Pasca tulisan ini terbit di kanal resmi Tanwir.id, berbagai respon yang dilontarkan oleh para kolega; baik yang memang bergelut pada jurusan IAT atau bahkan bergelut bidang lainnya. Sebenarnya, tulisan ini sudah greget rasanya tangan ini untuk mengetik dan menyampaikan melalui tulisan. Hal itu bukan hanya dirasakan oleh saya pribadi, tetapi juga dirasakan oleh para penggelut ke-IAT-an. Berbagai komentar dilontarkan dari para pembaca, teman, orangtua, bahkan guru-guru saya. Dalam menyampaikan sebuah gagasan pasti menuai pro-kontra atas argumentasi yang dibangun oleh sang penulis. Namun, setidaknya saya mengklasifikasikan para pembaca pada dua peta besar.
Dua Model Respon Pembaca
Pertama, kelompok afirmatif. Golongan ini ialah meraka yang sangat mengafirmasi pandangan saya tentang konstruksi ekspekstasi masyarakat yang cukup berlebihan terhadap para sarjana IAT. Padahal, dalam proses pengemblengan calon sarjana jurusan IAT di bangku perkuliahan tidak sedikit yang mundur. Kemudian memilih jalur aman agar tidak stress, depresi, atau naudzubillah hingga bunuh diri. Kelompok ini bahkan mengilustrasikan bahwa dewasa ini, begitu banyak spesialisasi yang sangat spesifik dalam perjalanan studi mahasiswa. Sebagai contoh, dokter spesialis jantung ya ga bisa nyembuhin penyakit kulit. Bukankah begitu? Ya pasti dong, fitrahnya memang begitu bahwa setiap insan di bumi ini pasti memiliki limitnya masing-masing.
Kedua, kelompok moderat. Kelompok ini ialah mereka yang menganggap bahwa gagasan saya tentang “jurusan IAT bukan sarana menjadi nabi” dianggap berlebihan. Karena definisi nabi sendiri ialah utusan yang sempurna atas izin dan perintah Allah Swt. Kemudian, saya disarankan untuk mengubah diksi nabi dengan “wali”. Namun, alasan saya menggunakan diksi “nabi” dilatarbelakangi oleh kuatnya ekspekstasi masyarakat terhadap sarjana IAT; yang harus segera dibelenggu, dibekukan, atau bahkan dikikis. Ala kulli al-Hal mereka tapi menganggap tulisan ini emang harus diangkat kepermukaan agar ada kejelasan posisioning para sarjana IAT dan sarjana Dakwah. Dengan kata lain, jika sarjana IAT mengambil alih apa yang dipelajari oleh sarjana dakwah. Maka, eksistensi para sarjana dakwah akan terancam.
Eksistensi Sarjana IAT
Berdasarkan dua peta besar respon para kolega di atas, maka mampu diambil benang merahnya bahwa melalui tulisan ini setidaknya dapat mengedukasi masyarakat dan mempertegas eksistensi sarjana IAT yang menduduki peran antara akademisi dan mubaligh. Dengan kata lain, bahwa masing-masing sarjana IAT memiliki jalan “ninjanya” sendiri. Di antaranya mereka yang aktif berkarya dalam tulis menulis, mubaligh (ceramah dan public speaking), Qari’ dan Qari’ah (melalui suara emasnya), atau bahkan sebagai programmer dan videograper dan masih banyak lainnya. Artinya, variasi konsentrasi yang dimiliki para sarjana harus menjadi maklumat oleh masyarakat selagi emang mereka (sarjana IAT) tidak keluar dari koridor agama Islam.
Demi memperkuat kualitas tulisan ini marilah sejenak kita melihat bagaimana para penafsir lintas era menafsirkan QS. Al-Isra’[7]: 84 sehingga menjadi pijakan para pembaca bahwa sejatinya manusia ini diciptakan dengan keterbatasan dan memiliki pola kelebihan bervariatif. Tafsir Ash-Shaghir Abdullah bin Abdul Aziz al-Awaji contohnya menafsirkan ayat ini bahwa sejatinya setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing} cara yang sesuai dengan keadaannya baik dalam petunjuk maupun kesesatan {Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. Maksudnya, masing-masing dibiarkan oleh Allah untuk berbuat apa saja namun, Allah mengetahui apa yang mereka perbuat. Begitu juga penafsir lain seperti At-Thabari, Ibn Katsir, dll. Sedangkan, era pertengahan-modern menempatkan ayat ini sebagai peringatan Allah terhadap nabi Muhammad agar tidak emosi melihat manusia (umatnya dan non muslim) dengan emosi yang tinggi. Tetapi, harusnya dengan lapangdada karena yang menentukan amalan seseorang baik atau buruk ialah jobdesknya Allah.
Namun jauh daripada itu, saya melihat bahwa sejatinya ayat ini juga mampu diinterpretasikan bahwa memang manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Lebih-lebih memang semua manusia memiliki spesialisasinya dan biarlah mereka bergerak pada porosnya tanpa ada presure yang mengakibatkan mereka jatuh dan tak berhadap lagi untuk hidup karena terkekang oleh ekspektasi masyarakat yang sangat menghujam mereka terus-menerus. Wallahu A’lam.
Penyunting: Ahmed Zaranggi

























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.