Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Meninjau Kajian Orientalis dalam mengkaji Al-Quran dan Hadis

Alif
Sumber: islammedia.id

Sebagai kitab suci umat Islam yang dipercayai kebenarannya secara mutlak, Al-Quran memiliki daya tarik sendiri di kalangan ilmuan. Begitu pula dengan penelitian hadis yang tidak bisa dipisahkan dengan Al-Quran ini. Penelitian pun semakin hari semakin berkembang.Tak terkecuali ilmuan dari Barat atau orientalis.

Upaya pengkajian al-Quran oleh ilmuan barat sendiri banyak menuai berbagai pandangan. Fenomena iklim akademik seperti ini tentu bisa diprediksi. Yang tentu diawali dengan bermacam-macam alasan, tujuan dan metode penelitian yang diterapkan para Orientalis.

Pandangan terhadap orientalis

Bagi sebagian kalangan, kenyataan ini dianggap kontroversial. Bagaimana tidak, mereka yang disebut dengan julukan orientalis ini adalah kelompok ilmuwan non-muslim. Dan kita tau bahwa materi penelitian yang mereka kaji adalah sumber pokok ajaran Islam.

Tentu saja, rasa risih dan kekhawatiran muncul di sebagian kalangan umat Islam. Bayangkan saja ketika kitab al-Qur’an kita yang suci disentuh oleh tangan peneliti yang bukan muslim. Belum lagi kritik yang mereka bangun kadang membuat telinga menjadi panas. Dan akhirnya, orientalisme tak jarang mendapatkan penilaian buruk, bahkan ditolak mentah-mentah. Terutama dalam usahanya mengkaji al-Qur’an dan Hadis.

Apapun temuan yang didapatkan dalam iklim kesarjanaan Barat, khususnya dalam kajian mereka terhadap al-Qur’an dan Hadis, janganlah dianggap sebagai produk jadi yang siap pakai. Namun ada yang bisa dipelajari. Bukan informasinya yang harus kita telan, tetapi bagaimana cara mereka berfikir sehingga mendapatkan temuan itu. Sehingga nantinya bisa mengembangkan keilmuan agama sehingga mampu menuai berbagai kemajuan dalam bidang pengkajian maupun praktiknya.

Tentu saja kita tidak perlu sepenuhnya setuju dengan cara yang mereka gunakan. Dengan cara yang sama seperti yang mereka lakukan, kita mungkin akan menghasilkan temuan yang berbeda. Inilah  perlunya kita belajar metodologi ke Barat. Sekali lagi, bukan untuk menelan mentah-mentah informasi yang mereka sajikan, tetapi kita belajar metodologi penelitian ilmiah yang berkembang sangat pesat dengan banyaknya penelitian yang dilakukan di sana.

Baca Juga  Tiga Model Umat Islam dalam Kembali Pada Al-Quran dan Sunnah

Tak usah kaget

Yaa tak perlu kaget, sudah sejak lama Barat memang menaruh perhatian besar terhadap kajian-kajian ketimuran, khususnya tentang Islam, dan lebih khusus lagi kajian mereka terhadap al-Qur’an dan Hadis. Upaya ini dimulai sejalan dengan banyaknya karya-karya kesarjanaan Islam yang diboyong ke Eropa.

Sumber-sumber bacaan tersebut kemudian menjadi pusat perhatian para peneliti gereja. Itupun sejalan dengan meningkatnya beragam kepentingan Barat terhadap dunia Timur umumnya, dan dunia Islam secara khusus. Dengan mempelajari sumber ilmu masyarakat Islam, maka Barat mulai berharap untuk dapat “meraih” manfaat bagi kepentingan mereka.

Di satu sisi mereka mengagumi khazanah keilmuan dunia Timur yang menjadi sumber inspirasi bagi kemajuan, sebagaimana mereka juga terobsesi untuk dapat “menguasai” dunia Timur melalui jalur kolonisasi. Di sinilah peran ganda Barat dalam pengembangan ilmu-ilmu ketimuran atau orientalisme dimulai.

Bersikap terbuka

Saya sendiri sebagai mahasiswa yang konsen dengan keilmuan tafsir, saat kuliah belajar bagaimana orientalis berpikir lewat mata karya-karya mereka. Dengan semakin pesatnya perkembangan kajian Islam yang dilakukan baik di Timur maupun di Barat, maka kita memang dituntut untuk bersikap terbuka dengan semua perkembangan itu.

Ada beberapa alasan tentang perlunya keterbukaan ini. Alasan ini saya temui dalam buku Kajian Orientalis Terhadap al-Quran dan Hadis yang dieditori oleh M. Anwar Syarifuddin. Berikut alasannya:

Pertama, sebagai bagian dari masyarakat dunia kita akan terlibat dalam dialog antar peradaban, bahkan dialog antar-agama (interreligious dialogue) yang konstruktif, ketika dunia menjadi kawasan damai yang padu, di mana seluruh penghuninya harus saling terbuka satu sama lain.

