Surah Al-Alaq adalah salah satu surah dalam Al-Quran yang memiliki pesan-pesan yang mendalam dan relevan untuk umat Islam. Ayat 6 dari Surah Al-Alaq adalah salah satu ayat yang menyiratkan makna manusia yang melampaui batas. Ayat tersebut berbunyi: “Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,”. Secara istilah, melampaui batas (berlebihan) dapat dimaknai sebagai tindakan yang dilakukan seseorang di luar kewajaran ataupun kepatutan karena kebiasaan yang dilakukan untuk memuaskan kesenangan diri secara berlebihan.
Teori Referensial
Dalam filsafat bahasa, Teori referensial adalah sebuah pendekatan atau kerangka kerja dalam linguistik dan filsafat bahasa yang berkaitan dengan cara kata-kata atau frasa dalam bahasa merujuk kepada objek di dunia nyata. Ini adalah konsep dasar dalam pemahaman bagaimana bahasa digunakan untuk menggambarkan atau merujuk pada entitas atau konsep di luar bahasa itu sendiri.
Teori referensial membantu menjelaskan bagaimana kata-kata dan bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi yang menghubungkan pemikiran manusia dengan dunia sekitarnya. Ayat 6 dari surah al-Alaq diurutkan setelah perintah menuntut ilmu, yakni surah al-Alaq ayat 1-5. Menurut Hamka, ayat ini merupakan peringatan bagi Rasulullah Saw bagi umatnya yang berada di jalan dakwah. Bahwa kebanyakan manusia ketika telah memiliki kecukupan terhadap sesuatu maka ia bersikap melampaui batas. Misalnya bagi seseorang yang memiliki ilmu, ia kemudian enggan untuk menuntut ilmu padahal ilmu Allah Swt itu luas lagi banyak. Sungguh tiada manfaat sedikitpun dari sikap berlebih-lebihan atau melampaui batas.
Sikap ini hanya akan membawa mala petaka bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan sekitar. manusia itu ada yang bertabi’at melampaui batas sehingga lupa akan tugasnya. Orang seperti itu memiliki kesombongan seperti Abi Jahal yang berani mengancam Rasulullah, padahal tidak bisa melakukannya. Orang yang melampaui batas kelakukannya diakibatkan kesombongan cukup banyak dari dulu sampai sekarang. Mereka merasa diri lebih cerdas atau lebih intelek di banding Rasul sehingga berani membantah atas apa yang diajarkannya
Makna Melampaui Batas Menggunakan Teori Referensial
Sungguh Allah telah dengan tegas menyatakan bahwa Ia tak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Oleh sebab itu tak ada alasan bagi kita untuk mempertahankan gaya hidup berlebihan; “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” Q.S al-A’raaf :31. Adapun batasan-batasan yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an seperti larangan minum khamr dan berjudi yang ada dalam QS al-Ma’idah ayat 90; “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji (dan) termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.”
Di akhir ayat di atas Allah mengingatkan sekaligus menegaskan dengan kalimat: “maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung.”. Sekali lagi bahwa jika manusia mau selamat dan beruntung di dunia dan ahirat, maka jauhilah minuman keras dan perjudian atau mengundi nasib itu. Ada juga larangan menyekutukan Allah yang dijelaskan dalam QS al-Maidah: 72, “Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata. Secara istilah, melampaui batas (berlebihan) dapat dimaknai sebagai tindakan yang dilakukan seseorang di luar kewajaran ataupun kepatutan karena kebiasaan yang dilakukan untuk memuaskan kesenangan diri secara berlebihan., “Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.”
Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah. Maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” Telah dijelaskan bahwa siapa saja yang menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka dia dilarang masuk ke dalam Surga untuk selama-lamanya. Tempat tinggalnya adalah Neraka Jahanam. Tidak ada yang dapat menolong dan membantunya di sisi Allah.
***
Dalam kesempatan lain, sifat berlebih-lebihan juga disebutkan dalam Q.S. al-Balad ayat 6 yang artinya ” Dan mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak” Manusia, selain potensi fisik yang dapat membuat dia melampaui batas. Ada potensi lain yang dapat membuat mereka melampui batas. Yaitu harta. Apalagi ketika harta itu dalam keadaan melimpah. Ayat ini menggambarkan orang-orang yang menghambur-hamburkan hartanya kepada jalan yang tidak benar. Hal ini dapat diketahui dari kata “أَهْلَكْتُ” yang mempunyai makna membinasakan, memusnahkan dan menghancurkan. Maka ketika para ulama membahas tentang ayat ini, mereka menjelaskan bahwa maksud orang ini bukan sekedar mengeluarkan harta yang banyak. Tapi mengeluarkan harta yang banyak di jalan yang salah.
Rasulullah saw. melarang umatnya berpuasa terus-menerus, melarang salat di seluruh malam untuk memberi hak anggota tubuh istirahat, melarang membujang bagi yang mampu menikah, atau melarang meninggalkan makan daging. adapun amal yang paling disukai Allah adalah amal yang dikerjakan terus-menerus (istiqamah) menurut syarak meskipun sedikit. Islam mengajarkan kebersahajaan. Se- tiap muslim dilarang mengikuti nafsu syahwat.
Editor: An-Najmi


























Leave a Reply