Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Mengenal Aliran Neo-Klasik dalam Kesusastraan Arab

Neo-Klasik
Gambar: Republika

Aliran kesusastraan Arab pada masa modern terdiri dari banyak aliran. Munculnya aliran kesusastraan Arab modern dimulai pada masa Napoleon Bonaparte melakukan ekspansi ke Mesir pada tahun 1798. Kesadaran bangsa Arab pada saat itu menjadi tergugah dengan hadirnya interaksi kebudayaan antara bangsa Arab dan bangsa Eropa.

Aliran neo-klasik merupakan aliran kesusastraan Arab yang pertama kali muncul pada masa modern. Munculnya aliran neo-klasik merupakan bentuk respon atas perkembangan pesat kesusastraan Eropa. Selain itu, aliran neo-klasik juga muncul untuk merespon modernisasi yang sedang terjadi pada bangsa Arab.

Pada masa tersebut, perkembangan kesusastraan Arab mengalami perubahan yang cukup signifikan. Oleh karenanya, masa ini bisa disebut sebagai masa nahdah atau kebangkitan. Beranjak dari perkembangan kesusastraan Eropa, kesusastraan Arab juga sangat tertarik dengan warisan yang ditinggalkan oleh para pendahulunya.

Kemunculan Mazhab atau Aliran Kesusastraan

Mazhab secara bahasa berarti “jalan atau keyakinan”. Mazhab juga berarti sekumpulan asumsi dan teori sastra yang saling tekait dan membentuk kesatuan yang teratur. Asumsi tersebut dapat berupa keyakinan, pandangan hidup, atau cara pandang tertentu terhadap kesusastraan. Dalam tradisi kesusastraan Eropa, aliran kesusastraan disebut sebagai trend atau school.

Oleh karenanya, istilah tersebut juga diadopsi oleh beberapa kritikus sastra Arab seperti madrasah diwan atau school of anthology oleh Abbas Mahmud al-Aqqad di Mesir. Ia banyak dipengaruhi oleh kesusastraan Inggris. Dalam pembahasan aliran kesusastraan di kalangan kritikus sastra Arab, kemunculan mazhab atau aliran seperti yang ada saat ini merupakan pengaruh dari perkembangan kesusastraan Eropa.

Dalam pembahasan aliran kesusastraan oleh beberapa kritikus sastra Arab, mazhab atau aliran kesusastraan baru dirumuskan pada masa modern. Kategorisasi mazhab sastra pada era jahiliyah misalnya, baru dirumuskan oleh kritikus sastra Arab pada masa modern.

Jadi, para sastrawan maupun seniman pada era jahiliyah maupun abad pertengahan tidak mengenal aliran kesusastraan atau mazhab sastra. Kategorisasi aliran kesusastraan pada era Jahiliyah maupun abad pertengahan hanya sebatas menggunakan ukuran yang terbatas dan tidak mendalam, baik dari segi konvensi maupun substansi karya sastra para sastrawan maupun seniman pada era tersebut.

Pada masa modern, kategorisasi aliran kesusastraan atau mazhab sastra baru menemukan bentuk yang lebih kompleks karena melibatkan landasan filosofis yang jelas dan berkembang secara mendalam yang berakar pada filsafat, agama, atau ideologi tertentu. Maka, dapat disimpulkan bahwa pembahasan mengenai aliran kesusastraan atau mazhab sastra baru mendapatkan bentuknya pada masa modern dan tidak dikenal pada masa klasik maupun pada abad pertengahan.

Baca Juga  Melihat Kesusastraan Arab Masa Pra Islam

Muhammad Mandour (1907-1965), seorang kritikus sastra Mesir berpendapat bahwa aliran kesusastraan atau mazhab sastra seperti yang kita kenal saat ini dibentuk dan dirumuskan pada era renaisans. Ia melanjutkan bahwa aliran sastra tidaklah diciptakan oleh para penyair atau seniman dari ketiadaan atau ruang kosong tanpa konteks, melainkan lahir dari keadaan psikologis, sosial, dan politik yang berbeda lalu datanglah penyair, seniman, penulis, dan kritikus sastra setelahnya untuk meletakkan dasar-dasar dan aturan untuk mengekspresikan keadaan yang dari keseluruhannya terbentuklah aliran-aliran kesusastraan.

Neo-Klasik di Dunia Arab dan Perlawanan Kebudayaan

Kesusastraan Arab pada masa sebelumnya, yaitu masa kesultanan Mamluk dan kesultanan Utsmani, tidak terlalu menjadi perhatian yang menyebabkan kemunduran bagi kesusastraan Arab. Oleh karenanya, kondisi kesusastraan Arab pada masa modern mengalami perubahan yang signifikan dengan hadirnya berbagai aliran kesusastraan Arab yang masing-masing dipengaruhi oleh aliran kesusastraan Eropa.