Kedua, kenyatan dunia yang padu ini juga dapat dipakai sebagai wahana untuk “membuka diri” dan menjalin komunikasi, sehingga dapat terjalin iklim penelitian akademik yang objektif dan menjunjung tinggi tujuan-tujuan kemanusiaan, yang jauh dari campur tangan politik dan ekonomi yang saling mendominasi seperti masa lalu.

Baca Juga  Beberapa Tipe Sifat Manusia Perspektif Al-Quran

Ketiga, keterbukaan diri Islam dan umat Islam akan sangat mendukung misi utama Islam yang bertujuan “meninggikan syiar agama Allah”. Dalam kaitan dengan kajian orientalisme terhadap al-Qur’an dan sunnah, jika sepanjang sejarah masa lalu umat Islam hanya berdiam diri ketika diejek dan dikritik habis oleh kalangan orientalis lama, maka kini saatnya membuktikan, bahwa dengan standar keilmuan yang objektif maka kita harus yakin bahwa kebenaran hakiki yang dibawa oleh al-Qur’an akan bisa lebih mudah diungkapkan, bahkan dengan cara yang lebih mudah difahami oleh komunitas non-muslim.

Dengan terungkapnya bukti kebenaran al-Qur’an dan Hadis, maka akan lebih mudah memasarkan dakwah Islam kepada mereka, dengan cara dan pendekatan yang simpatik tentunya, dan bukan provokatif yang selama ini dilakukan.

Al-Quran: Kitab Suci yang Tetap Suci

Padahal dengan apapun al-Qur’an dikaji, oleh siapapun, bagaimanapun hasilnya, dan bahkan seburuk apapun temuan mereka, maka dapat dipastikan bahwa kesucian dan kebenaran al-Qur’an yang diyakini oleh kaum muslimin tidak akan berkurang sedikitpun. Jika membaca sejarah, sejak saat pertama kali diturunkan penolakan terhadap al-Qur’an sudah terjadi.

Kesangsian terhadap kebenaran al-Qur’an dan klaim kenabian Muhammad merebak. Namun, hal tersebut tidak mengurangi sedikitpun keyakinan kaum muslimin terhadap keaslian wahyu al-Qur’an. Memang ketika mendengar kritik-kritik yang pedas dari kalangan orientalis, kita seperti merasakan sepedas caci-maki kaum Quraisy, suku-suku Arab lain, dan kelompok-kelompok Yahudi Madinah yang menolak masuk Islam pada masa lalu.

Cara melakukan penelitian boleh saja sama, tetapi hasilnya tentu saja tidak harus sama. Inilah yang dilakukan kelompok ilmuwan dari dulu hingga kini, sehingga sudah berapa banyak teori yang gugur oleh datangnya teori baru yang berkembang belakangan. Di sinilah nilai penting belajar kajian ini.

Baca Juga  Al Qur’an sebagai Kitab Suci Islam dalam Pandangan Kaum Orientalis

Tahu Dulu, Baru Menilai

Kita tidak akan menilai pendapat para orientalis yang boleh saja dikatakan “salah”, tetapi kita bisa meneliti gagasan itu dengan merangkainya bersama latar belakang yang memotivasi mereka melakukan penelitian itu, lalu apa pendekatan keilmuan yang mereka lakukan, dan bagaimana sikap kita terhadap cara pandang Barat terhadap Islam.

Dengan tidak hanya berkutat pada aspek gagasan, ide, pemikiran, tesis dan teori yang mereka kemukakan, tetapi juga memahami pendekatan dan latar belakang yang menjadi motif penelitian mereka, maka pada titik akhirnya kita bisa memberikan kesimpulan, respon, serta sikap yang lebih berimbang, tidak emosional, atau menolak secara membabi buta.

Dengan cara itu, kita akan bisa mengambil “manfaat” dalam kaitan aspek metodologis yang bisa ditiru – jika memang ada dan berguna, sekaligus sebagai wujud keterbukaan sikap kita terhadap siapapun subyek yang melakukan penelitian terhadap ajaran Islam secara umum. Artinya kita tak perlu terburu-buru bersikap gegabah apalagi jika belum tau. Perlunya meninjau untuk tau apa sebenarnya yang mereka inginkan dan sampaikan setelah itu kita bisa menilai atau memberikan kritik dengan lebih bijaksana.

Dengan kata lain, kita tidak perlu merasa gusar untuk membuka kitab suci kita sendiri, karena kitab al-Qur’an diperuntukkan bagi seluruh isi alam raya. Siapapun berhak untuk membukanya, dan siapa yang mampu membacanya dengan benar, maka mereka akan menemukan kebenaran hakiki di dalamnya.

Maka biarkan saja orientalis mengkaji al-Quran. Kalau kita melarang, bukankah sama saja kita menghalangi mereka belajar dengan al-Quran. Inilah salah satu bentuk tabligh yang menjadi kewajiban utama kaum muslimin, tentunya dengan menyerahkan sepenuhnya hasil dari “penyampaian” itu kepada Allah, karena Allah jualah yang berwenang menurunkan hidayah-Nya dan membuka hati siapa saja yang dikehendaki-Nya. Kewajiban kita hanya menyampaikan!