Mengapa kita harus berpuasa? Apa yang penting dari puasa Ramadan? Allah menanamkan dalam kewajiban berpuasa dengan pesan yang kuat, agar menunaikan ibadah puasa ramadhan dengan sempurna dan semampu yang bisa dilakukan. Bahkan generasi terdahulu yang juga pernah menunaikan ibadah puasa.
Awal ibadah puasa diperintahkan oleh Allah pada hari senin, bulan syaban tahun kedua hijriyah. Ditandai dengan turunnya Al-Qur’an surah al-baqarah ayat 183, bahwa ibadah puasa ditunaikan dibulan Ramadhan. Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah/2 : 183)
Puasa diwajibkan bagi seluruh orang beriman, tanpa terkecuali. Mulai turunnya ayat tersebut diwajibkan atasnya menunaikan ibadah puasa disetiap bulan Ramadhan. Sebagaimana generasi sebelumnya juga mendapati kewajiban hal tersebut. Puasa ditujukan dengan harapan, agar yang menunaikannya dapat meningkatkan takwa.
Takwa inilah sebagai penutup ayat ini, menunjukkan tujuan ibadah puasa itu ditunaikan. Memberikan kesan yang mendalam akan hakikat ibadah puasa Ramadhan, memberikan peluang untuk meningkatkan takwa. Hadirnya Ramadhan, di desain untuk melatih diri pribadi agar menjadi manusia yang bertakwa.
Apa itu takwa?
Kemudian, pertanyaan selanjutnya, apa itu takwa?. Mengapa begitu pentingnya takwa ini, apakah sangat berpengaruh dalam proses berkehidupan, sehingga harus terus dilatih dalam setiap ibadah puasa Ramadhan. Takwa secara sederhana, dapat diartikan akumulasi dari karakter moral yang positif; kumpulan dari sifat-sifat baik yang hadir dalam jiwa manusia. Dari pancaran positif inilah dalam jiwa manusia, kemudian keluar dan lahirlah yang dieksekusi tubuh manusia menjadi sikap yang mulia atau yang biasa disebut akhlaqulkarimah.
Dari ujung kepala hingga ujung kaki. Seperti, mata akan melihat tergantung pada kondisi jiwa memberikan instruksi kepada mata untuk menatap. Lisan bisa bertutur baik, itu bergantung pula pada keadaan jiwa manusia yang menginstruksikan. Demikian pula telinga saat mendengar dan seluruh anggota tubuh yang lain, sampai ke ujung kaki untuk melangkah sekalipun.
Jiwa menjadi pusat yang memberikan instruksi sekaligus memberikan signal dan perintah kepada tubuh manusia untuk bersikap, bertindak dan berprilaku yang baik. Itulah yang disebut dengan takwa, karakter moral yang memberikan instruksi kepada bagian tubuh untuk melahirkan karakter dan sikap berprilaku yang baik. Hal ini senada dengan yang dimaksud dalam Al-Qur’an surah asy-syams ayat 7-10, Allah berfirman:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)
“Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q. S. al-Syams/91 : 7-10).
Jiwa manusia, secara sederhananya dipahami memiliki karakter moral. Diantaranya yang disebut dengan takwa sebagai puncak akumulasi sifat-sifat baik dan fujur sebagai kebalikannya.
Mengapa kita berpuasa?
Di bulan Ramadan, kita dilatih untuk banyak tingkatkan kebaikan, mencegah banyak hal-hal yang dirasa tidak baik. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, pikiran, perkataan, pendengar yang buruk dijauhkan. Sebaliknya, semuanya yang baik harus dioptimalkan. Itulah tujuan dari puasa, puncak ketakwaan. Puncak ketakwaan, akan melahirkan suatu perisai terbaik yang mencegah dari keburukan, disebut dengan junnah. Saat yang bersamaan mengoptimalkan karakter kebaikan yang mendekatkan manusia kepada jannah, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Nabi Muhammad Saw:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
“Puasa adalah perisai” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Orang yang menunaikan puasa dengan benar, maka hal itu berpotensi menghadirkan perisai untuk mencegah pelakunya dari berbagai perbuatan buruk. Saat yang bersamaan, mendorong, memotivasi pelakunya mendekatkan diri ke berbagai perbuatan baik. Itulah tujuan puasa, agar mampu menjadi pribadi yang bertakwa la’allakum tattakun.
Maka dari itu, mari menata diri, agar mampu menghadirkan pribadi takwa yang paripurna. Puncaknya, mampu mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah. Wallahu a’lam.
Editor: An-Najmi

























Leave a Reply