Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Melihat Islamophobia Melalui Ayat Al-Qur’an dan Penafsirannya

Islamophobia
https://www.voa-islam.com/

Awal Mula Munculnya Islamophobia

Fenomena Islamophobia saat ini sangat menjamur di negara-negara Eropa. Hal ini bermula pasca peristiwa Perang Dunia II yang telah meluluh lantakkan sebagian besar negara-negara di Eropa. Sumber daya Alam dan Manusia, juga Ekosistem pekerjaan dan tempat tinggal pun tersisa hanya beberapa. Semenjak kejadian itu, Bangsa Eropa terpaksa harus mengimpor para pekerja dari luar untuk membangun kembali negara mereka yang telah hancur. Sebagian besar dari mereka mengimpor para pekerja dari negara-negara yang mayoritas penduduk beragama islam, seperti: Aljazair, Marokko, India, dan Turki. Semakin hari jumlah para pekerja asing ini semakin besar jumlahnya. Banyak di antara mereka yang akhirnya memtuskan untuk melangsungkan hidup di sana, seperti berkeluarga dan mempunyai keturunan. Otomatis, jumlah penduduk muslim di Eropa semakin banyak.

Karena mereka merupakan kaum minoritas dengan lingkungan dan budaya yang baru, lama-lama keberlangsungan hidup mereka mengalami beberapa kendala. Hal ini dirasa karena masyarakat muslim kurang bisa membaur dengan kebiasaan dan kebudayaan asli negara tempat mereka bekerja. Tidak sedikit di antara mereka berselisih di negara tempat mereka bekerja. Hal ini dapat memicu adanya konflik di masyarakat yang berujung pada kerusuhan dan kekerasan. Kejadian-kejadian seperti inilah yang dapat memupuk stigma negatif terhadap Islam. Hingga muncullah dalam benak masyarakt Eropa rasa ketakutan terhadap Islam atau yang mereka sebut dengan istilah Islamophobia.

Faktor yang Menyebabkan Munculnya Islamophobia

Munculnya Islamophobia didukung oleh beberapa faktor, di antaranya adalah: Pertama, media. Seperti yang kita tau, masyarakat kini amat dekat dengan media. Bahkan lebih akrab dengan media daripada dengan sanak saudara. Di Amerika bahkan ada istilah, bahwa orang-orang lebih percaya media daripada kitab sucinya. Fungsi media sebagai sumber informasi membuatnya sangat dibutuhkan oleh segenap masyarakat. Namun pasca kejadian WTC 911, Islam dan Muslim senantiasa mendominasi headline negatif di media mainstream di seluruh dunia. Maka tak heran setiap kali ada serangan teror, biasanya akan disematkan pada Islam dan Muslim. Namun, kebalikannya, bila ada serangan pada Muslim dan masjid di Barat jarang menjadi headline di media manapun.

Kedua, agama sebagai kendaraan politik. Islam mengatur segala lini kehidupan manusia, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Mulai dari bangun tidur hingga bangun negara. Termasuk pengaturan di dalam sistem politik juga ada. Sayangnya, agama acap kali hanya dijadikan alat untuk mendapatkan atau melanggengkan kekuasaan, namun enggan bahkan mencampakkan aturan-Nya ketika telah berkuasa.

Baca Juga  Islamofobia: Fenomena Sosial Traumatis yang Tidak Berdasar pada Islam

Ketiga, ketidaktahuan masyarakat. Sistem kehidupan sekuler yang menjadi nadi dunia hari ini mengakibatkan muslim jauh dari ajaran agamanya sendiri. Sehingga mudah sekali disusupi oleh pemikiran-pemikiran asing. Salah satu contohnya adalah kegagalan sistem pendidikan sekuler yang hanya mampu menelurkan lulusan trampil namun minim ketakwaan. Padahal sebagai muslim, bertakwa kepada Allah haruslah menjadi segalanya. Untuk itu muslim perlu memperbaiki diri dan bangkit kembali.
Keempat, ketakutan akan kebangkitan Islam. Bukan rahasia lagi bila Islam memang akan bangkit seperti yang difirmankan oleh Allah dalam QS. An-Nur ayat 55. Orang-orang Arab pun merasa takut, jika islam bangkit, Muslim akan menguasi dunia. Mereka akan dikalahkan segampang mungkin, karena mereka adalah kaum minoritas yang tak punya kekuatan apapun.

