Menghormati tamu merupakan perbuatan yang bijak dan mulia. Penghormatan pada sang tamu tidaklah terbatas pada tutur kata yang halus dalam menyambutnya. Termasuk dengan perbuatan yang menyenangkan. Teladan yang menjelaskan ini yang bergelar Abu adh-Dhuyuf; bapaknya para tetamu, Nabi Ibrahim As. Artikel ini membahas kisah indah tentang Nabi Ibrahim menjamu tetamunya.
Allah dalam al-Quran al-Karim memerintahkan kepada Nabi Muhammad mengabarkan tentang bagaimana Nabi Ibrahim memperlakukan tamunya. “Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim. Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan: “Salaam”. Berkata Ibrahim: “Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu”. Mereka berkata: “Janganlah kamu merasa takut. Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim”. (QS. al-Hijr [15]: 51-53)
Tafsir QS. Al-Hijr Ayat 51-53
Ayat di atas berbunyi “Wa Nabbiˋhum”. Artinya “Beritakanlah kepada mereka wahai Muhammad!” Berasal dari kata an-Naba’ yang oleh pakar-pakar bahasa Arab dimaknai sebagai berita penting dan mempunyai relevansi untuk kehidupan kita. Yang menarik adalah Allah dalam mengawali QS. al-Hijr ayat 51; memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengabarkan berita penting itu kepada kita. Terdapat hikmah besar yang perlu menjadi perhatian kita.
Pelajaran berharga yang bisa kita petik dari kisah Nabi Ibrahim dalam memuliakan tamunya. Suatu hari beliau didatangi tamu-tamu yang merupakan para malaikat. Dalam ayat di atas, Allah benar-benar memuji kekasihNya. Para tetamu malaikat tadi, ketika masuk ke rumah beliau, mereka memberikan salam dengan ucapan, “Salaaman”. Dengarkan bagaimana jawaban Nabi Ibrahim terhadap salam mereka. Dalam ayat ini tahiyat Nabi Ibrahim kepada tamunya tidak tertulis, dalam redaksi ayat surat lain, beliau menjawab, “Salaamun”. (Adz-Dzariyat: 25) Maksud salam beliau ini adalah “Salaamun daaim ‘alaikum (keselamatan yang langgeng untuk kalian)”. (Wahbah Zuhaili, Tafsir al-Munir, Jilid 27, h. 24)
Ulama mengatakan bahwa balasan salam Nabi Ibrahim itu lebih baik dan lebih sempurna daripada salam para malaikat tadi. Karena Nabi Ibrahim menggunakan jumlah ismiyyah yang mengandung makna langgeng dan terus menerus. Sedangkan para malaikat tadi menggunakan jumlah fi’liyah hanya mengandung makna terbaharui. (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Tafsir al-Qayyim, h. 447)
***
Tafsir al-Azhar menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim itu suka menerima tetamunya dan berbahagia. Ia iba hatinya kalau satu hari tidak ada tetamu yang makan bersamanya. Istrinya Sarah, selalu diminta menyediakan makanan untuk para tamunya. Anak sapi kecil umur sekian bulan dipotong, dimasak dan dihidangkan, bukan main enak dan lunak dagingnya. Tetapi seketika istrinya menghidangkan makanan, datang firasat lain kepada Ibrahim. Bulu romanya berdiri. Ini bukan manusia! Tangan tetamu-tetamu ini tidak sampai kepada makanan itu, artinya seperti kapas saja. Dia takut. Dikatakannya terus terang, “Kami merasa takut kepada kamu, wahai tetamu kami.“
Melihat Ibrahim merasa takut, maka para tamu malaikat itu mengatakan kepadanya. Agar tidak takut karena maksud kedatangan mereka ialah untuk menyampaikan kabar gembira dari Allah. Bahwa ia akan dianugerahi seorang anak laki-laki yang saleh. Dalam firman Allah yang lain disebutkan bahwa anak yang akan dianugerahkan itu akan mempunyai kedudukan yang penting di kemudian hari. (Tafsir Kementrian Agama RI)
