Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kikir Kunci Kesukaran Hidup: Kisah Qur’ani

kikir
Sumber:https://www.bankrate.com

Orang kerap mengira bahwa menjadi kaya adalah “puncak kehidupan” di mana mereka dapat memeroleh kesejahteraan dan menikmati kehidupan dengan bahagia. Namun pada kenyataannya, kita melihat tidak sedikit orang yang kaya secara materi. Namun ia merasa tidak tenang dan takut jatuh miskin. Sehingga dalam mindsetnya; bahwa ia harus terus mengumpulkan harta untuk kepentingannya sendiri tanpa memikirkan orang lain alias kikir. Hal ini sebagaimana pendapat Robert Kiyosaki dalam buku populernya Rich Dad Poor Dad.

Al-Quran telah menyinggung hal ini jauh sebelum itu, pada banyak ayat menyebutkan sifat kikir akan membawa seseorang kepada kemudharatan. Salah satunya dalam QS. al-Lail bahwa individu yang kikir akan menemui kesulitan-kesulitan hidup.

Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan (adanya pahala) terbaik. Maka kelak kami akan siapkan baginya (jalan) yang sukar”. (QS. al-Lail [92]: 8-10)

Sebab Turunnya Surat Al-Lail: Kisah Pemilik Pohon Kurma Yang Kikir

Dalam beberapa kitab tafsir kisah ini dicantumkan untuk merujuk asabun nuzul ayat ini, salah satunya Tafsir Imam al-Alusi. Diriwayatkan oleh Ibnu Hatim dari Ikrimah dari Ibnu Abbas; mengatakan bahwa surah al-Lail turun berkaitan tentang seorang pemilik pohon kurma yang bakhil. Dikisahkan bahwa pemilik pohon kurma tersebut mempunyai pohon yang mayangnya menjulur; hingga ke rumah tetangganya yang fakir dan memiliki banyak anak. Setiap kali pohon tersebut berbuah, si pemilik Pohon memetik buah tersebut langsung dari rumah tetangganya. Akan tetapi jika buah kurma tersebut jatuh hingga dipungut oleh anak-anak tetangganya yang fakir. Maka ia merampasnya dan dengan segera ia memakan buah kurma yang berjatuhan kedalam mulutnya dengan dua tangannya.

Baca Juga  Lejitkan Masa Muda dengan Semangat Al-Qur'an

Bahkan yang lebih menyedihkan lagi ketika buah kurma yang sudah masuk ke mulut anak-anak itu juga dipaksanya untuk dikeluarkan kembali. Maka, hal ini lalu diadukan oleh orang fakir tersebut kepada Rasulullah; kemudian Rasul akhirnya menemui si pemilik kurma tersebut dan bersabda; “Berikanlah kepadaku pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah si Fulan. Dan bagianmu sebagai gantinya pohon kurma di surga.” Lalu pemilik pohon kurma itu menjawab, “Cuma itukah tawarannya? Saya memiliki banyak pohon kurma dan tahukah tuan bahwa pohon kurma yang anda minta itu paling baik buahnya.” Lalu sang pemilik pohon kurma itu pun pergi tidak menggubrisnyai.

Pembicaraan tersebut ternyata didengar oleh salah seorang dermawan dari kalangan sahabat yaitu Abu Dahdah al-Anshari. Ia kemudian menanyakan kepada Rasul jika ia membeli pohon itu apa akan mendapatkan ganjaran serupa dan Rasulullah mengiyakan. Lalu bergegaslah Abu Dahdah kepada orang munafik tersebut, setelah menawar timbul kesepakatan satu pohon kurma dibeli dengan 40 pohon kurma. Kemudian diserahkan itu kepada Rasul dan menghibahkannya untuk anak-anak yatim tersebut.”

Sebab dari Kebakhilan

Dalam Tafsir al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Imam al Qurtubi menjelaskan orang yang kikir. Bahwa terhadap apa yang ia miliki dan tidak mau mengeluarkannya untuk kebaikan. Sebab ia merasa cukup sehingga tidak butuh akan pertolongan Allah. Serta mendustakan al-Husna atau dikatakan banyak ulama’ adalah pahala terbaik. Sementara diriwayatkan dari Ibnu Abu Najih dari Mujahid bahwa al-Husna itu surga. Namun pendapat lain dari Mujahid dengan sanad berbeda bahwa itu adalah kalimat tahlil. “Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah.” Maka orang tersebut akan dimudahkan jalan tesebut kepada keburukan.

