Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Manusia yang Dikhususkan dengan Kata An-Nas dalam Al-Qur’an

manusia
Sumber: istockphoto.com

Manusia sebagai penduduk bumi tentu saja perlu sebuah pedoman yang menuntun dan menjawab persoalan-persoalan yang terjadi di muka bumi ini. Al-Qur’an sebagai pedoman umat islam tentu kerap kali menggunakan kata manusia. Manusia dalam al-Qur’an disebut dengan banyak kata yang berbeda. Kata an-nas disebut sebanyak 241 kali, al-insan 64 kali, al-insyu 16 kali, al-basyar 37 kali, bani adam 7 kali, dan khalifah 6 kali. Ragam kata yang berbeda tersebut tentunya memiliki makna tersendiri meskipun kesemuanya diartikan manusia. Ragam penggunaan kata yang diartikan manusia itu salah satunya adalah an-Nas.

An-nas yang berarti manusia dalam al-Qur’an ditujukan kepada seluruh manusia. Namun ada beberapa makna an-nas yang bukan arti seluruh manusia melainkan terkhusus kepada satu manusia saja. Mengapa menggunakan kata an-nas, bukan dengan langsung menyebut nama jika itu ditujukan kepada satu orang saja? Inilah al-Qur’an dengan kata-kata yang indah dan memiliki makna yang menakjubkan.

Makna An-Nas dalam Al-Qur’an

Perbedaan kata yang digunakan dalam al-Qur’an dalam memaknai manusia paling banyak menggunakan kata an-nas. Term an-nas berasal dari kata nawasa yang berarti goncangan atau fluktuatif. Dikatakan goncangan karena manusia cenderung berubah jika bertemu dengan sesamanya. Karena sifat manusia yang cenderung berubah ini Allah memerintahkan manusia untuk menjalin relasi sosial dalam surah an nisa ayat 1.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.

Penggunaan kata an-nas juga ditemukan dalam ayat yang menyerukan ibadah kepada manusia, tertulis dalam surah al-baqarah ayat 21.

Baca Juga  Potensi Baik & Buruk Manusia

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.

Diksi an-nas dalam al-Qur’an banyak mengacu tentang perintah Allah untuk beribadah, dan melakukan semua perintah Allah serta meninggalkan larangan-Nya yang ditujukan kepada manusia.

Makna An-Nas yang Dikhususkan

Kata an-nas yang tidak ditujukan kepada seluruh manusia di muka bumi tergolong sedikit. Ayat ini ditemukan pada surah an-nisa ayat 54.

اَمْ يَحْسُدُوْنَ النَّاسَ عَلٰى مَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۚ فَقَدْ اٰتَيْنَآ اٰلَ اِبْرٰهِيْمَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاٰتَيْنٰهُمْ مُّلْكًا عَظِيْمًا

ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia yang telah diberikan Allah kepadanya? Sungguh, Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepada mereka kerajaan (kekuasaan) yang besar

Kata yang digunakan untuk menyebut nabi Muhammad dalam ayat ini adalah an-nas. Meski an-nas diartikan manusia, namun dalam ayat ini yang dimaksud adalah nabi Muhammad saja, bukan seluruh manusia. Nabi disebut dengan kata an-nas dikarenakan dalam diri Nabi Muhammad ada seluruh tingkah laku baik manusia.

Dalam ayat lain juga ditemukan kata an-nas yang tidak ditujukan kepada seluruh umat manusia, diketahui dalam surah ali imran ayat 173.

اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًاۖ وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

(yaitu) mereka yang (ketika ada) orang-orang mengatakan kepadanya, Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan (pasukan) untuk (menyerang) kamu. Oleh karena itu, takutlah kepada mereka, ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.””

Dalam ayat tersebut terdapat dua kata an-nas. Kata an-nas dalam ayat ini bukan berarti seluruh manusia, melainkan orang tertentu. Kata an-nas yang pertama adalah Nu’aim Ibn Mas’ud dan kata an-nas yang kedua adalah Abu Sufyan. Alasan digunakannya kata an-nas untuk menyebut dua orang tersebut yaitu ditelisik dari asbabun nuzul nya. Ayat ini turun ketika peristiwa Abu Sufyan yang berniat meninggalkan Makkah selepas perang uhud. Dia menantang dengan berkata “Mari kita berkumpul kembali pada musim yang akan datang di Badar, disana kita bertempur”. Mendengar ucapan ini, nabi Muhammad memerintahkan Umar bin Khattab untuk menjawab, “Pertarungan antara kami dan kamu akan terjadi disana, Insya Allah”.

Baca Juga  Beberapa Penyebutan Manusia dalam Al-Qur‘an dan Implikasinya

Setelah tiba masa yang telah disepakati, Abu Sufyan dan pasukannya bermarkas di suatu tempat yang bernama Mar Azh-Zhahran. Namun hatinya gundah dan khawatir, dia pun bertemu Nu’aim Ibn Mas’ud yang baru saja melaksanakan umrah dan memintanya untuk menakut-nakuti kaum muslimin. Di Madinah, Nu’aim menemukan kaum muslimin sedang bersiap-siap, ia pun melaksanakan perkataan Abu Sufyan untuk menakut-nakuti kaum muslimin, dan ternyata kaum muslimin pun hampir terpengaruh, namun nabi Muhammad dengan penuh tekad berkata kepada mereka “Demi Allah aku akan berangkat menuju tempat yang telah disepakati walau aku seorang diri”. Nabi bersama pasukannya pun tetap berangkat menuju Badar Sughra, namun disana Nabi tidak menemukan abu sufyan karena ia telah kembali ke Makkah.

Alasan digunakannya kata an-nas yang pertama sebagai pengganti dari Nu’aim Ibn Mas’ud adalah karena upaya yang dilakukan Nu’aim Ibn Mas’ud untuk mengendurkan semangat perang kaum muslim bagaikan upaya yang dilakukan banyak orang, sehingga ucapannya sempat diterima dan dibenarkan oleh orang banyak pula. Sedangkan alasan digunakannya kata an-nas sebagai pengganti dari Abu Sufyan adalah karena Abu Sufyan seorang diri bagaikan orang banyak dalam menghasud orang-orang kafir agar mereka berkenan memerangi nabi Muhammad SAW.

Demikianlah kata an-nas yang diartikan manusia namun hanya ditujukan kepada orang tertentu saja, karena al-Qur’an adalah kalam Allah yang penuh makna menakjubkan. Hal ini juga menunjukkan betapa tafsir sangat dibutuhkan dalam upaya memahami al-Qur’an. Semoga kita dapat mengambil hikmah dan juga dapat mengamalkan al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Editor: An-Najmi