Adapun faktor-faktor yang mendorong modernisasi pada bangsa Arab yang nantinya akan berdampak pada pengembangan kesusastraan Arab yaitu pembangunan lembaga pendidikan, pembuatan industri percetakan, pengembagan industri surat kabar, dan gerakan penerjemahan.

Misalnya, pemerintahan Mesir yang saat itu berada di bawah kekuasaan Muhammad Ali Pasha sedang melakukan modernisasi dalam berbagai bidang, termasuk dalam bidang pendidikan dan kesusastran. Para mahasiswa Mesir diberangkatkan ke Eropa untuk mempelajari kebudayaan bangsa Eropa.

Aliran neo-klasik di dunia Arab muncul pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Seperti Eropa, aliran neo-klasik di Arab merujuk pada karya-karya kesusastraan klasik. Mereka meyakini bahwa kebudayaan otentik yang mereka miliki direpresentasikan dengan sangat baik melalui karya-karya tersebut. Namun, terdapat perbedaan yang signifikan dalam kebangkitan aliran neo-klasik dalam dua latar belakang kebudayaan yang berbeda tersebut.

Di dunia Arab, aliran neo-klasik lahir dalam era kolonialisme Eropa yang begitu menyasar di berbagai dunia Arab. Tentunya, kolonialisme bukan hanya sebatas ekspansi teritorial yang melibatkan penguasaan ekonomi maupun politik, tetapi juga ekspansi kebudayaan. Lahirnya aliran neo-klasik di dunia Arab hadir sebagai antitesis kebudayaan Eropa yang mereka yakini sebagai kebudayaan yang bertentangan dengan nilai-nilai kearaban dan nilai-nilai keislaman. Namun, perlu tinjauan lebih mendalam mengenai posisi intelektual sekaligus politis yang dimiliki oleh aliran neo-klasik di dunia Arab.

Masa kebangkitan Eropa atau lazim disebut masa renaisans dalam kesusastraan berangkat dari warisan klasik yang dimiliki oleh bangsa Yunani dan Romawi. Terinspirasi dari sejarah tersebut, aliran neo-klasik di Arab berusaha untuk menghidupkan kesusastraan Arab klasik yang dianggap memiliki keotentikan dan kekhasannya tersendiri sebagaimana yang akan direpresentasikan dalam beberapa karya para penyair aliran neo-klasik.

Baca Juga  Minuman Keras di Malam Lebaran dan Pudarnya Makna Takbiran

Dua tokoh pionir aliran neo-klasik dalam kesusastraan Arab yaitu Mahmud Sami al-Barudi dan Ahmad Syauqi. Aliran neo-klasik ini kemudian disambut dan didukung para sastrawan lain di Mesir seperti Hafiz Ibrahim, Ismail Sobri, dan Ali al-Jarim; Ma’ruf al-Rasasi dan Jamil Sidqi di Irak; serta Basyarah al-Khauri di Lebanon. Aliran ini memang tidak terlalu banyak melakukan inovasi pada teknik pengungkapan puisi.

Perlu diperhatikan bahwa aliran neo-klasik berpegang teguh pada kaidah-kaidah kesusastraan Arab klasik atau tradisional seperti amudus syi’ri, menggunakan wazan atau pola syair (arudh), dan rima (qofiyah). Mereka juga mempertahankan tema-tema puisi Arab klasik seperti madh (sanjungan), fakhr (kebanggaan), ritsa (ratapan), dan ghazal (cinta). Kemudian, aliran neo-klasik mencoba untuk memodifikasi konten karya sastra mereka yang tetap berpegang teguh pada kaidah-kaidah yang ada dalam kesusastraan Arab klasik.

Misalnya, dalam puisi era Jahiliyah, para sastrawan mengekspresikan ghazal dalam bentuk kecintaan yang begitu besar terhadap keindahan tubuh wanita atau kecintaan terhadap minuman keras. Namun, melalui tangan para penyair neo-klasik, tema ghazal tetap dipertahankan tetapi substansi puisi mengalami perubahan yang signifikan.

Para penyair neo-klasik memodifikasi dengan sangat baik tema ghazal yang tadinya mengekspresikan cinta dengan cara yang sangat vulgar kepada wanita dan minuman keras menjadi kecintaan yang begitu tinggi terhadap identitas kebangsaan dan nasionalisme Arab. Tema ritsa yaitu ratapan akibat kesedihan yang begitu mendalam karena ditinggalkan oleh kekasih tercinta dimodifikasi menjadi ratapan akan kemiskinan yang melanda negeri-negeri Arab.