Baca Juga  Perbedaan Praktik Resepsi dalam Alquran

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, menuju ke jalan keburukan, yaitu sebagaimana pengertian yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firmanNya. Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada permulaannya. Dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat. (QS. al-An’am [6]: 110) Dan ayat-ayat lain yang semakna cukup banyak yang semuanya menunjukkan bahwa barang siapa yang berniat akan melakukan keburukan, Allah akan menghinakannya.

***

Adapula yang menafsirkan bahwa seseorang tersebut kelak akan dipersulit baginya; dalam mendapat sebab-sebab yang mebawa kebaikan dan kebahagiaan sehingga ia menjadi susah dalam menggapainya. Sebagaimana dalam hadits yang menerangkan bahwa setiap hari malaikat berdoa pagi dan petang. (Tafsir Ruh al-Maani)

“ورُوِيَ عَنْ أبِي الدَّرْداءِ أنَّهُ قالَ: ”ما مِن يَوْمٍ غَرَبَتْ فِيهِ الشَّمْسُ إلّا ومَلَكانِ يُنادِيانِ يَسْمَعُهُما خَلْقُ اللَّهِ كُلُّهم إلّا الثِّقْلَيْنِ: اللَّهُمَّ أعْطِ كُلَّ مُنْفِقٍ خَلَفًا وكُلَّ مُمْسِكٍ تَلَفًا

Diriwayatkan dari Abu Darda’, “Tiada datang pagi hari atas manusia melainkan ada dua malaikat turun; dimana salah satu dari keduanya berdoa. “Ya Allah berilah ganti (yang lebih baik) bagi orang yang berinfak.” dan yang kedua berdoa, “Ya Allah buatlah bangkrut orang yang menahan pemberian.” (HR. Bukhari)
Orang yang menimbun dan enggan mengeluarkan hartanya untuk kepentingan umat sebagaimana kisah si-bakhil pemilik pohon kurma di atas. Pada dasarnya karena ia merasa tidak butuh orang lain bahkan Allah tidak dianggapnya sebagai Tuhan yang memberinya rizki yang lapang. Dalam ayat ini orang tersebut dianggap “Istaghna”. Dia tidak berdoa dan beribadah karena dirinya merasa cukup dengan harta benda miliknya dan tidak membutuhkan Allah.

Akar mengapa seseorang menjadi “Istaghna” karena ia meragukan janji-Nya. Mendustakan adanya pahala terbaik (al-Husna), ia juga menganggap bahwa hari akhir dan pembalasan amal hanya sebuah ilusi belaka.

Baca Juga  Mengenal Pembaharuan Pemikiran Tafsir Kontemporer

Balasan Bagi Mereka Yang Kikir, Dimudahkan kepada Jalan Kesukaran

Maka orang yang memiliki karakter seperti ini sangat layak bila diberikan kesulitan yang berlipat. Allah mudahkan baginya jalannya kesukaran khususnya untuk mengerjakan hal-hal kebajikan dan ketaatan. Seperti hidupnya akan terus diliputi kesibukan-kesibukan yang sebenarnya tidak berguna untuk dirinya malah membuatnya tidak tenang dan celaka.

Namun kelak saat maut menjemputnya ia baru merasakan kerugian dan malapetaka besar yang menyengsarakannya. Sebagaimana disebutkan di ayat, “Dan tidaklah hartanya akan dapat menolong dia, jika ia telah binasa.” (QS. 92: 11).

Orang bakhil akan jatuh marwahnya karena gelimpangan dosa yang diperbuatnya dan itu tidak dapat ditebus dengan harta yang selama ini disimpannya. Karena sudah terlambat ia telah meninggal dunia. Pada suasana yang demikian orang-orang yang bakhil di atas akan sangat menyesali kebodohan dirinya. Padahal sebelumnya Allah telah benar-benar mengirim utusanNya untuk menjadi pengingat yang baik. (QS. 92: 12).

Hingga akhirnya di akhirat ia akan menemui balasan kesulitan yang sejatinya yaitu sebagaimana dalam Tafsir al-Qurtubi ia akan binasa dan tergelincir ke dalam jurang neraka. “Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyalala.” (92:14). Neraka yang menyala tersebut disediakan untuk mereka yang mendustakannya. “Tidak masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka.” (92:15). Wallahu a’lam bishawab.