Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Makna Semantik Kata Nazzala dalam Al-Qur’an

nazzala
Sumber: https://www.kangdidik.com

Al-Qur’an turun berbahasa Arab kepada Nabi Muhammad Saw. dengan keistimewaannya sebagai bahasa ritual keagamaan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan Arab, bahasa persatuan peradaban-peradaban, serta bahasa yang terjaga dari perubahan frontal atau kepunahan (Sopian, 2020: 131). Penggunaan istilah ‘turun’, tulisan ini terfokus pada kata nazzala dalam Al-Qur’an. Konteks mendasar Al-Qur’an sebagai wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw., kata nazzala ini memiliki terminologi klasik dan kontemporer dengan menempatkannya dalam makna internal teks.

Objek material tulisan ini adalah kata nazzala. Sedangkan, objek formal tulisan ini adalah tinjauan semantik, dengan mengungkap makna dasar, sintagmatik, dan paradigmatik. Maka, tulisan ini bertujuan untuk mengetahui makna nazzala dalam Al-Qur’an berdasarkan analisis semantik.

Makna Dasar

Kata nazzala merupakan istilah yang berasal dari nazala yanzilu nuzu>lan, artinya ‘perpindahan dari atas ke bawah (turun)’, baik secara fisik maupun non-fisik’. Dengan demikian, makna yang terkandung dalam kata nuzu>l, di samping dapat dimaknai sebagai tempat, pada hakikatnya juga menunjukkan kepada derajat dan kedudukan (Shihab, 2007: 2/722).

Dalam Mufrada>t fi> Ghari>b al-Qur’a>n, kata nuzu>l asal maknanya adalah ‘turun dari atas’. Disebutkan dalam sebuah kalimat nazala ‘an da>bbatihi, artinya ‘ia turun dari binatang tunggangannya’. Pada kalimat nazala fi> maka>lin kadha>, artinya ‘ia turun di tempat ini’. Sementara itu, kalimat anzalahu ghayruh, memiliki arti ‘ia diturunkan oleh orang lain’ (Al-Ashfahani, 2017: 3/602).

Kalimat nazala bikadha> artinya ‘ia menurunkan dengan hal ini’, dan ungkapan inza>l Alla>hi ta’a>la> ni’amahu wa niqamahu ‘ala> al-khalqi artinya ‘Allah Swt. memberikan nikmat kepada para makhluk-Nya’. Bentuk pemberian ini dapat diartikan wujud nikmatnya itu sendiri, seperti halnya dengan menurunkan Al-Qur’an (Al-Ashfahani, 2017: 3/602).

Baca Juga  Kata Ilmu Dan Derivasinya Dalam Al-Qur’an

Singkatnya, kata nazzala jika ditinjau melalui makna dasarnya, berasal dari nazalayanzilunuzu>lan, artinya ‘peralihan yang muasalnya dari atas’. Adapun ketika menggunakan istilah ‘turun’, menurut KBBI adalah ‘bergerak ke arah bawah’ atau ‘bergerak dari hulu ke hilir’ (Bahasa, 2008: 1760). Untuk itu, kata nazzala berarti ‘menurunkan dari ketinggian menuju ke bawah’.

Makna Sintagmatik

Kata nazzala dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 12 kali (Baqi, 2015: 920-921). Pertama, akan dianalisis dengan melihat makna sintagmatiknya, sebuah tela’ah teoritis yang berusaha menentukan makna suatu kata dengan cara memperhatikan letak istilah di depan dan belakang sebagaimana sedang dibahas pada bagian tertentu. Berikut uraiannya:

Pertama,kitab suci. Kata nazzala dalam Al-Qur’an memiliki hubungan sintagmatik terhadap kitab suci, meliputi: Al-Qur’a>n Su>rah al-Baqarah [2]: 176, Al-Qur’a>n Su>rah A<li Imra>n [3]: 3, Al-Qur’a>n Su>rah al-Nisa>’ [4]: 136, Al-Qur’a>n Su>rah al-Nisa>’ [4]: 140, Al-Qur’a>n Su>rah al-A’ra>f [7]: 196, Al-Qur’a>n Su>rah al-Furqa>n [25]: 1, dan Al-Qur’a>n Su>rah Muhammad [47]: 26.

Kedua,azab. Kata nazzala terhubung secara sintagmatis terhadap azab, disebutkan pada Al-Qur’a>n Su>rah al-A’ra>f [7]: 71. Dilihat historisitas teksnya, adalah kisah kekaguman terhadap kekuatan fisik, yang membuat kaum Ad menghina Nabi Hud As. Terakhir, terjadi azab sebagai kemurkaan Allah Swt. akibat tidak mematuhi apa yang diturunkan-Nya (Al-Zuhayli, 2013: 4/503).

