Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Keutamaan Syahadat dalam Al-Qur’an

syahadat
Sumber: https://www.cikimm.com/

Untuk dapat menguatkan dasar tauhid dan akidah pada diri seseorang, dapat dilakukan dengan cara memahami makna, konsekuensi dan pembatalan dari kalimat syahadat dengan baik dan benar. Untuk itulah syahadat menjadi rukun iman yang pertama. Kita semua harus mengetahui bahwa kalimat syahadat ini selain sebuah bacaan juga mengandung sebuah arti yang begitu mendalam. 

Oleh karena itulah kita pun perlu mempelajarinya secara lebih mendalam lagi. Allah Swt. menjelaskan dalam al-Quran bahwa kalimat syahadat akan meneguhkan seorang muslim untuk kehidupan di dunia dan akhirat, jika benar-benar mengilmui dan mengamalkannya.

Syahadat pertama berbunyi ‘Laa ilaaha illallah’ yaitu rukun Islam yang ke-1 dan pokok sebelum ia memulai kehidupan baru; dijalan Allah Swt. dan berarti penetapan hak allah semata untuk disembah. Syahadat kedua berbunyi ‘Muhammadan Rasulullah’ berarti bersaksi dan mengakui serta menetapkan di dalam hati bahwasanya Nabi Muhammad Saw. adalah hamba Allah Swt. yang telah diutus dan dijadikan rasul Allah untuk memberi petunjuk kepada umat manusia.

Makna Syahadat

Makna syahadat (laa ilaaha illallah) yaitu beritikad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah Swt. mentaati hal tersebut dan mengamalkannya. La ilaaha menafikan hak penyembahan dari selain Allah Swt. siapa pun orangnya. Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah. Dengan demikian, makna kalimat laa illaha memiliki arti menghilangkan dan meniadakan seluruh jenis dan bentuk tuhan sebagai sesembahan.

Sedangkan makna kalimat illallah berarti menetapkan dan mengokohkan serta mengecualikan ilah atau tuhan Allah; sebagai satu-satunya tuhan yang hak dan patut disembah. Ilah yang dimaksud dalam bahasa Arab adalah berasal dari alaha yang memiliki makna: tentram, lindungan, cinta. Kesaksian tentang ke Esaan Allah Swt. pada dasarnya mengandung 3 segi sifat kepercayaan terhadap-Nya, yaitu: Rububyah, Uluhiyah dan Tauhidullah.

Konsekuensi Syahadat

Untuk menjalankan perintah ajaran islam dengan baik dia juga harus meneladani al-Quran. Dengan demikian kewajibannya sebagai seorang muslim dengan syahadatnya, maka dia wajib melaksanakan semua ketentuan dan perintah yang ada dalam ajaran Islam dan mematuhi segala larangan-larangan yang ada di dalamnya.

Baca Juga  Tafsir Surat Al-Hajj Ayat 5: Penciptaan Manusia

Untuk menjalankan perintah ajaran Islam dengan baik dia juga harus meneladani sunah Nabi di samping mengamalkan kitab suci al-Quran. Dengan demikian pula kewajibannya sebagai seseorang adalah hanya menyembah Allah Swt. sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah; disertai dengan mengakui dan mengikuti tauladan yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw.

Sebagai hamba yang telah diutus menjadi Rasul untuk memberi petunjuk kepada umat manusia. Syahadat yang kita yakini, ucapkan dan amalkan memiliki konsekuensi yaitu syarat dari diterimanya amal. Oleh karena itu, harus benar-benar kita perhatikan dan pelajari dan bukan hanya sekedar diucapkan saja, melainkan mendatangkan cinta hanya semata-mata untuk Allah Swt. melebihi cinta kepada selain-Nya:

“Katakanlah jika Bapak-bapak, Anak-anak, saudara-saudara, Istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaanmu yang kamu usahakan, permogaan yang kamu khawatiri kerugiannya; dan tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad dijalan nya maka tunggulah sampai Allah Swt. mendatangkan keputusannya. Dan Allah Swt. tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang fasik” (Qs. at-Taubah: 24)

Dengan syahadat yang telah diucapkan maka seseorang harus menghadirkan keridhoan terhadap apa yang telah diucapkan, yaitu ridho menjadikan Allah Swt. sebagai satu-satunya Tuhan.

Satu-satunya Tuhan yang wajib disembah, ridho menerima Nabi Muhammad Saw. sebagai hamba utusan Allah Swt. dan meneladaninya serta ridho menjadikan islam sebagai agamanya.

“Barangsiapa mengatakan ‘aku ridha Allah Tuhanku, Islam agamaku, dan Muhammad Nabiku,” wajib baginya masuk surga” (HR. Abu Daud).

Pembatalan Syahadat

Baginya hanya Allah Swt. sebagai Tuhan yang harus ditaati, diikuti ajaran-Nya, dipatuhi perintah-nya, dan dijauhi larangan-Nya. Maha Suci Allah Swt. yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami. Begitu juga dalam pembukaan surat Al-Kahfi, Allah menegaskan bahwa Rasulullah adalah hamba-Nya yang mendapat bimbingan al-Quran. Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya kitab suci dan dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya.

Baca Juga  Bolehkah Islam Menganjurkan Jatuh Cinta Pada Seseorang?

Dan bagi orang yang mengikrarkan syahadatain itu bentuk pengakuan dirinya sebagai hamba Allah. Sebagai hamba Allah, orang yang berikrar tadi tidak ada pilihan kecuali mencontoh pribadi Rasulullah Saw. Karena Rasulullah adalah seorang hamba Allah sejati yang memang dibentuk sebagai figur ideal yang wajib dicontoh akhlaknya. Untuk menjaga kemurnian tauhid, seperti yang dicontohkan Rasulullah Saw., seorang hamba hendaknya menghindar jauh-jauh dari hal-hal yang merusak kemurnian tauhid; sebagai cerminan dua kalimat syahadat tersebut..

Yang membatalkan syahadat yaitu hal hal yang membatalkan islam, karena dua kalimat syahadat itulah yang membuat seseorang masuk islam. Berikut beberapa macam perbuatan yang dapat membatalkan  syahadat seseorang yaitu: syirik (menyekutukan Allah Swt), orang orang yang menghadirkan makhluk lain; sebagai perantara antara dirinya dengan Allah Swt, seseorang yang mengabaikan ajaran Nabi dan mengambil ajaran kepada Nabi lain, serta orang yang benci terhadap sunah Nabi; dan yang senang mengolok-olok apa yang disampaikan Nabi.

Editor: An-Najmi Fikri R