Kiranya penting untuk menyinggung peran kebudayaan Ahmad Syauqi sebagai tokoh penting dalam kebangkitan kesusastraan Arab pada masa modern di bawah payung aliran neo-klasik. Sebagai sastrawan sekaligus cendekiawan yang tersohor, Ahmad Syauqi berhasil mengintegrasikan antara warisan kuno dan pembaharuan dalam kesusastraan Arab. Ahmad Syauqi tidak sekadar membebek pada warisan kuno semata sebagaimana yang sering dituduhkan kepadanya, melainkan Ahmad Syauqi juga melakukan pembaharuan-pembaharuan yang sangat penting dalam kesusastraan Arab.

Ahmad Syauqi meyakini bahwa pembaharuan merupakan sebuah hubungan berkelanjutan dari masa lalu, tidak seperti modernisme ala renaisans di Eropa yang berusaha memutuskan hubungan mereka dengan masa lalu, yang pada akhirnya menghasilkan sekularisme dan nihilisme terhadap kehidupan sosial dan keagamaan.

Ahmad Syauqi dan angkatannya berhasil dengan sangat baik dalam hal memanfaatkan budaya asing, yaitu Eropa dan mengintegrasikannya ke dalam kesusastraan Arab sehingga kesusastraan Arab hadir dengan spirit serta energi yang baru, tetapi tidak tercerabut dari identitas Arab-Islam yang khas. Ahmad Syauqi menghadirkan kesusastraan Arab yang bernuansa glokalitas, aktif dan berperan dalam isu-isu global dengan ekspresi yang sangat menghargai identitas lokal.

Baca Juga  Ibn al-Qayyim: Hermeneutika Tradisionalistik-Rasional dalam Tafsir

Karakteristik Kesusastraan Aliran Neo-klasik di Dunia Arab

Adapun karakteristik Aliran Neo-Klasik di dunia Arab adalah: Pertama, para penyair mengangkat tema-tema puisi Arab klasik serta mengusung tema-tema baru dengan cara merespons tuntutan zamannya seperti tema patriotisme dan tema-tema sosial seperti yang tergambar dalam puisi-puisi Hafiz Ibrahim.

Kedua, beberapa penyair yang mengakui pola qashidah klasik dengan meletakkan atlal dan ghazal di awal, namun ada juga yang mengabaikan pembukaan semcam ini sehingga dalam puisinya tampak ada kesatuan tematik seperti puisi-puisi Ahmad Syauqi dan Hafiz Ibrahim.

Ketiga, larik tetap merupakan kesatuan makna dan seni, sedangkan qashidah semacam ini belum bisa mewujudkan satu kesatuan struktur karya yang otonom. Keempat, referensi qashidahnya adalah kamus puisi Arab klasik, tetapi ada juga beberapa penyair yang mengambil kata-kata baru dari realitas kehidupan yang ada.

Kelima, aspek didaktis dan etis sangat mendominasi. Keenam, sejumlah penyair mencoba menandingi puisi-puisi populer Arab klasik dan meniru tema, metrik, dan rimanya.

Melalui salah satu tokohnya yaitu Mahmud Sami al-Barudi, aliran neo-klasik berhasil menghidupkan kembali unsur subjektivitas dalam berpuisi yang telah lama ditinggalkan dalam tradisi puisi Arab saat itu. Al-Barudi membawa kembali style, bentuk, dan musikalitas puisi Arab pada masa keemasanya bukan untuk taklid buta atau larut dalam romantisme kejayaan penyair masa lampau.

Akan tetapi langkah ini sebagai otokritik bagi penyair sezamannya untuk menjaga tradisi dan peradaban bangsa Arab, terlebih lagi mengembalikan kepercayaan penyair sezamannya untuk percaya diri dan muncul dengan karya baru. Pada akhirnya, kritik terhadap aliran neo-klasik di dunia Arab tidak dapat dihindarkan. Munculnya penyair dan seniman romantisisme di dunia Arab oleh Abbas Mahmud al-Aqqad, Abdul Qadir al-Mazini, dan Abdurrahman As-syarqawi lahir karena kritik keras terhadap para pendahulu mereka.

Namun, sebagai pemantik kebangkitan dalam kesusastraan Arab, aliran neo-klasik patut diapresiasi. Kemunculan penyair maupun seniman setelahnya pun banyak dipengaruhi oleh aliran neo-klasik. Sumbangsih kebudayaan yang telah ditorehkan oleh aliran neo-klasik di dunia Arab telah menjadi sebuah jembatan kebudayaan yang menghubungkan antara masa lalu dengan masa kini, antara globalisasi dan lokalitas.

Penyunting: Bukhari

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sekarang aktif di Pimpinan Komisariat IMM Fakultas Agama Islam sebagai Kabid Riset dan Pengembangan Keilmuan. Alumni PP Shohwatul Is’ad Padanglampe, Sulawesi Selatan dan Muhammadiyah Boarding School Muhiba Bantul, Yogyakarta.