Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Kajian Kosa Kata Al-Qur’an: Istikamah dalam Surat Al-Ahqaf

istikamah
Sumber: https://www.makemebetter.net/

Sebagai seorang muslim dengan tingkat keimanan kepada Allah dan keistikamahan yang tinggi akan selalu konsisten dalam hal berperilaku. Artinya dia akan selalu konsisten dengan apa yang menjadi tujuan utamanya. Kemudian tanpa sedikitpun melencong atau melanggar syariat meskipun harus berhadapan dengan risiko maupun tantangan yang sangat besar. Seseorang dengan tinggi tingkat konsistennya akan dapat mengontrol dirinya dan dapat mengendalikan emosinya dengan baik. Dia tetap konsisten dengan komitmennya. Dan juga memiliki pikiran positif, dan tidak pernah kembali ke belakang atau menoleh ke belakang lagi meskipun ia dalam situasi yang benar-benar genting. Dari sinilah dapat dilihat tingkat keimanan seseorang, semakin tinggi tingkat keimanan tersebut semakin berkualitas juga diri seseorang tersebut.

Istikamah dalam Islam

Dalam agama Islam mengandung dua perkara penting untuk kesempurnaannya, yaitu pertama, Tauhid dan yang kedua, Taat. Tauhid dapat dipahami dari sabda Rasulullah SAW امنت باالله . Taat berasal dari kata kunci استقم. Kedua aspek ini adalah unsur-unsur yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Keduanya harus menyatu dalam satu kesatuan, satu tujuan, dan satu bentuk amalan. Artinya bahwa amalan dan ketaatan ini merupakan hasil dari istikamah yang harus sesuai dengan iman pada diri setiap manusia. Tauhid dan istikamah akan membuahkan hasil yang menguntungkan bagi seseorang yang selalu berada di jalan tersebut. Selain itu juga membawahkan keselamatan dari segala macam keburukan dan akan meraih segala macam kebaikan baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Istiqamah merupakan suatu bentuk Isim Mashdar dari kata (استقام)  yang berasal dari kata ( قوم-يقوم )yang mempunyai arti tegak atau lurus. Istikamah terambil dari kata قام  yang pada mulanya berarti lurus/ tidak mencong. Kata Istikamah ini kemudian dipahami dalam arti konsisten dan setia melaksanakan apa yang diucapkan, mereka teguh dalam beriman dan tidak kembali kepada syirik. Adapun dalam “ensiklopedi Islam” yang disusun oleh tim redaksi Ensiklopedi Islam. Istikamah adalah keadaan atau upaya seseorang yang teguh mengikuti jalan yang lurus (agama Islam) yang telah ditunjukkan oleh Allah SWT. Selain itu, juga memiliki makna konsisten, ketabahan, kemenangan, keperwiaan dan sukses di medan pertarungan antara kepatuhan, hawa nafsu dan keinginannya.

Baca Juga  Al-Qur'an Selalu Relevan (1): Melihat Sisi Temporal dan Universal

Istikamah dalam Al-Qur’an

Seseorang yang istikamah akan selalu tetap menapaki jalan yang lurus walaupun sejuta halangan dan rintangan menghadang di depan matanya. Oleh karena itu orang yang beristikamah layak mendapatkan penghormatan berupa penurunan malaikat kepada mereka dalam kehidupan di dunia. Hal ini untuk membuang perasaan takut, sedih dan memberi kabar gembira kepada mereka dengan kenikmatan surga. Seperti penjelasan al-Qur’an yang sudah tertera dalam Qs. al-Ahqaf ayat 13 dan 14, di dalam surat ini dijelaskan balasan bagi orang yang selalu istikamah dijalan Allah yakni sebagai penghuni surga yang kekal di dalamnya. Berikut penjelasan tafsir surat al-Ahqaf ayat 13-14.