Membalas Salam dengan Jawaban Lebih Baik dan Memuliakan Tetamunya
Inilah contoh akhlaq yang mulia dari Nabi Ibrahim As ketika menerima para tamunya. Kita bisa mengambil pelajaran dari kisah ayat di atas; hendaklah kita selalu menjawab ucapan salam dari saudara kita dengan balasan yang lebih baik. Sebagaimana Allah Ta’ala pun telah memerintahkan kita dalam firmanNya. “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya.” (an-Nisa’: 86)
Diriwayatkan oleh beberapa mufasir lain, bahwa Nabi Ibrahim menyadari bahwa ia tidak mengenali tamunya; berkata kepada Sarah bahwa wajah mereka asing, mungkin karena mereka datang dari tempat yang sangat jauh. Dan dikatakan pula para tetamunya itu datang pada waktu yang tidak wajar, malam dini hari. Meskipun begitu beliau As begitu memuliakan tetamunya hingga menyembelih anak sapi gemuk dan menyuruh istrinya memasak; supaya dapat menyediakan hidangan yang terbaik untuk tamunya. Jika diibaratkan dengan konteks zaman sekarang daging yang disajikan itu jenis tenderloin yang juicy dan sangat lezat untuk disantap.
Namun si-tetamu tadi tak menyentuhnya sedikitpun. Mengutip dari Tafsir Imam al-Alusi, Nabi Ibrahim pada saat itu sangat cemas sebab menurut tradisi masyarakat pedesaan. Jika tamu menolak hidangan berarti mereka memiliki niat jahat kepada tuan rumah. Nabi Ibrahim pun melirik ke arah Sarah yang saat itu menemaninya dengan penuh kecemasan. Kecemasannya semakin bertambah karena Sarah tidak mengerti yang di isyaratkan Nabi Ibrahim kepadanya.
Hingga akhirnya Nabi Ibrahim dengan kadar sebagai manusia biasa akhirnya berani mengungkapkan perasaannya dengan perkataan santun nan lembut, “Aku mengundang kalian untuk menikmati hidangan yang telah ku sediakan. Tetapi kalian tidak menyentuhnya sedikitpun. Apakah kalian mencurigaiku bahwa aku akan berbuat jahat dan mencelakakan kalian?” tanya Nabi Ibrahim penasaran. Namun akhirnya para tamu tadi mengaku bahwa mereka adalah malaikat Allah yang hendak mengabarkan kabar gembira kepada keduanya.
Mencontoh Akhlak Mulia Nabi Ibrahim
Dari sini kita bisa mengambil ibrah dalam melayani tetamu kita dengan pelayanan dan penyajian makanan yang istimewa. Memuliakan dan menjamu tamu inilah ajaran Islam. Dari Abu Hurairah Ra. Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim.)
Meneladani bagaimana cara Nabi Ibrahim ketika memuliakan para tamunya, telah dijelaskan dalam banyak ayat salah satunya QS. al-Hijr ayat 51-53 di atas. Beliau menyambut dengan perkataan yang lembut serta membalas penghormatan dengan ucapan yang lebih baik. Ketika Ibrahim mengajak tetamunya untuk menyantap makanan.
Bagaimana beliau menawarkan pada mereka? Beliau katakan, “Ala ta’kuluun” (mari silakan makan). Bahasa yang digunakan Ibrahim ini dinilai lebih halus dan bertata krama daripada kalimat “Kuluu” (makanlah kalian). Inilah contoh dari beliau bagaimana sebaiknya seseorang bertutur kata. Ketika menghidangkan makanan ia pilihkan pula sajian terbaik meskipun harus merepotkan dirinya sendiri; dengan menyembelih dan memilih daging yang terbaik; yang terpenting adalah kebahagian dan kepuasan tetamunya. Demikianlah akhlak mulia dari Nabi Ibrahim yang terabadikan dalam al-Quran al-Karim, yang seharusnya dapat kita jadikan teladan. Wallahu a’lam.[]


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.