Post Strukturalisme adalah teori yang muncul sehabis teori strukturalisme. Kedua teori ini (strukturalisme serta postrukturalisme) mengulas tentang metode seorang pembaca menguasai arti suatu bacaan sastra. Bila strukturalisme selalu berorientasi pada struktur yang tetap. Postrukturalisme merupakan uraian suatu karya sastra yang tidak hanya terikat pada strukturnya saja, tetapi boleh dari sisi mana saja. Seperti relasi kekuasaan.
Post Strukturalisme terdiri atas kata post, struktur, isme yang berarti paham sesudah struktur. Artinya, postrukturalisme merupakan sebuah teori pengkajian sastra yang lahir setelah teori strukturalisme. Dalam sastra, teori ini berkembang pada tahun 1970-an. Teori ini merupakan perkembangan terakhir teori sastra, khususnya teori-teori yang didasarkan atas relevansi struktur.
Biografi Paul-Michel Foucault
Michel Foucault dilahirkan di sebuah kota kecil di Prancis yang bernama Poiters bertepatan pada 15 Oktober 1926. Nama kecilnya adalah Paul Foucault yang diambil dari nama ayahnya, setelah itu ditambahkan oleh ibunya menjadi Paul Michel Foucault. Foucault terlahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara.
Para pakar yang mendalami pemikiran Foucault senantiasa merasa kesusahan buat menggolongkannya kedalam disiplin ilmu. Serta aliran filsafat tertentu, perihal tersebut dikarenakan Foucault mempunyai banyak atensi serta memahami berbagai macam disiplin ilmu. Secara garis besar, Foucault merupakan seorang sosiolog, filsuf, sejarawan dan sekaligus psikolog.
Foucault terlahir dari keluarga ilmuwan, dimana ayahnya ialah seorang profesor anatomi serta bekerja selaku pakar bedah yang berhasil tetapi mempunyai pemikiran yang kolot dan ibunya juga putri seorang ahli bedah. Walaupun Foucault sempat ditawari untuk memasuki pendidikan kedokteran, tetapi dia menolak dan lebih tertarik ke bidang filsafat, sejarah serta psikologi.
Post Strukturalisme Michel Foucault
Ketentuan, sistem serta prosedur disebut oleh Foucault dengan sebutan tata wacana keseluruhan konseptual dimana pengetahuan itu dibentuk dan dihasilkan. Wacana dalam pengertian ini adalah keseluruhan aspek dimana bahasa dipakai dengan tata metode tertentu. Wacana sangat berperan untuk membentuk dan mencitrakan pengetahuan untuk subjek dan objek yang berpengaruh didalamnya.
Kekuasaan baginya bukan sesuatu yang sudah ada, melainkan relasi-relasi yang bekerja dalam ruang dan waktu tertentu. Hubungan saling keterkaitan antara pemikiran dengan bahasa, pengetahuan dan tindakan. Dalam pemikirannya tentang relasi kekuasaan, Foucault lebih memilih menitikberatkan pada bagaimana orang mengatur dirinya dan orang lain melalui apa yang dihasilkannya sebagai kekuasaannya. Ia melihat pengetahuan membangun kekuasaan dengan menjadikan orang sebagai subjek dan selanjutnya mengatur subjek dengan pengetahuan.
Kekuasaan memproduksi kebenaran, karena kebenaran berada di dalam produk yang dihasilkan oleh sistem kekuasaan tersebut yang memproduksi kebenaran dan mempertahankan kebenaran itu karena itu kebenaran tidak ada dengan sendirinya, dan tidak berada di luar kekuasaan, namun berada dalam kekuasaan itu. Sebab itu, kekuasaan merupakan kebenaran.
Episteme Sebagai Struktur
Foucault juga melahirkan episteme yang secara sederhana dapat diartikan sebagai keseluruhan ruang bermakna. Menurut Foucault, episteme sebagai sebuah totalitas yang menyatukan, dalam arti mengendalikan cara kita memandang dan memahami realitas tanpa kita sadari. Episteme hanya berlaku pada suatu zaman.
Ketika kita sadar akan episteme yang mempengaruhi kita, berarti kita telah berada dalam episteme yang berbeda. Karena menurut Foucault episteme tidak dapat dilihat atau disadari ketika kita ada di dalamnya. Episteme tidak bisa dilacak, tetapi dapat ditemukan dengan cara menarik. Yakni mengungkap “yang tabu, yang gila, dan yang tidak benar” menurut pandangan suatu jaman.
Pada saat kita menemukan “yang tabu”, maka kita telah mengetahui sebelumnya “yang pantas”. Saat kita tahu “yang gila”, maka kita sebelumnya telah tahu mana “yang normal”. Demikian juga dengan “yang tidak benar”, saat kita temukan, berarti kita ada didalam “yang benar”. Klasifikasi-klasifikasi itulah yang sepenuhya didasari oleh episteme suatu jaman. Oleh sebab itu Foucault sangat serius mendalami masalah kegilaan, seksualitas, dan kejahatan. Karena melalui ketiga hal itulah dia bisa mengenali episteme suatu jaman.
Wacana dan Kekuasaan
Wacana menurut Foucault berkaitan erat dengan konsep relasi kekuasaan. Konsep kekuasaan Foucault berbeda dengan konsepkekuasaan yang sudah ada sebelumnya. Relasi kekuasaan bukanlah struktur politis semacam pemerintah atau kelompok-kelompok sosial yang dominan.
Kekuasaan bukanlah raja yang absolut atau tuan tanah yang tirani. Foucault mendefinisikan kembali kekuasaan dengan menunjukkan ciri-cirinya. Bahwa kekuasaan itu tersebar, tidak dapat dilokalisasi, merupakan tatanan disiplin. Kemudian dihubungkan dengan jaringan, memberi struktur kegiatan-kegiatan, tidak represif namun produktif, serta melekat pada kehendak untuk mengetahui.
Ciri-ciri tersebut memang tidak menjelaskan “apa itu kekuasaan?” Namun Foucault lebih tertarik untuk melihat bagaimana kekuasaan dipraktikkan, diterima, dan dilihat sebagai kebenaran dan juga kekuasaan yang berperan dalam bidang-bidang tertentu.
Kekuasaan Foucault bukanlah milik tetapi strategi. Dalam hal ini Foucault tidak memisahkan antara pengetahuan dan kekuasaan. Tidak ada pengetahuan tanpa kekuasaan dan tidak ada kekuasaan tanpa pengetahuan. Foucault percaya bahwa agar kekuasaan bisa beroperasi diperlukan adanya “rezim wacana” yang ada di dalam setiap kebudayaan. Dan masyarakat dapat memperlihatkan model “permainan kebenaran” ataupun truth-games seperti yang diperkenalkan oleh Nietsche.
Penerapan Relasi Kekuasaan Dalam Surat al-Baqarah ayat 164
Surat ini menjelaskan rahasia kebesaran Allah, telah pula mendorong mereka untuk semakin dekat kepada-Nya juga memahami kehebatan-Nya. Dalam surat Al-Baqarah ayat 164 yang berbunyi:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Artinya: “sesungguhnya dalam penciptaan langi tdan bumi, silih bergantinya malam dan siang. Bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia. Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya. Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
Dalam surat ini menjelaskan tentang kekuasaan Allah dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, pengetahuan. Kekuasaan dalam surat ini yaitu Allah lebih mengetahui segala hal daripada hambanya yang termasuk juga kekuasaannya dalam segala hal. Penciptaan Alam semesta dan sebagainnya.


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.