ان الذين قالوا ربنا الله ثم استقماموا فلا خوف عليهم ولا هم يحزنو ن

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah”, kemudian mereka tetap istikamah tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati.” (Qs. al-Ahqaf:13)

 اولئك اصحب الجنة خلدين فيها جزاء بما كالوا يعملو ن

Artinya: “Mereka itulah para penghuni surga, kekal di dalamnya sebagaimana balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (Qs. al-Ahqaf:14)

Penafsiran Ayat

Menurut penafsiran Ibnu Katsir dalam ayat ini mengartikan bahwa istikamah adalah konsisten. Ayat ini menjelaskan sesungguhnya mereka yang mengatakan, “Tuhan kami adalah Allah”. Kemudian tetap melakukan istikamah, konsisten dengan apa yang mereka ucapkan dan juga yang mereka lakukan. Mereka tidak merasa ada kekhawatiran pada diri mereka, yakni terhadap peristiwa yang akan mereka hadapi. Dan mereka tidak pula berduka cita atas apa yang mereka tinggalkan. Sebagai balasan apa yang dikerjakannya semasa di dunia, Allah memberikan balasan berupa surga, dan mereka kekal di dalamnya. Semua ini sebab amal perbuatan mereka dan tercapainya rahmat serta kesempurnaa bagi diri mereka.

Baca Juga  4 Bentuk Larangan Terperdaya dalam Al-Qur'an

Lafad استقماموا  dalam kamus Lisanul Arab memiliki arti bahwa mereka bertindak atau bekerja dalam ketaatan kepada-Nya dan selalu berpegang pada sunnah Nabi-Nya. Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa Ibnu Katsir mengartikan Istikamah yakni konsisten; konsisten terhadap apa yang telah diucapkannya dan apa yang dilakukannya untuk selalu berpegang teguh pada al-Qur’an dan as-Sunnah-Nya.

Sedangkan menurut Muhammad Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah, orang-orang yang mengatakan “Tuhan kami hanyalah Allah”. Lalu melakukan kebaikan, sama sekali tidak akan pernah mengkhawatirkan turunnya sesuatu yang tidak mereka sukai. Mereka juga tidak akan bersedih karena tidak memperoleh sesuatu yang diinginkan. Orang-orang yang mengesakan Allah dan beristikamah dalam melakukan kebaikan itu adalah orang-orang yang akan masuk surga dan kekal didalamnya. Itulah balasan yang diberikan Allah kepada mereka atas kebaikan yang mereka lakukan.

Kategori Istikamah

Dari situlah mengapa orang yang memiliki ketaatan yang tinggi serta telah beristikamah selalu di jalan Allah dikatakan orang yang spesial. Sebab tidak semua orang bisa melakukan istikamah yang selalu menaati peraturan Allah tanpa goyah sedikitpun iman yang dimilikinya. Sebuah pepatah mengatkan bahwa “Hijarah itu mudah yang sulit itu Istikamah”. Kemudian dapat disimpulkan bahwa belum tentu seseorang yang berhijrah itu mampu mempertahakan keistikamahnnya, karena cobaan demi cobaan terus berdatangan silih berganti. Namun dari cobaan-cobaan itu akan membuat keimanan seseorang menjadi kuat, apabila ia selalu berpegang teguh pada syariat Islam. Adapun tanda-tanda manusia bisa dikatakan istikamah menurut al-wafi karya Dr. Musthafa al-Bugha, di antaranya:

  1. Muslim yang istikamah selalu berkomitmen pada hatinya bahwa hanya Allah Tuhan yang harus disembah, dimintai pertolongan, dan dijadikan sebagai pelindung. Orang yang istikamah selalu menyucikan diri dari kemungkinan-kemungkinan yang merusak kemurnian akidah atau tauhidnya.
  2. Selalu teguh pendirian, terus menerus beramal saleh; konsisten dalam menjalankan tugas dan tidak merasa sedih, khawatir dan takut kepada siapapun kecuali Allah.
  3. Berusaha untuk terus belajar, menuntut Ilmu dan mendalami agama. Sehingga dapat mengamalkan ajaran agama dengan lebih yakin dan benar berdasarkan Ilmu yang dipelajari, dan yang telah diajarkan oleh panutannya yakni Nabi Muhammad SAW.
Baca Juga  Buya Husain: Kemerdekaan Perempuan dalam Memilih Pasangan

Penyunting: Ahmed Zaranggi