Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Konsekuensi Logis: Antara Al-Qur’an sebagai Makhluk atau Bukan

Muhkam
Sumber: https://www.premiumtimesng.com/

Banyak orang bertanya-tanya, Allah itu Tuhan, sedangkan Al-Qur’an itu ciptannya, berarti Al-Qur’an adalah sebuah makhluk? Tapi ada juga yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu adalah firman Allah. Lalu sebenarnya, Al-Qur’an makhluk atau bukan? Bagaimana konsekuensi logis dari keduanya?

Pengertian Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara mutawatir, yang merupakan suatu mukjizat yang besar bagi Nabi Muhammad, dan membacanya adalah sebuah ibadah. Dalam konteksnya, Al-Quran sendiri sejatinya diperuntukkan tidak hanya bagi umat Islam saja, namun bagi berbagai kalangan dan kelompok, apapun etnisnya, kesukaannya, dan lain sebagainya.

Pengertian Makhluk

Makhluk asal katanya adalah خلق : yaitu sesuatu yang diciptakan ; atau bisa juga disebut sebagai proses dalam menciptakan.

Sedangkan subjek yang menciptakan adalah خالق, maka dari itu Allah menyebut diriNya sebagai Khaliq (Sang Maha Pencipta). Istilah ini khusus disematkan kepada Allah, karena Khaliq berarti menciptakan sesuatu tanpa bahan, termasuk dalam menciptakan manusia. Seperti tercantum dalam QS. Al Hijr [15]: 28 yang berbunyi :

وَ اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ خَالِقٌۢ بَشَرًا مِّنۡ صَلۡصَالٍ مِّنۡ حَمَاٍ مَّسۡنُوۡنٍ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sungguh, Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”

Pendapat dari Berbagai Golongan

Menurut golongan mu’tazilah, yang mempunyai paham bahwa akal lebih tinggi dari pada dalil dan lebih di dahulukan daripada Al-Qur’an dan hadist; menyebutkan bahwa Al-Qur’an menurut mereka adalah makhluk. Pendapat mereka ini sangat kuat, bahkan suatu ketika, kaum mu’tazilah memenjarakan Imam Ahmad bin Hambal, karena pernyataan beliau yang tidak setuju dengan pendapat mu’tazilah. Karena menurut mereka, konsekuensi logis semua umat yang tidak setuju dengan pendapat mu’tazilah disebut sebagi kafir.

Baca Juga  Makki dan Madani: Komponen Dasar Memahami Al-Qur'an

Golongan yang bertentangan dengan golongan mu’tazilah adalah golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Dalam kajian fikih, istilah Ahlussunnah wal Jama’ah disisbatkan pada paham Sunni yaitu merujuk pada fikih 4 (empat) madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali). Golongan yang sering disingkat dengan kata ASWAJA; ini menyatakan bahwa Al-Qur’an bukan mahkluk, melainkan firman Allah SWT.

Selanjutnya adalah golongan Asy-‘Ariyah. Golongan ini mengemukakan bahwa Al-Qur’an bukan firman Allah, melainkan ungkapan dari firman Allah yang nafsi. Mereka membagi kalamullah menjadi 2 bagian, yaitu nafsi (kalamullah yg tidak berbahasa, yang tanpa suara, statis, tidak bisa berubah, tidak bisa dibagi (ungkapan dari bahasa jiwa allah), dan lafdzi (Taurat, Zabur, Injil, Al-Qur’an).

Penjelasan

Hakikatnya, Al-Qur’an bukanlah makhluk, karena kalau Al-Qur’an adalah makhluk, maka konsekuensi logisnya Al-Qur’an memiliki sifat-sifat yang berbeda dari Allah. Al-Qur’an adalah kalamullah dan kalamullah adalah sifat Allah. Sifat Allah berarti bukan makhluk Allah. Kalamullah bisa diucapkan dengan lidah, ditulis di lembaran, dan bisa dihafal di hati manusia. Sifat dari kalamullah itu sendiri yaitu qodiim. Karena itu, setiap ada perkataan dari Allah, menggunakan kalimat قال الله تعالى  bukan خالق الله تعالى

Kalamullah atau firman Allah itu tidak ada batasannya. Al-Qur’an, Taurat, Zabur, dan Injil, adalah sebagian dari firman Allah. Hal tersebut dijelaskan dalam Surat Al-Kahfi Ayat 109:

قُل لَّوْ كَانَ ٱلْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَٰتِ رَبِّى لَنَفِدَ ٱلْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَٰتُ رَبِّى وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِۦ مَدَدًا

“Katakanlah, ‘Kalau sekiranya laut menjadi tinta untuk kalimat-kalimat Tuhanku maka sungguh habislah laut itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.’”

Pada zaman dahulu, Al-Qur’an ditulis di pelepah kurma, di bebatuan. Namun sekarang, seiring berjalannya waktu, Al-Qur’an mulai ditulis di lembaran-lembaran (suhuf), yang akhirnya menjadi sebuah mushaf. Itulah yang disebut dengan makhluk. Ia merupakan sebuah benda yang berwujud lembaran-lemabaran yang berisikan firman Allah SWT. Mushaf merupakan kitab yang berisikan susunan-susunan dari firman Allah SWT.

Baca Juga  Proses Produksi dan Reproduksi Manusia dalam Al-Qur'an

Hurufnya, tintanya, kertas nya, bingkai gambarnya, itu merupakan sebuah makhluk. Namun, substansinya, adalah firman Allah SWT. Pendapat mu’tazilah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an ini adalah makhluk, karena ada hurufnya, dan bisa ditulis, layaknya sebuah benda. Inilah yang Namanya fitnah kholqil Qur’an (yaitu fitnah yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk).

Selain dari penjelasan di atas, konsekuensi logis yang harus diyakini, bahwa Al-Qur’an merupakan kalamullah adalah:

  1. Al-Qur’an adalah firman Allah, dan tidak ada keraguan bahwa Allah adalah makhluk.
  2. Di dalam Al-Qur’an ada nama-nama Allah yang berjumlah 99.

Penutup

Itulah sedikit penjelasan tentang Al-Qur’an makhluk atau bukan? Pada intinya, Al-Qur’an adalah kalamullah, baik itu ditulis, di hafal, di baca, Al-Qur’an tetaplah firman Allah. Banyak orang yang bisa menghafalkan Al-Qur’an, itu konsekuensi logis Al-Qur’an dijaga oleh Allah SWT. Dalil mereka yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk  hanyalah sekedar logika yang muncul dari buku-buku filsafat.

Penyunting: Ahmed Zaranggi