Sisi Al-Qur’an dalam Menyikapi Islamophobia

Allah SWT telah memperingatkan hal ini dalam QS Al-Baqarah: 120. Bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan puas sampai umat Islam mengikuti ajaran mereka. Namun dalam mentafsirkan Al-Qur’an haruslah secara utuh, jangan hanya berpegang pada satu ayat saja. Di ayat lain, Allah SWT juga berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 82 yang artinya; ” Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata.“Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”..(QS. Al-Maidah : 82).

Hubungan Islam dengan Barat-Kristen yang sama-sama bersumber dari spiritualitas ajaran masing-masing sering tereduksi oleh persaingan politik. Kita sama-sama mengakui dan memberi kesaksian akan keesaan Tuhan, meskipun dengan cara-cara yang berbeda, dan kita memuja dan menyembah-Nya setiap hari sebagai Pencipta dan Penguasa dunia. Harus diakui bahwa pasca mencuatnya isu terorisme, maka hubungan antara Islam dengan Barat-Kristen sangat dingin, saling curiga dan bahkan sampai pada tataran intimidasi, baik psikis maupun fisik yang menjadi fenomena nyata yang sulit untuk disembunyikan dan ditepis.

Kalau masing-masing umat beragama lebih memandang dan mencari persamaan maka yang akan tercipta adalah kebersamaan dan persaudaraan. Akan tetapi bila yang dicari dan yang diumbar adalah perbedaan, keburukan dan aib masing-masing, maka yang akan timbul adalah kebencian, intimidasi dan penindasan, baik secara halus maupun kasar, baik secara langsung maupun tidak.

Baca Juga  Mengenal Tafsir Al-Iklil Al-Tanzil Karya Misbah Mustafa

Sebagai sesama umat manusia, sudah menjadi fitrah kita untuk hidup bersama dalam bingkai persaudaraan. Antara Islam dan Barat perlu upaya duduk bersama untuk berdialog secara intens untuk mencari titik temu dan meluruskan kesalahpahaman(misu nderstanding) dan kesalahan persepsi (misperception) antara kedua belah pihak. Dialog ini juga bertujuan untuk menemukan common platform atau dalam bahasa al-Quran ‘Kalimatun Sawa’ untuk menjalin hubungan yang lebih harmonis dan konstruktif untuk membangun peradaban Dunia yang sejahtera & berlandaskan keadilan.

Upaya Preventif Menghadapi Islamofobia

Al-Quran sebagai kitab suci sekaligus panduan bagi umat manusia telah menjelaskan secara tersirat terkait upaya-upaya preventif yang dapat dilakukan dalam menghadapi ancaman Islamophobia saat ini.
Pertama, berlaku lemah lembut dan santun kepada sesama makhluk. Jika kita ingin menghadapi fobia Islam dan menghapusnya dari benak masyarakat dunia, tiada lain adalah dengan kembali kepada ajaran al-Quran. Allah SWT. telah mengingatkan hamba-Nya dalam surat Ali Imron ayat 153. Ayat tersebut menyeru agar umat Islam mempunyai sikap yang lemah lembut, penuh kasih, bertutur santun, dan berhati sutra.
Lalu ayat tersebut mengajak untuk mentradisikan dialog dalam menghadapi pelbagai masalah, bermusyawarah, rembukan, rapat, sidang, baik sendiri-sendiri maupun perwakilan (demokrasi), sebagaimana ayat tersebut juga menyeru umat Islam untuk mudah memberikan permaafan alias tidak pendendam. Inilah kunci sukses dakwah Nabi Muhammad yang sempurna, jauh dari fobia. Apabila nilai-nilai ini bisa kita tampilkan secara konsisten di depan masyarakat dunia, sedikit demi sedikit fobia mereka terhadap Islam akan terkikis.

