Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Memahami Al-Qur’an dan Tafsir Perspektif Asghar Ali Engineer

Engineer
Sumber:https://contendingmodernities.nd.edu/

Sebagai seorang Muslim, Al-Qur’an menjadi rujukan penting dalam setiap sektor kehidupan. Hal ini dapat dibuktikan dengan keberadaan banyaknya penafsiran yang telah dilakukan para ahli tafsir. Lahirnya keragaman tafsir ini disebabkan begitu dalamnya makna-makna yang tersimpan dalam Al-Qur’an. Kemudian menyebabkan banyaknya para ahli tafsir untuk menyingkap makna yang ada dalam Al-Qur’an. Satu di antaranya adalah Asghar Ali Engineer.

Abdul Mustaqim dalam bukunya Epistemologi Tafsir Kontemporer, menegaskan jika Al-Qur’an merupakan kitab suci shalih likulli zaman wa al-makan. Artinya Al-Qur’an merupakan kitab petunjuk yang sesuai dengan setiap masa. Al-Qur’an pula tidak hanya diperuntukkan bagi bangsa Arab saja, melainkan ia diperuntukkan bagi setiap umat Muslim di seluruh dunia.

Oleh karenanya, dalam tulisan ini akan sedikit mengulas pemikiran salah satu intelektual Islam India yakni, Asghar Ali Enginer. Pandangannya mengenai kedudukan dari Al-Qur’an dan Tafsir dalam bukunya Tafsir Perempuan Wacana Perjumpaan Al-Qur’an, Perempuan, dan Kebudayaan Kontemporer (IRCiSoD, Yogyakarta, 2022)

Biografi Intelektual Asghar Ali Engineer

Asghar Ali Engineer merupakan intelektual Muslim yang berasal dari India. Ia lahir pada 10 Maret di Salumbar, Rajasthan, India. Asghar dilahirkan di lingkungan agamis, ayahnya merupakan salah seorang ulama pendiri Dawoodu Bohra. Dawoodu Bohra merupakan sebuah gerakan yang berpaham Syi’ah Islamiyah. Sejak kecil, ayahnya telah memperkenalkan kepadanya literatur-literatur keislaman, seperti Bahasa Arab, Fiqh, Al-Qur’an, Tafsir dan Takwil Al-Qur’an.

Selanjutnya, ia menyelesaikan pendidikannya sarjananya di Vikram University dengan konsentrasi teknik sipil. Kemudian, ia mendapatkan tanggung jawab untuk menjabat sebagai insinyur selama 20 tahun di Bombay Municipal Corporation dan pensiun pada tahun 1972.

Baca Juga  Tafsir Al-Furqan; Tafsir Indonesia Karya Ahmad Hassan

Setelah pensiun, ia mendedikasikan hidupnya dalam gerakan reformasi Bohra. Dan juga pada 1977 ia dipilih untuk menjadi Sekjen The Central Board of Dawoodi Bohra Community. Kemudian, pada tahun 2004 ia didepak dari Dawoodi Bohra karena menginisiasi Progressive Dawoodi sebagai bentuk kritiknya terhadap pemimpin gerakan.

Sebagai seorang cendekiawan barang tentu ia begitu menuliskan gagasannya. Semasa hidupnya tak kurang ia telah menuliskan 50 buku dan ratusan artikel jurnal baik bereputasi nasional ataupun internasional. Beberapa karyanya yang cukup banyak dikonsumsi ialah kajiannya mengenai teologi pembebasan, feminisme, dan kekerasan etnis di India dan Asia Selatan.

Seputar Al-Qur’an dan Interpretasinya

Asghar berpendapat jika pemahaman atas keragaman penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an harus diterima karena tidak dapat dihindarkan. Karena dalam catatan sejarah, para sahabat Nabi Saw., yang menyaksikan turunnya ayat Al-Qur’an terkadang masih berselisih paham.

Menurut Ahmad Amin, sebagaimana dikutip oleh Asghar, menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur’an sebagai wahyu menggunakan bahasa Arab yang disesuaikan dengan gaya bahasa dan cara bertutur bangsa Arab. Penggunaan Bahasa Arab dalam Al-Qur’an walaupun ada beberapa kata serapan yang telah menjadi Bahasa Arab merupakan kewajaran. Karena Al-Qur’an pada mulanya turun di tengah-tengah bangsa Arab. Hal ini bersandarkan dalam QS. Ibrahim: 4,

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka.”

Di sisi lain, Asghar tidak menyetujui pandangan Ibnu Khaldun. Bahwa menyatakan jika Al-Qur’an yang diwahyukan dengan menggunakan bahasa Arab secara otomatis bangsa Arab dapat memahami Al-Qur’an dan juga tiap tafsirannya. Karena menurut Asghar walaupun sebuah tulisan yang ditulis dengan suatu bahasa belum tentu orang yang menuturkan bahasa tersebut dapat memahami isi buku tersebut.

Baca Juga  Abdullah Abbas Nasution: Mufasir Melayu Berdarah Indonesia

Kemampuan Bahasa dan Intelektual

Maka yang harus dipahami ialah untuk memahami sebuah buku tidak hanya bertumpu dari kemampuan bahasa saja. Melainkan kemampuan intelektual seseorang dan kemampuan intelektual tersebut berfungsi dalam memahami buku tersebut. Hal ini pula berlaku bagi bangsa Arab dan juga Al-Qur’an.

Ihwal ini yang harus diketahui bahwa bangsa Arab tidak serta-merta memahami Al-Qur’an secara menyeluruh dan baik. Dan ini pula menjadi sebuah dasar dengan lahirnya ragam bentuk penafsiran karena tiap orang berbeda dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Hal serupa juga berlaku dengan sahabat Nabi Saw.

Sahabat baginda Nabi., yang begitu qualified dalam memahami Al-Qur’an karena menggunakan Bahasa Arab dan juga menjadi saksi turunnya Al-Qur’an. Namun kadang kala terdapat perbedaan pendapat dalam memahami tiap ayat-ayat Tuhan.

Di sisi lain, lingkungan dan realitas kehidupan seseorang dapat memberikan pengaruh terhadap pemahaman pada Al-Qur’an. Oleh karenanya, menurut Asghar yang harus menjadi pemahaman mendasar ialah esensi Al-Qur’an yang menjadi petunjuk, prinsip-prinsip, dan nilai ilahiah.

Penyunting: Ahmed Zaranggi