Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Mulai Merawat Istikamah Bulan Ramadan

istikamah
Sumber: https://merdekastudio.com/

Dilihat-lihat dari suatu fenomena bahwa datangnya bulan Ramadan telah mengubah hidup seseorang khususnya bagi kehidupan Masyarakat muslim. Awalnya dari mereka jarang menyentuh apalagi membaca Al-Qur’an, di bulan suci ini jadi rajin dan istikamah membacanya.

Awalnya dari mereka jarang sholat berjama’ah, di bulan ini jadi rajin mengerjakan sholat berjama’ah apalagi di masjid. Serta tadinya sulit bangun untuk tahajud, di bulan ini setiap malam bangun untuk menunaikannya. Alangkah baiknya, jika ibadah-ibadah ini kita jaga kekonsistensinya agar tidak berhenti di bulan Ramadan saja. Maka hal yang perlu kita lakukan adalah istikamah.

Pengertian Istikamah

Secara bahasa, istikamah berasal dari bahasa arab qowwama-yuqowwimu yang artinya meluruskan, membetulkan, mengoreksi, mengubah, melakukan penyesuaian, memperbaiki, mengevaluasi, menaksir, menilai, memperkirakan atau menghargai. Dalam kamus bahasa Arab-Indonesia, kata ini menjadi Istaqoma-yastaqimu yang artinya bersikap/berlaku tegak, lurus dan seimbang. Adapun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Istiqomah adalah sikap teguh pendirian dan selalu konsisten. Jadi dapat disimpulkan bahwa Istiqomah adalah sebuah sikap atau tindakan yang secara konsisten melakukan segala perintah Allah SWT dengan bekal keimanan yang kuat.

Dewasa kini, istikamah dalam hal beribadah menjadi perkara yang sangat sulit untuk dipertahankan karena naik turunnya iman seseorang yang dibisiki oleh syetan sehingga rasa malas hadir dalam diri seseorang yang membuat dirinya bermalas-malasan untuk melakukan ibadah-ibadah tersebut. Padahal Allah SWT telah memerintahkan hambanya untuk istiqomah dalam beribadah. Hal ini seperti dalam salah satu Firman-Nya yang berbunyi:

فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Baca Juga  Jejak Lailatul Qadar Pasca Ramadhan

Maka tetaplah engkau (Muhammad) di jalan yang benar, sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan juga orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Hud : 112).

***

Saat menjelaskan ayat ini, Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fi Zhilalil Qur’an menyebutkan rambut Rasulullah tiba-tiba beruban. Beliau berkata “istikamah ialah berlaku lurus dan menempuh jalan dengan tidak  menyimpang”. Hal ini menunjukkan betapa beratnya sebuah istikamah.

Meskipun sudah tahu bahwa akhirat adalah kehidupan abadi tapi kita kerap kali tertipu oleh kehidupan duniawi. Sungguh benar ketika Allah mensifati kehidupan dunia sebagai mataa’ul ghurur (kesenangan yang menipu). Menipu kita dari ketaatan, menipu kita dari ketaqwaan, menipu kita dari istikamah, dan lain sebagainya. Ketika mau istikamah ada saja godaan yang datang dari segala arah seperti bermain game yang dapat membuang waktu secara sia-sia, andaikan hal tersebut kita gunakan untuk tilawatil qur’an maupun berdzikir kepada sang Pencipta alangkah bagusnya itu.

Adapun godaan yang lebih berbahaya dan dapat menjauhkan diri dari istikamah yakni seseorang yang tergila-gila dalam mencari uang dan jabatan hingga menghalalkan segala cara agar mencapai hal yang diinginkannya bahkan ada yang korupsi puluhan milyar hingga menjual diri seharga puluhan juta. Sungguh mirisnya kehidupan seperti ini.

Alasan Kenapa Istiqomah Sulit dilakukan

Ada beberapa alasan kenapa istikamah itu sulit dilakukan, antara lain:

1. Berhadiah surga

Kenapa istikamah itu berat? karena berhadiah surga. Kalau ringan, hadiahnya mungkin kipas angin atau sepeda listrik. Hal ini telah dijelaskan dalam surah Al-Ahqaf ayat 13-14, yang berbunyi:

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ   (13)  أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ خَٰلِدِينَ فِيهَا جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ (14)

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al Ahqaf: 13-14).

Baca Juga  Ketika Al-Qur'an Merasa Cemburu Pada Pemiliknya

Menjaga iman di masa sekarang memanglah berat, apalagi di zaman yang banyak fitnah seperti ini. Namun, di situlah tantangannya. Beratnya istiqomah akan mengantarkan seseorang ke dalam surga. Abadi dalam kebahagiaan selama-lamanya. Karena ada suatu kata pepatah yang mengatakan orang muslim itu mengganggap surga akhirat sedangkan orang kafir itu mengganggap surga dunia.

2. Membahagiakan

istikamah itu berat tetapi membahagiakan. Mengapa? Karena orang yang istikamah, Allah akan kasih mereka ketenangan, keberanian dan optimis dalam menjalani kehidupan. Seperti dalam surah Fussilat ayat 30, yang berbunyi:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushilat: 30)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa turunnya malaikat dengan menyampaikan pesan meneguhkan itu terjadi saat sakaratul maut. Namun, ada juga yang menafsirkan bahwa keberanian, ketenangan dan optimis itu akan diperoleh orang-orang yang istikamah sejak di dunia.

3. Amal yang dicintai Allah

Kenapa istiqomah merupakan amal yang dicintai oleh Allah? Karena Allah itu lebih suka hambanya melakukan amalan yang sedikit tapi konsisten dalam mengerjakannya daripada amalan yang banyak tapi tidak rutin dalam mengerjakannya. Hal ini diterangkan dalam sabda Rasulullah sebagai berikut:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amal yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amal yang berkelanjutan walaupun itu sedikit. (HR. Muslim).

Maka sebelum Ramadan ini berakhir, marilah kita memohon kepada Allah agar dijaga semangatnya dalam beribadah. Ketika ramadhan telah berlalu, kita tetap menjalankan salat lima waktu secara tepat waktu. Meskipun susah, kita upayakan setiap hari tilawatil qur’an.

Meskipun berat, kita usahakan tiap malam sholat tahajud minimal dua rakaat. Mengapa harus demikian? Karena dunia ini diciptakan hanya untuk tempat tinggal sementara serta kita tidak tahu mana diantara amalan-amalan yang selama ini kita kerjakan diterima atau tidaknya oleh Allah dan tidak ada yang tau tentang umur seseorang. Maka dari itu, jika bukan sekarang kapan lagi kita memulainya. So, let’s take care of our istiqomah because it can make our life better.