Perlu diketahui pula, bahwasannya nilai-nilai tersebut juga sejalan dengan perintah Allah SWT. yang tertulis dalam QS. Al-Mumtahanah 8. Menurut tafsir yang terdapat dalam Al-Quranul Karim wa Tafsiruhu, Depag RI, dalam ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa Dia tidak melarang orang-orang yang beriman berbuat baik, mengadakan hubungan persaudaraan, tolong-menolong dan bantu-membantu dengan orang-orang kafir selama mereka tidak mempunyai niat menghancurkan Islam dan kaum muslimin, tidak mengusir dari negeri-negeri mereka dan tidak pula berteman akrab dengan orang-orang yang hendak mengusir itu.

Ayat ini merupakan ayat yang memberikan ketentuan umum dan prinsip agama Islam dalam menjalin hubungan dengan orang-orang yang bukan Islam dalam satu negara. Kaum muslimin diwajibkan bersikap baik dan bergaul dengan orang-orang kafir, selama orang-orang kafir itu bersikap dan ingin bergaul baik terutama dengan kaum muslimin. Hal ini tentunya dapat menjadikan stigma Islam menjadi positif di mata umat agama lainnya dan secara tidak langsung dapat mencegah timbulnya perilaku Islamofobia.

Baca Juga  Kriteria Pemuda Sukses Dalam Perspektif Al-Qur'an

Kesimpulan

Selanjutnya, upaya yang dilakukan umat muslim untuk mencegah timbulnya perilaku Islamophobia ialah menyiarkan keindahan dan ajaran Islam yang sebenarnya melalui berbagai media ataupun tempat. Sebagaimana yang telah diketahui sebelumnya, salah satu bentuk propaganda Islamofobia ialah melalui media. Oleh karena itu, umat muslim pun harus mencegahnya dengan media pula. Baik dengan berdakwah di media sosial, membuat konten atau tulisan yang merepresentasikan Islam sebenarnya di berbagai surat kabar, televisi, dan ruang publik lainnya dapat menjadi salah satu upaya yang mampu digencarkan oleh umat muslim. Allah SWT. berfirman dalam QS. Ali-Imran: 104. Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang mengajak kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang beruntung”.

Dalam Tafsir Al Misbah, Prof. Quraish Shihab menjelaskan, kata minkum (di antara kamu) dalam ayat di atas dipahami para ulama dengan arti sebagian. Dengan demikian, perintah berdakwah dalam ayat ini tidak tertuju kepada setiap orang. Karena itu, bagi mereka yang menafsirkan dengan makna tersebut, ayat ini mengandung dua macam perintah. Pertama, segenap kaum Muslimin untuk membentuk dan menyiapkan satu kelompok khusus yang bertugas melaksanakan dakwah. Perintah kedua, kelompok khusus itu seyogianya bisa melaksanakan dakwah menyeru kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran, termasuk perilaku Islamofobia yang sedang marak saat ini.

Dari paparan di atas, selain dapat mengetahui upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah perilaku Islamofobia, kita pun mampu memahami bahwa sejatinya Islam adalah agama perdamaian. Al-Quran sebagai panduan hidup umat Islam nyatanya banyak mengajarkan manusia untuk bertoleransi dan menjaga keharmonisan dengan sesama makhluk, seperti menganjurkan supaya umat muslim berlaku adil (al-Maidah: 8-10), peduli terhadap sesama (al-Maun: 1-7), larangan saling bermusuhan (al-Hujurat: 12), serta merajut kebersamaan (al-Hujurat: 10). Hal inilah yang seharusnya diperhatikan oleh umat manusia, baik muslim maupun non-muslim, sehingga fenomena Islamophobia dapat dicegah atau diminimalisir.

Penyunting: Ahmed Zaranggi