Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Meneladani Karakter Maryam dalam QS. Maryam: 20

Sumber: https://gulenarabic.com
Contents

Wanita merupakan bagian dari masyarakat yang tugasnya dibebani untuk menjadi madrasah bagi anak-anaknya dan membahagiakan suaminya. Ia menjadi tempat teduh melalui kasih sayangnya, senyumannya dan sikapnya yang lemah lembut bagi keluarganya. Kodratnya yang melebihi laki-laki baik dari segi derita haid, kehamilan, kelahiran, dan nifas. Teladan perempuan yang indah dalam Al-Qur’an adalah Maryam binti Imran.

Di samping sifat kewanitaannya yang memaksa mengikuti cara yang khusus, begitu juga baik dari segi berpakaiannya, cara berbicaranya, serta ibadah mu’amalah sebagaimana yang disyari’atkan Allah swt dan rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda

اَلْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اِسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، وَإِنَّهَا لاَتَكُوْنُ أَقْرَبَ إِلَى اللهِ مِنْهَا فِيْ قَعْرِ بَيْتِهَا

Artinya: “Wanita itu aurat, jika ia keluar dari rumahnya maka setan mengikutinya. Dan tidaklah ia lebih dekat kepada Allâh (ketika shalat) melainkan di dalam rumahnya”.

***

Wanita memang didefinisikan sebagai makhluk yang memiliki  keunikan yang Allah ciptakan dengan berbagai sifat yang melekat dalam dirinya. Perempuan juga memiliki keistimewaan yang memberikan kelebihan tersendiri sehingga menjadikannya salah satu makhluk yang di sebutkan di dalam Al-Qur’an. Tidak heran pada era modern ini wanita memiliki sifat dominan yang mudah memerankan hati di dalam segala tindakannya. Kodratnya sebagai muslimah harus menjaga kesucian dirinya dari perbuatan keji yang dapat merusak kehormatannya. Karena, di dalam diri perempuan baik lekukan tubuhnya, suaranya yang lemah lembut. Bahkan geraian rambutnya yang panjang merupakan mahkota yang harus di jaga kesuciannya.

Salah satu wanita terpuji yang Allah abadikan namanya di dalam Al-Qur’an yaitu Siti Maryam. Maryam adalah seorang wanita sholehah yang namanya sudah terdengar akrab bagi umat Islam. Kisahnya yang menjadi ibunda Nabi Isa dengan cara yang luar biasa. Tanpa adanya peran laki-laki di dalamnya, dikenal karena kesabaran dan keteguhannya dalam menjalankan perintah Allah. Ia menjadi teladan bagi semua yang datang setelahnya khususnya kaum perempuan. Allah berfirman di dalam Qs Maryam ayat 20

Baca Juga  Memahami Ayat-Ayat Perang: Analisis Penafsiran Sahiron Syamsuddin

قَالَتْ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ غُلٰمٌ وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌ وَّلَمْ اَكُ بَغِيًّا

Artinya : “Dia (Maryam) berkata, “Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina”

***

Di Dalam tafsir Al-Misbah di jelaskan bahwa ketika Maryam mendengar ucapan malaikat jibril tentang anugrah seorang anak. Maryam terheran-heran sehingga berkata “Bagaimana dan dengan cara apa akan ada bagiku seorang anak laki-laki yang kulahirkan dari rahimku. sedangkan tidak pernah seorang manusia menyentuhku”. Ucapan Maryam وَّلَمْ اَكُ بَغِيًّا  “Aku bukanlah seorang pezina” setelah menyatakan وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌ “tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku” bukan sekadar pengulangan atau penekanan. Tetapi masing-masing mengandung makna yang berbeda, yang pada akhirnya saling kuat menguatkan.

Ucapannya menafikan sentuhan manusia, mengandung makna bahwa ia belum pernah berhubungan seks. Ini ditegaskannya karena ketika itu beliau telah dipinang oleh Yusuf an-Najjar. Dengan demikian boleh jadi timbul dugaan bahwa telah terjadi sesuatu di antara keduanya bila ia hamil. Di sisi lain bila kehamilan terjadi pastilah tunangannya akan sangat kecewa dan marah. Adapun pernyataannya bahwa beliau bukan seorang pezina atau wanita jalang. Maka ini untuk menegaskan bahwa sejak dahulu beliau bukanlah seorang wanita yang melakukan tindakan asusila. Dan itu akan dipertahankannya hingga masa yang akan datang.

***

Pada sejatinya wanita memiliki hakikat yang harus menjaga kesucian dirinya dan menjaga kehormatan serta mematuhi perintah, syariat Allah swt dan sunnah Rasulullah saw. Wanita memiliki kedudukan yang istimewa dalam agama islam, perannya yang sangat penting membawa dirinya ikut berpengaruh terhadap kehidupan di sekitarnya. Ketika kecil wanita akan menjadi akan menjadi penghalang neraka bagi kedua orangtuanya bahkan Rasulullah saw bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, 

Baca Juga  Makna Semantik Kata Nazzala dalam Al-Qur’an

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ

“Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku” (Anas bin Malik berkata: Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau). (HR Muslim).

Ketika wanitadewasa  telah telah memasuki ikatatan pernikahan, maka ia akan menjadi penyempurna seaparuh agama suaminya sebagaimana Rasulullah saw bersabda “Siapa yang menikah berarti dia telah menyempurnakan setengah agamanya. Karena itu bertaqwalah kepada Allah untuk setengah yang kedua.” Kemudian, ketika wanita memasuki masa tuanya maka ia memiliki surge yang berada dibawah telapak kakinya. Dari Mu’awiyah bin Jhimah as-Salami bahwasannya Jahimah pernah datang menemui nabi kemudian berkata: Wahai Rasulullah, aku ingin pergi jihad, dan sungguh aku datang kapadamu untuk meminta pendapatmu. Beliau berkata:

أَنَّ جَاهِمَةَ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ وَقَدْ جِئْتُ أَسْتَشِيرُكَ فَقَالَ هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَالْزَمْهَا فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا. (رواه النسائي).

Artinya: “Bahwa Jahimah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah saya ingin ikut berperang. Ini saya datang untuk meminta petunjukmu!’ Beliau bertanya, ‘Apakah engkau masih memiliki ibu?’ Ia menjawab,’ Ya!’ Beliau bersabda, ‘Jagalah ibumu itu, karena surgamu itu ada di bawah kakinya.”

Penyunting: Ahmed Zaranggi