Bulan Ramadhan, bulan yang sangat istimewa. Semua amalan baik yang dilakukan pada bulan ini, mendapatkan balasan yang dilipatgandakan oleh Allah. Bulan ramadhan identik dengan bulan Al-Qur’an. Bulan pertama kali Nabi Muhammad menerima wahyu Al-Qur’an. Surat Al-Alaq ayat 1-5 wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad sebagai penanda diangkatnya Muhammad sebagai seorang Nabi dan Rasul. Wahyu pertama yang berbunyi Iqra’ memiliki nilai sastra yang besar, mengaitkannya antara qara’a dan al-khalaq. Wujud yang ada di alam semesta ini dimulai dari penciptaan. Wahyu pertama berupa perintah untuk membaca dan diturunkan pada bulan yang istimewa pastinya memiliki nilai yang sangat besar.
Ramadhan Bulan Turunnya Al-Qur’an
Sebagian masyarakat pada 17 Ramadhan mengadakan peringatan seremonial Nujulul Qur’an. Para ulama sepakat 17 Ramadhan merupakan perdana wahyu Al-Qur’an turun kepada Nabi Muhammad. An-Nuzul diartikan “turun dari atas”, dalam lisan al-Arab diartikan “menempati atau sering menginap di tempat itu”. Al-Qur’an didefinisikan sebagai lafaz yang turun kepada Nabi Muhammad. Al-Quran dipandang sebagai lafaz, wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi maka tidak bisa an-Nuzul diartikan secara etimologi sebagai sesuatu yang turun dari atas. An-Nuzul perlu dilihat maknanya secara majas yaitu sebuah “informasi” yang diterima Nabi. An-Nuzul diartikan sesuai majas dan Al-Qur’an yang dipndang sebagai lafaz maka diartikan berupa penetapan dalam hati Nabi atau penetapan di lauhil mahfudz, ataupun penetapan di baitul izzah.
Dalam buku Ulumul Qur’an karya Ajhari disebutkan turunnya Al-Qur’an melalui 3 fase yaitu:
1) At-Tanazzulul Awwal, Al-Qur’an diturunkan lauhil mahfudz. Tahap ini manusia tidak bisa mengetahui secara definitif.
2) At- Tanazzul al-Tsani, al-Qur’an turun dari lauhil mahfudz ke baitul izzah dilangit dunia.
3) At-Tanazzulul ats- Tsaalistatu, Al-Quran diturunkan dari Batiul Izzah (langit dunia) kepada Nabi Muhammad melalui perantaraan malaikat Jibril atau secara langsung ke dalam hati sanubari Nabi.
Pemaknaan lafaz qara’a dalam Al-Qur’an
Bahasa Arab, menyebutkan membaca dengan istilah qiro’ah, yang berasal dari kata qara’a – yaqra’u – qiro’atan, diartikan sebagai bacaan atau yang dibaca. Berbeda dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang menyebutkan “membaca” berasal dari kata “baca”, mengandung arti melihat dan memahami dari apa yang tertulis atau dapat pula diartikan mengucapkan sesuatu kata.
Terdapat dua lafaz dalam Al-Qur’an yang memiliki arti membaca, yaitu قرا dan تلا. Keduanya memiliki kedekatan makna. Meski demikian tentunya kedua lafaz tersebut memiliki penyebutan dan penggunaan yang berbeda. Lafaz qara’a dan talaaa merupakan fi’il muta’adi yaitu kata kerja yang membutuhkan objek, namun makna “membaca” sendiri sudah bisa dipahami.
Lafaz qara’a dan derivasinya dalam Al-Qur’an disebutkan beberapa bentuk misalnya, dalam bentuk fi’il mmadhi disebutkan sebanyak 3 kali, fi’il mudhorik sebanyak 4 kali, fi’il amr sebanyak 5 kali, dan masih ada bentuk yang lain. Begitu juga dengan lafaz talaa dalam Fath Al-Rahman Litalib Ayat Al-Qur’an disebutkan sebanyak 43 kali. Untuk membedakan pengunaan lafaz qara’a dan talaa berikut langsung saya paparkan dalam bentuk contoh:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, (QS. Al-Alaq: 1-2).
