. Sehingga keberagaman penafsiran ayat al-Qur’an tidak dapat dihindari.

Keragaman Penafsiran Kata Auliya

Keragaman penafsiran ayat al-Qur’an ini dicontohkan dengan Qur’an surah al-Maidah : 51 yang pada tahun 2017 sempat viral ketika disampaikan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan dianggap sebagai penistaan terhadap agama Islam. Salah satu kata yang menuai beragam penafsiran dari ayat ini adalah kata اَوْلِيَاۤءُ (auliya).

Adapun ayatnya sebagai berikut :

اَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

Terjemah kemenag 2002 :”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Melalui tulisan ini, penulis berusaha menghadirkan beragam penafsiran dari berbagai aliran atau madhzab untuk diketahui perbedaannya dan sebagai perbandingan. Pertama, Tafsir Ath-Thabari (corak tafsir klasik, fiqih, dan tafsir bil matsur). Ketika menafsirkan ayat ini, at-Thabari mengemukakan siapa yang dimaksud, konteks yang dibicarakan berdasarkan riwayat. Berdasar beberapa riwayat ayat ini berkenaan dengan sahabat Nabi, ‘Ubadah bin Shamit dan Abdullah bin Ubay yang berlepas diri dari ikatan kerjasama dengan orang Yahudi. Sementara Abdullah mempertahankan orang Yahudi meskipun tampak dari mereka kebencian terhadap Allah. Menurut at-Thabari bahwa dengan ayat ini Allah melarang kepada umat Islam untuk menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pembela atau penolong, atau melakukan ikatan kesetiaan dengan mereka dalam menentang orang-orang yang berimana kepada Allah dan Rasulnya.

Baca Juga  Tafsir Al-Baqarah Ayat 213-214 (1) Hikmah Diutusnya Rasul

Kedua, Tafsir Ma’alim al-Tanzil karya al-bagawi (corak tafsir tahlili, ra’yi, bil matsur ilmi, dan fiqhi). Al-Baghawi tidak menjelaskan arti auliya. Ketika menafsirkan al-Maidah : 51, ia hanya menyebutkan dampaknya dengan menyatakan فيو فقهم ويعينهم (sehingga dia mengarahkan dan membantu mereka), tetapi sebelumnya ketika menjelaskan makna auliya pada penggalan ayat “sebagian mereka adalah auliya’ sebagian yang lain”, beliau memaknainya sebagai bantuan atau pembelaan serta kesatuan kekuatan mereka melawan kaum muslim.

***

Ketiga, Tafsir al-Kasyaf ‘ An Haqaiq Ghawamidh at-Tanzil Wa ‘Uyun al-Aqawil fi Wujuh at-Ta’ wil (tafsir corak mu’tazilah). Ketika menjelaskan al-Maidah ayat 51, Zamakhsyari menulis larangan menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai auliya: “ Jangan menjadikan mereka auliya yakni jangan memenangkan atau membantu mereka, jangan juga meminta bantuan mereka, jangan mempersaudarakan mereka dan mengkhususkan mereka serta jangan bergaul dengan mereka layaknya pergaulan kamu dengan orang-orang mukmin.”

Keempat, Tafsir Al-Wajiz karya Wahbah az-Zuhaili. Ia menafsirkan al-maidah ayat 51 ini terutama kata auliya dengan arti pemimpin. Larangan bagi umat Islam untuk mengangkat pemimpin dari non-muslim karena mereka adalah musuh yang nyata, satu sama lain membantu untuk menjatuhkan Islam. Barangsiapa yang mengangkat mereka menjadi pemimpin maka orang tersebut termasuk kedalah golongannya.

Perbandingan Penafsiran Kata Auliya

Dari beberapa uraian diatas, tampak jelas perbedaan penafsiran al-Maidah ayat 51. Mulai dari tafsir klasik dengan kekhasan pemaknaannya secara literal dan berdasarkan riwayat. Kesimpulan yang diambil dikembalikan kepada makna lughowi dan hadits yang berkaitan dengan ayat tersebut. Seperti itulah karakteristik dalam penafsiran at-Thabari yang penulis tangkap setelah melihat cara penafsirannya.

Kemudian, ada juga tafsir yang berfokus kepada tata bahasa seperti I’rab yang berpengaruh kepada arti kalimat, sehingga memberikan penafsiran yang menarik, berbeda dari yang lainnya. Sementara tafsir al-kasyaf dengan aliran mu’tazilahnya sangat membatasi hubungan dengan Yahudi dan Nasrani dengan kata auliya ini. Sementara penafsiran dari Wahbah az-Zuhaili, melarang keras bagi umat Islam untuk memilih pemimpin dari golongan non-Muslim.

Baca Juga  Tafsir Al-Baqarah Ayat 219-220 (1): Dosa Meminum Khamar

Dapat disimpulkan bahwa keberagaman penafsiran al-Qur’ an sangat dipengaruhi salah satunya oleh corak penafsiran dan kecenderungan sang penafsir terhadap suatu madhzab. Sehingga tafsir yang dihasilkan berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan masing-masing penafsir. Adapun menurut penulis, berkaitan dengan seberapa jauh kebenaran penafsiran adalah seberapa jauh kesesuaiannya dengan al-Qur’ an dan Hadits.

Hemat penulis, hal yang perlu diperhatikan untuk menyikapi keberagaman corak penafsiran: pertama, kritis dalam melihat produk tafsir, apakah ada pesan tersembunyi atau penyimpangan? Apakah argumennya didukung dengan referensi yang kuat ? Kedua, apabila produk tafsir yang kita kritisi merupakan produk kuat, maka wajib untuk kita menghormatinya meskipun tidak mengikuti pendapatnya.

Editor: An-Najmi Fikri R