Ketiga,sumber kehidupan (air). Kata nazzala dalam Al-Qur’an memiliki hubungan sintagmatik terhadap eksistensi air, meliputi: Al-Qur’a>n Su>rah al-‘Ankabu>t [29]: 63 dan Al-Qur’a>n Su>rah al-Zukhruf [43]: 11. Kedua ayat ini membicarakan secara eksplisit segala komponen siklus kehidupan makhluk hidup dipengaruhi oleh kuasa-Nya dalam menurunkan hujan.

Keempat,nikmat hakiki. Kata nazzala terhubung secara sintagmatis terhadap nikmat dunia, disebutkan pada Al-Qur’a>n Su>rah al-Mulk [67]: 9. Ayat ini memuat situasi tentang pengakuan orang kafir jika telah datang kepadanya utusan pemberi peringatan. Sebagian orang kafir berkata: ‘Wahai para utusan, kalian tak lain kecuali dalam kondisi jauh dari kebenaran’ (Al-Zuhayli, 2013: 15/43-44).

Baca Juga  Pemaknaan Ayat Cahaya (3): Mendaki Lapisan Cahaya

Pemaparan di atas terdapat empat konteks pembicaraan atas kata nazzala dalam Al-Qur’an, yaitu kitab suci, azab, sumber kehidupan (air), dan nikmat dunia. Seluruhnya, dianalisa dari penyebutan kata nazzala dalam Al-Qur’an sebanyak 12 kali. Sehingga, kata nazzala dalam Al-Qur’an memiliki hubungan sintagmatis ketika menyoal internal teks.

Makna Paradigmatik

Setelah memaparkan analisa sintagmatik, terakhir akan dijelaskan makna kata nazzala dalam Al-Qur’an secara paradigmatik. Dengan maksud, mencoba mengkomparasikan antar kata tertentu, baik memiliki aspek kemiripan makna atau dengan makna kata yang berlawanan. Di sini penulis lebih tepatnya mengkomparasikan antara nazzala dan anzala dalam Al-Qur’an.

Kata nazzala dan anzala, dua istilah yang secara implisit memiliki kesamaan dari segi pengertian, pelaku, dan objek, meski dengan aksentuasi berbeda. Pada kata anzala, penggunaannya dalam Al-Qur’an lebih bersifat umum. Sedangkan, pada kata nazzala,penekanan pada turunnya sesuatu cenderung tertib, teratur, tersusun, dan berulang-ulang (Shihab, 2007: 2/723).

Perbedaan tersebut dapat ditemukan pada beberapa ayat dengan objek yang sama. Misalnya, kata anzala dalam Al-Qur’a>n Su>rah al-Baqarah [2]: 185, yang menekankan turunnya kitab suci sekaligus ke langit. Hal itu berbeda pada penggunaan kata nazzala, yang menekankan turunnya kitab suci secara berangsur-angsur dengan merujuk pada Al-Qur’a>n Su>rah al-Isra>’ [17]: 106.

Menurut al-Qurtubi pada Al-Qur’a>n Su>rah A<li Imra>n [3]: 3, Allah Swt. menurunkan Al-Qur’an secara bertahap. Untuk itu, disebutkan dengan kata nazzala, dan tanzi>l maknanya adalah diturunkan tidak sekaligus. Berbeda dari Taurat dan Injil yang diturunkan dalam satu waktu. Maka, disebutkan untuk penurunan dua kitab suci ini dengan kata anzala (Al-Qurtubi, 2007: 4/12-13).

Jadi, penggunaan kata nazzala secara interpretatif pada umumnya menunjukkan bahwa pelakunya adalah Allah Swt., sedangkan objeknya merujuk kepada kitab suci yang diturunkan-Nya, yaitu Al-Qur’an. Persoalan ini kemudian ditarik dengan fungsi-fungsinya sebagai bacaan, peringatan, pemisah antara hak dan batil, dan kandungan kitab meliputi argumentasi yang nyata.

Baca Juga  Al-Hayat dalam Al-Quran: Dari Kehidupan Dunia ke Potensi Berpikir

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, telah diketahui makna nuzu>l dalam Al-Qur’an ditinjau makna dasarnya, sintagamatiknya, dan paradigmatiknya. Analisis ini dilakukan dengan melihat internal teks, sehingga begitu andil ketika melibatkan sistem analisa semantik sebagai upaya mendefinisikan aspek kebahasaan dalam Al-Qur’an.