Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Menyeimbangkan Kebutuhan Jasad dan Rohani

menyeimbangkan kebutuhan
Sumber: https://www.istockphoto.com/

Belakangan ini berita kriminal banyak berlalu lalang di layar kaca informasi. Mulai siaran di televisi maupun media sosial dibanjiri oleh berita kematian manusia. Salah satunya kasus pembunuhan yang dilakukan oleh oknum polisi yang berinisial FS terhadap bawahannya sendiri yang berinisial Brigadir J yang dibunuh secara sadis dengan berulang kali penembakan. Ataupun kasus wanita hamil sekitar 7 bulan yang dibunuh dengan cara dilempar dari atas tebing pantai Kukup, Gunung Kidul. Terdengar tragis, dimana letak logika dan hati pelaku saat melakukan tindak kejahatan tersebut? Seolah rasa kemanusiaan itu telah hilang begitu saja, mereka tidak menyeimbangkan kebutuhan sebagai manusia.

Adanya kasus yang disebutkan di atas pun  hanya cuplikan dari berbagai macam kasus kriminal kejahatan yang tersebar di media sosial saat ini. Meski dengan berbedanya alasan seseorang melakukan tindak kejahatan tetap saja ada satu titik kesamaan di dalamnya yakni hati yang sakit hingga mendorong anggota tubuh lainnya untuk melakukan sesuatu yang menyimpang. Karena tidak menyeimbangkan kebutuhan manusia.

Hadis Hati Manusia

Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim:

ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب)؛ متفق عليه

Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik. Maka akan baik seluruh tubuh manusia dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh tubuh manusia. Ketahuilah bahwa sesungguhnya daging itu adalah hati manusia.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Jika dalam dunia medis hati merupakan salah satu organ tubuh yang berfungsi sebagai penghancur sel darah merah yang sudah tua. Pembersih darah dari senyawa berbahaya seperti racun dan sejenisnya, begitulah muatan salah satu artikel di https://www.alodokter.com/ maka akan berbedalah ketika di tempatkan dalam kajian ilmu tasawuf.

Baca Juga  Pakaian, Cinta, dan Martabat Manusia dalam Wacana Teologis

Shalih Ahmad Asy-Syami dalam kitabnya Al-Muhazzab Min Ihya’ ‘Ulum Ad-Din (Ahmad, Al-Muhazzab Min Ihya’ ‘Ulum Ad-Din, 1993, II: 10) mengungkapkan bahwa hati yang didiksikan dengan “qalbun” dapat diartikan dengan sesuatu yang lembut berunsur ketuhanan dan bersifat rohani. Makna lain dari qalbun itu sendiri adalah ruh yang mengisi tubuh manusia. Oleh sebab itu di dalam Al-Qur’an disebutkan dengan “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah (berzikir), hati menjadi tenang” (QS. Ar-Ra’d [13] : 28) sebagai indikator bahwa hati manusia memiliki kolerasi dengan Sang Tuhan karena keduanya sama-sama berunsur sebuah ruh.

Manusia Adalah Makhluk Dua Dimensi

Pendapat Shalih Ahmad tersebut menyiratkan bahwa manusia tidak hanya terdiri dari satu unsur yakni berupa bentuk (tubuh) saja. Namun, juga ruh yang mengisi tubuh itu sendiri. Dalam fenomena kehiudpan manusia dapat dibuktikan dengan adanya orang yang masih hidup dan orang meningga. Yang membedakan keduanya adalah ruh yang berada di dalam tubuh.  Dalil Al-Qur’an telah menyebutkan hal itu di antaranya adalah QS. As-Sajdah [32]: 9.

