Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kesamaan Manusia dalam Al-Qur’an (bagian 1)

Bersyukur
Sumber: istockphoto.com

Dalam ajaran Islam, lebih khusus dalam Al-Qur’an begitu banyak pembahasan tentang dinamikan kehidupan manusia. Mulai dari kehidupan manusia yang berkaitan aqidah, ibadah, akhlak dan muamalah duniawiyah. Pembahasan itu merupakan deskripsi dari manusia sudah selayaknya baik serta melakukan kebaikan kepada Allah SWT dan juga kepada manusia lainnya. Di lain sisi bahwa setiap ajaran Islam yang termaktub dalam Al Qur’an maupun tidak, hal itu memberikan hikmah, pelajaran serta percakapan antara seorang hamba kepada sang pencipta dan hamba kepada hamba. Dan hal ini juga yang menandakan bahwa setiap manusia sebagai hamba memiliki kesamaan di hadapan Allah Swt.

Al Qur’an menerangkan kepada kita bahwa ajaran Islam itu menanamkan nilai-nilai keluwesan, kemudahan dan keindahan untuk seorang hamba dalam menjalankannya. Islam tidak pernah membeda-bedakan keadaan, letak dan kedudukan seorang hamba di hadapan sang khaliq. Namun yang menjadi beda itu adalah hamba itu sendiri.  Dengan prilaku rangkus (israf) dan rakusnya sehingga manusia itu sendiri melakukan kemungkaran  dan kerusakan yang menghancurkan tatanan kehidupan dirinya dan juga orang lain. Karena sebenarnya Islam itu sendiri adalah agama “yukhrijuhum min al-dhulumati ila al-nur” (agama yang mengeluarkan manusia dari kegelapan cahaya). Qs. Al Baqarah:257.  

Kesamaan dalam kosep Iqra

Konsep Iqra, dalam Islam dijadikan sebagai agama dan ajaran yang memberikan pencerahan kepada semua pemeluknya, bahkan manusia secara keseluruhan. Iqra yang ditawarkan Islam merupakan jurus untuk menghidupakan dan memajukan peradaban kehidupan manusia pada waktu itu. Iqra menjadi suatu nilai mengajak semua orang untuk berfikir, membaca, memahami, mengkaji dan meneliti kehidupan berserta isinya seluas-luasanya. Iqra menjadi suatu tanda, dari lahirnya tradisi keilmuan yang diringi dengan unggulnya keadaaban manusia baik secara individu maupun sosial. Iqra menjadi langkah awal dari pemahaman dan penerimaan kesamaan dalam kehidupan di dunia ini.

Baca Juga  3 Cara Membuat Puasa Ramadhanmu Lebih Berkualitas

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Qs. Al Alaq: 1-5). Begitulah, bagaimana Allah SWT menyampaikan dalam kitab suci Al Qur’an, membahasa Iqra menjadi bagian terpenting dalam proses menjalani kehidupan dan termasuk juga proses taat padaNya. 

Surat dan Ayat tersebut, juga penegasan bagaimana Allah SWT sebenarnya yang mengajarkan manusia dalam mengilmui, mempelajari dan meneliti tentang  dunia ini dengan perataan yaitu tulis dan baca. Di sinilah Allah menyampaikan kepada kita semua, bahwa  manusia memiliki kesamaan dalam penciptaan dan kesamaan dalam memeliharanya. Kesamaan ini mengisyaratkan kepada setiap manusia,  dilarangnya untuk berlaku sombong atas ilmu yang dimiliki karena hakekatnya manusia itu lemah, miskin dan berada dalam ketidak berdayaan. Karena cinta, sayang dan pemurahnya Allah kepada manusia, sehingga manusia menjadi cerdas, kuat dan bermanfaat.

Kesamaan sebagai seorang Abdullah

Kesamaan manusia lainnya juga ditunjukkan dalam Al Qur’an. Sebagaimana terungkap dalam firman Allah dalam Qur’an surat Adz-Dzariyat: 56 “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. Dalam ayat tersebut manusia diposisikan sebagai Abdullah: abdi, hamba, dan penyembah Allah SWT. Sebenarnya dalam possi inilah, Allah SWT ingin menjelaskan gambaran tentang manusia yang merupakan mahkluk pemilik keshalehan amat tinggi. Manusia adalah ciptaNya yang senantiasa melakukan kebaikan, kejujuran, kebenaran, keadilan dan melakukan prilaku mengangkat manusia pada derajat kemulian didepan manusia dan terutama sang pencipta.

Posisi Abdullah inilah yang juga mendaulat bahwa manusia merupakan pemilik jiwa keyakinan, keselamatan dan kebaikan dalam setiap tingkah laku dalam kehidupan. Pengakuan lain dari posisi Abdullah adalah bahwa sebenarnya manusia ada dalam kesamaan peluang kedekatan kepada Allah SWT. Dari Abdullah inilah, manusia memiliki peluang yang sama untuk ada dan berada dalam kehidupan yang harmonis, tentaram, nyaman dan selalu berada dalam kebahagiaan. Abdullah juga sebenarnya memberitahu kepada manusia bahwa kebenarnya tatanan kehidupan itu ada dalam genggaman kerahmatan sang Illahi rabbi.

Editor: An-Najmi

Baca Juga  Belajar Merajut Kesatuan Umat Di Era Modern