Baru-baru ini fenomena salat dalam demo menanggapi SE Menteri Agama no. 5 tahun 2022 meramaikan bumi pertiwi. Aksi bela adzan yang terekam dalam akun twitter @yusuf_dumdum itu menuai banyak tanggapan. Agaknya, sejak aksi bela Islam pada Desember 2016 salat ikut menjadi pertunjukan dalam beberapa demo. Apakah pantas salat yang merupakan ibadah sakral digunakan sebagai atribut demo?
Salat dalam Al-Qur’an
Kitab al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadhi Al-Qur’an al-Karim mencatat lengkap kata salat. Bahwa kata salat secara khusus terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 67 kali, belum termasuk bentuk derivasinya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan salat bagi kaum Muslim. Selain itu, salat juga menjadi rukun Islam yang kedua. Di dalam hadits yang diriwayatkan Imam Baihaqi, Nabi Muhammad saw. mengibaratkan orang yang mendirikan salat laksana menegakkan agama. Bahkan orang yang meninggalkan salat sama halnya merobohkan agama.
Salat yang berasal dari kata kerja salla menurut literatur pra-Al-Qur’an maupun pasca-Al-Qur’an memiliki arti umum “memohon karunia”,
خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
Artinya: “Ambillah zakat dari harta mereka (guna) menyucikan dan membersihkan mereka, dan mohonkanlah karunia bagi mereka karena sesungguhnya permohonan/doamu adalah ketenteraman bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. at-Taubah [9]: 103)
‘Antarah, penyair pra-Islam menggubah syair untuk memuji Kaisar Persia Anushirwan dengan menggunakan kata tushalli yang berarti memberikan penghormatan.
تُصَلِّي نَحْوَهُ مِنْ كُلِّ فَجٍّ * مُلُوكُ الأَرضِ وَ مُوَلِّها إمَام
Artinya: Semua raja-raja bumi dari segala penjuru memberikan penghormatan kepadanya, dan semua penduduk bumi menolehkan wajah ke arahnya (imam).
Kaisar Anushirwan mendapat penghormatan karena ia memiliki karunia. Sebagai seorang raja ia mampu memberikan sesuatu kepada rakyatnya. Makna-makna senada dapat dijumpai di berbagai tempat, seperti Q.S. [9]: 84, Q.S. [33]:43, Q.S. [3]:39, berbagai ayat lain dan dalam kitab Lisan al-‘Arab, juga Diwan.
Salat Sebagai Bentuk Komunikasi
Islam membawa muatan material salat seperti yang diamalkan umat Islam sampai hari ini, memulainya dengan takbiratulihram dan diakhiri dengan salam. Term salat dalam pandangan Islam kemudian secara khusus merujuk pada ibadah salat tersebut. Salat merupakan salah satu bentuk komunikasi antara Tuhan dan hamba-Nya. Komunikasi itu menurut Thosiko Izutsu dalam bukunya Relasi Tuhan dan Manusia dibagi menjadi dua, komunikasi verbal dan non-verbal.
Komunikasi verbal memiliki bentuk adanya wahyu yang berupa Al-Qur’an dan doa seorang hamba. Quraish Shihab pada Bab “Pesan Ilahi Bagi Penafsir Al-Qur’an” dalam Kaidah Tafsir mengutip pendapat sementara pakar: “Jika anda ingin berbicara dengan Allah, maka berdoalah, dan jika anda ingin Allah berbicara dengan anda, maka bacalah Al-Qur’an. Bersahabatlah dengan Al-Qur’an”.
Izutsu menggolongkan salat sebagai bentuk komunikasi non-verbal hamba kepada Tuhannya. Tentu saja dalam salat terdapat unsur-unsur verbal seperti membaca takbiratulihram, al-Fatihah, syahadat dsb. Akan tetapi bacaan-bacaan dalam salat digunakan secara berbeda dengan kata-kata ketika berdoa. Ketika berdoa seseorang memilih kata untuk mengungkapkan keinginan khusus. Sedangkan kata-kata dalam salat digunakan secara ritualistik, sudah ada aturan bakunya.
Sebagai Tanda Ketakwaan
Salat merupakan bentuk reaksi dari komunikasi non-verbal Tuhan yang berupa ayat kauniyah. Tuhan telah menurunkan atau menciptakan ayat-ayat kauniyah yang terhampar begitu luas. Dengan adanya ayat kauniyah, manusia dengan segala potensinya mampu memikirkan dan menangkap pesan-pesan Ilahi. Serta mengantarkannya kepada ketakjuban akan kuasa Tuhan sehingga mengantarkan pada penghambaan dalam wujud salat.
Salat menjadi salah satu tanda orang yang bertaqwa (Q.S. [2]: 3). Dalam rangkaian ayat tersebut salat seakan bertalian dengan orang-orang yang percaya akan hal gaib dan mereka yang menginfaqkan sebagian dari hartanya. Orang yang lalai akan salatnya juga dilukiskan sebagai mereka yang ingin dilihat orang dan yang menolak untuk memberikan pertolongan (Q.S. [107]: 5-7). Salat dan zakat juga banyak disandingkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, di antaranya Q.S. [2]: 43, 83, 110, 177, 277.
Pantaskah Salat Sebagai Instrumen Demo?
Esensi utama salat adalah mengingat. Tentu tidak hanya mengingat akan Allah Swt, tetapi lengkap dengan segala sifat ketuhanan-Nya, seperti keesaan, kekuasaan, rahmat, pertolongan dsb. Sehingga mengantarkan kita pada sifat penghambaan (Q.S. [20]: 14). Karena Tuhan yang menjadi interlokutor mushalli merupakan Dzat Yang Suci, maka seseorang yang akan melaksanakan salat wajib menyucikan dirinya terlebih dahulu (Q.S. [5]: 6).
Pantaskah salat yang merupakan bentuk penghambaan dijadikan instrumen demo? Manusia sebagai makhluk yang berpikir (homo sapiens) tentu bisa memilah dan memilih, mana yang pantas dilakukan dan yang tidak pantas. Manusia tentu dapat membedakan antara hal yang sakral dan yang profan. Salat memiliki kedudukan yang tinggi bagi umat Islam. Juga merupakan ibadah yang mulia karena berelasi dengan Tuhan Yang Maha Mulia. Salat menjadi instrumen komunikasi antara Tuhan dan hamba-Nya. Ibadah ini merupakan wasilah hamba untuk mendekat kepada Sang Mahakuasa, Allah Swt. (Q.S [96]:19).
Penyunting: Ahmed Zaranggi




























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.