الَّذِيْٓ اَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهٗ وَبَدَاَ خَلْقَ الْاِنْسَانِ مِنْ طِيْنٍ ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهٗ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ مَّاۤءٍ مَّهِيْنٍ ۚ ثُمَّ سَوَّىٰهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ

Artinya: “Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”

Penafsiran Ayat

Ayat di atas menunjukkan bahwa manusia terdiri dari dua unsur yakni tanah dan ruh. Hamka dalam tafsirnya Al-Azhar menjelaskan bahwa asal-usul manusia berasal dari tanah. Selajutnya keturunannya berasal dari mani. Kemudian melalui sayur, buah, kalori, vitamin, darah baru saringan darah jadi mani, dan akhirnya menjadi manusia. Selanjutnya disempurnakanlah dengan ditiupaknnya roh. Maka dalam hal ini jelas sekali bahwa roh manusia merupakan roh Allah swt. Yaitu kepemilikan Allah swt. harta Allah dan kekuasaan mutlak dari Allah swt (Hamka, Tafsir Al Azhar, 1989, VII: 5603).

Baca Juga  Muhammadiyah The Protector Kaum Marjinal

Karenanya, jelaslah meski ruh ini bersemayam di dalam tubuh kita. Namun, hakikatnya bukan milik kita sehingga tiada kekuasaan untuk mempertahankan ketika empunya telah datang untuk menjemput. Namun, tidak pula kita dapat mencampakkan ruh kita semasa telah bosan dengan kehidupan ataupun mencampakkan ruh orang lain, sebab empunya adalah Allah swt. semata. Sebagai manusia hanya mampu melakukan skenario Tuhan Pemilik Ruh hingga masa yang telah ditentukan.

Penjelasan Hamka tersebut mengindikatori bahwa septutnya manusia menyeimbangkan kebutuhan diri dalam dua unsur tersebut. Pasalnya, ketika salah satunya tidak dipenuhi maka ketimpangan kondisi diri akan terjadi. Ketika kebutuhan jasad tidak dipenuhi maka akan menimbulkan sebuah penyakit pada tubuh seperti sakit perut misalnya. Kekurangan gizi, sakit kepala dan lain sebagainya dari jenis penyakit yang memiliki keterkaitan dengan tubuh manusia itu sendiri. Ketika kebutuhan rohani yang tidak terpenuhi maka penyakit yang akan menyerang adalah berupa penyakit-penyakit hati seperti halnya iri dengki, rasa dendam, riya’, ‘ujub, cinta dunia dan lain sebagainya.

Terapi Diri Mengobati Penyakit Hati

Dalam merespon permasalahan penyakit hati, banyak di antara para ulama yang mencoba memberikan metode cara mengobatinya. Salah satunya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali (w. 405 H – 506 H) yang menyebut proses pengobatan itu dengan riyadhatun nafs. Al-Ghazali mengungkapkan di dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulum Ad-Din bahwasanya setiap anggota tubuh manusia memiliki fungsi tersendiri. Seperti halnya mata yang berfungsi untuk melihat. Maka hati berfungsi sebagai wadah ilmu, kebijaksanaan, mengetahui Sang Tuhan dan mencintai-Nya. Sehingga yang terjadi adalah dengan hati seorang bisa mencegah atau mengontrol dirinya atas setiap syahwat atau hawa nafsu yang mendorong melakukan perbuatan buruk.

Baca Juga  Menggenggam Ketenangan: Kunci Kehidupan Manusia Modern

Al-Ghazali menambahkan bahwa penyakit hati hanya diketahui oleh pemilik hati itu sendiri dan dapat diobati sesuai dengan gejala penyakit yang dialami oleh masing-masing orang. Seperti halnya seseorang yang memiliki penyakit hati berupa kikir. Maka dapat diobati dengan menginfakkan atau berbagi harta yang ia miliki namun tidak sampai berlebihan hingga mengakibatkan kemubaziran sebab tingkah mubazir sendiri tergolong sebuah penyakit hati. Maka seseorang dituntut untuk dapat berlaku pertengahan (tidak lebih dan tidak kurang); menyeimbangkan kebutuhan diri (Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum Ad-Din, 2005: 945). Itulah salah satu contoh dari riyadhatun nafs ala Al-Ghazali yang sesungguhnya masih tersisa beberapa pengobatan lainnya seperti sikap zuhud, berpuasa, bertaubat, bersyukur dan lain-lain yang dapat membantu manusia untuk menjaga diri agar tidak selalu mengikuti hawa nafsu belaka.