Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Pandangan Mufassir Sufi Tingkatkan Ketauhidan

Ajaran dalam agama Islam telah ditancapkan pegangan ketauhidan untuk dapat dijadikan prioritas utama umat muslim sebagai wujud keyakinan kepada Allah Swt. Tauhid dapat dikatakan sebagai pondasi karena suatu tujuan untuk mengokohkan agar tidak mudah goyah. Jikalau pondasi itu tidak kuat maka iman ketauhidannya akan mudah goyah. Dalam strategi tauhid juga telah dijarkan inti sekaligus dasar dari seluruh ajaran islam.

Realitas kehidupan ini tauhid dalam Islam dikategorikan dengan pemahaman bahwa Tuhan itu esa. Pada hakikatnya Allah memberikan pedoman berupa zat atau wujud yang tersembunyi, yang kemudian berkehendak untuk dikenal dengan cara menciptakan berbagai makhluk. Mengenal Tuhan juga bisa dikatakan sebagai bertauhid atas dasar keyakinan seseorang dalam mempercayai Tuhannya.

Biasanya dalam ketauhidan bermula dikenalkan dari sejak awal lahir dengan memberikan dasar pijakan dasar pendidikan Islam yaitu al-Qur’an dan al-Hadist. Seperti pada penerapan Rasulullah SAW yang dapat mengubah umatnya dari menyembah patung dan berhala menjadi umat yang berakidah tauhid. Di dalam al-Qur’an banyak dijelaskan mengenai isi kandungan ayat diantaranya: pertama, berita tentang Allah, nama-nama, sifat-sifat, perbuatan-perbuatan dan Firman-firmanya. Kedua, dakwah untuk beribadah hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Ketiga, perintah dan larangan, mengharuskan menaati-Nya, menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, dan ini termasuk hak-hak tauhid dan yang menyempurnakannya. Keempat, berita tentang ahli Tauhid. Jadi pada intinya di dalam al-Qur’an menjelaskan tentang ketauhidan.

Dengan data seperti itu, dapat diuraikan bahwa melihat pondasi awal kita yaitu bertauhid. Hal yang sama seperti yang telah dipelajari dari ilmu-ilmu seperti fiqih dan yang lainnya tentang keabsahan beribadah kepada Allah yang sudah menunjukkan ketauhidan. Di dalam ilmu tauhid telah dijelaskan mengenai bagaimana mengesakan Allah yang sebenarnya. Sehingga dengan bertauhid seseorang bisa tau arti hidup yang sesungguhnya yaitu senantiasa mengesakan Allah. Maka dari itu, dengan berpedoman tauhid dapat terdorong melakukan hal-hal kebaikan yang akan menghantarkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Baca Juga  Pentingnya Ilmu Pengetahuan Dalam Islam

Peran dan Fungsi Tauhid Dalam Kehidupan Sosial

Tauhid menempati kedudukan yang tertinggi di dalam Islam, tauhid komitmen bahwasannya hubungan manusia kepada Allah sebagai focus untuk berkeyakinan dari seluruh rasa hormat, rasa syukur, dan sebagai satu-satunya sumber nilai dalam Islam. Manusia yang bertauhid tidak mudah tergoyahkan keimananyya untuk membedakan makhluk satu dengan yang lainnya karena seluruh alam merupakan ciptaan Allah. mengemban tugas untuk membersihkan manusia dari menyembah.

Hal ini akan mengedepankan manusia untuk membentuk suatu misi kebenaran dan keadilan nilai-nilai dalam Islam. Dalam konteks ini sebagai pengembangan umat untuk merealisasikan sifat-sifat bermoral, sosial, ekonomi dan budaya. Dibawah ini merupakan peran dan fungsi tauhid dalam kehidupan sosial:

1. Memiliki komitmen utuh pada Tuhannya. Ia akan berusaha secara maksimal untuk menjalankan pesan dan perintah Allah sesuai kemampuannya.

2. Menolak pedoman hidup yang datang bukan dari Allah.

3. Bersikap progresif terhadap penilaian kualitas kehidupannya. Seperti halnya adat istiadat dan tradisi dalam kehidupannya.

4. Tujuan hidupnya amat jelas semata-mata untuk mencapai keridlaan Allah.

5. Memiliki visi yang jelas tentang kehidupan yang harmonis antara manusia dan Tuhannya.

Penafsiran QS. Al-Baqarah (2): 163

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحْمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ

Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”

Imam al-Alusi memberikan pandangannya dalam menanggapi ayat di atas, jika dilihat asbabun nuzulnya berkaitan dengan perkataan orang kafir Quraish kepada Nabi Muhammad, yakni“Jelaskan kepada kami bagaimana Tuhanmu”. Peristiwanya terjadi pada saat kaum musyrik mendengar ayat keesaan Allah ini mereka membangkang dan berkata: “Jika engkau benar atas apa yang engkau ucapkan, maka datangkanlah satu ayat sebagai legitimasi kejujuranmu.” Kemudian ayat ini turun. Hal ini sudah menanamkan pengetahuan tauhid jika dilihat dari firman Allah yang turun pada saat itu.

Baca Juga  Representasi Penyempurna Tauhid dalam al-Falaq dan al-Nas

Bahwasanya setiap manusia harus memiliki adab kepada Allah yaitu mengesakan Allah, Karena Allah menciptakan makhluknya hanya untuk menghamba kepada-Nya. Bahkan segala sesuatu apapun yang dikhususkan kepada-Nya. Seperti mentauhidkan Allah dengan tauhid Rububiyyah, Uluhiyah dan Asma’ wa Sifat. Segala apaun yang disandarkan atas nama Allah akan membuahkan nilai kebaikan. Hal ini terutama yang juga akan menambah ketauhidan dalam jiwa manusia yang mampu berfikir.

Editor: An-Najmi