***
Lafaz qara’a alam Mufradat fi Alfazh Al- Qur’an memiliki makna membaca. Dalam konteks QS. Al-Alaq pada tafsir Taysir Al-Karim Al-Rahman اقرا mengaitkan antara قرا dan الخلق. Allah memulai alam ini dengan penciptaan, dan firman Allah ini setelah Allah memerintahkan untuk membaca. Dalam jurnal Arabic Studies karya Muhammad Alghiffary, menurut Mardjoko kata قرا dapat disintagmatikkan dengan segala bacaan, baik bacaan yang bersifat umum maupun bacaan yang bersifat suci. Wahyu pertama ini memberikan kebebasan kepada manusia untuk mengingat Allah bukan hanya dari membaca kitab-kitab suci, melainkan dapat dilakukan dengan membaca segala sesuatu baik tertulis maupun tidak tertulis.
Berikut penjelasan dari lafaz talaa, akan langsung saya ambil contoh dari QS. Al-Fatir: 29
اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَۙ
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan salat dan menginfakkan). (QS. Al-Fatir:29)
Pada Mufradat fi Alfazh Al- Qur’an, lafaz تلا memiliki arti “membaca, mengikuti” Dalam tafsir Taysir Al-Karim Al-Rahman, QS. Al-Fatir: 29 diartikan “mengikuti” yakni mengikuti dalam mematuhi perintah-Nya, dan meninggalkan larangan-Nya. Dari makna secara leksikal, kamus dan Al-Qur’an juga secara penafsiran terdapat istilah yang di sepakati dari makna lafaz تلا yaitu membaca, mengikuti. Setelah lafaz تلا di ikuti dengan كِتٰبَ اللّٰهِ sebagai objek. Objek ini berupa kitab suci yang di turunkan oleh Allah. Dapat dikatakan yang di maksud di sini adalah semua kitab suci, baik yang diturunkan kepada Nabi Muhammad maupun sebelum Nabi. Karena dalam ayat tersebut mengunakan redaksi Kitab Allah bukan secara jelas menyebut Al-Qur’an. Jadi pengunaan lafaz تلا memiliki objek berupa kitab suci yang diturunkan oleh Allah kepada rasul-rasulNya.
Perintah membaca dan Implementasi Membaca
Wahyu pertama yang berbunyi Iqra’ memiliki nilai sastra yang besar, mengaitkannya antara qara’a dan al-khalaq. Allah memulai alam ini dengan penciptaan, dan firman Allah ini setelah Allah memerintahkan untuk membaca. Semua wujud yang ada di alam semesta ini dimulai dari penciptaan. Perintah untuk membaca dalam wahyu pertama, menandakan bawasanya agama Islam sangat memperhatikan terhadap ilmu pengetahuan, sehingga tidak muncul masyarakat jahiliyah modern. Membaca dan menulis pada era perkembangan teknologi dan informasi menjadi hal yang penting. Perintah membaca menjadi perintah penting dan berharga yang dapat dilakukan oleh seluruh manusia, karena membaca merupakan jalan yang mengantar manusia mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna.
Kebiasaan membaca sangat dianjurkan, karena merupakan suatu jalan menuju kesuksesan. Mugkin beberapa beranggapan membaca merupakan kegiatan yang membosankan. Padahal dari membaca seseorang dapat menambah wawasan dari yang awalnya tidak tahu menjadi tahu. Manfaat dari membaca sangatlah banyak diantaranya mengisi waktu luang dengan hal bermanfaat, mengetahui hal aktual yang terjadi, meningkatkan pengembangan diri, dan masih banyak lagi manfaat yang akan didapatkan sesui dengan kepuasan pribadi masing-masing.
Implementasi peritah membaca pada wahyu pertama QS. Al-Alaq dalam kehidupan masyarakat modern dengan berbagai teknologi saat ini, adanya tuntutan untuk selalu menambah wawasan dan pengetahuan. Usaha untuk menambah wawasan dan pengetahuan akan melewati beberapa tahapan yaitu: membaca kondisi sosial, mengamati lagi secara berulang-ulang untuk membuktikan informasi dan pengetahuan yang di dapat. mengembangkan, menguatkan, dan merealisasikan pengetahuan yang telah teruji. Tahapan usaha tersebut memiliki tujuan yaitu meningkatkan kepekaan seseorang terhadap masalah-masalah yang ada di sekitar.
Editor: An-Najmi




























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.