Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Jajang Rohmana: Pendekatan Baru Studi Al-Qur’an dan Tafsir

jajang

Dewasa ini, perkembangan kajian studi ilmu al-Qur’an dan tafsir semakin meluas. Setidaknya ada 3 ranah pada kajian studi al-Qur’an yang muncul saat ini, pertama studi al-Qur’an sebagai teks. Dominasi pada ranah kajian ini dapat kita liat pada kajian mushaf al-Qur’an (manuskrip, aspek iluminasi, qiraat), terjemahan al-Qur’an, tafsir al-Qur’an dan ulumul Qur’an. Kemudian kedua, al-Qur’an dalam masyarakat (living Qur’an) dan ketiga yang cukup banyak yang dikaji para peneliti sekarang adalah al-Qur’an di dunia digital.

Ranah studi al-Qur’an tersebut menuntut adanya pendekatan baru yang digunakan sebagai instrumen peneliatan para peniliti. Karena itu perkembangan-perkembangan objek kajian al-Qur’an menjadi suatu hal keharusan seiring perkembangan zaman yang dinamis. Pendekatan baru dalam studi al-Qur’an ini disampaikan oleh Dr. Jajang A Rohmana, M.A dalam Stadium General Prodi IAT Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, yang diselenggarakan via zoom dan streaming youtube (09/06/21).

Kompleksitas Objek Kajian al-Qur’an dan Tafsir

Menurut Jajang A Rohmana, ada beberapa lahan baru yang dapat dijadikan objek studi kajian al-Qur’an dan tafsir, yaitu objek teks, objek visual, objek big data (medsos, youtube, data mining, dll), suara, dan praktik. Studi teks misalnya menggunakan beberapa metodologi dan analisis dalam studi kepustakaan, dan juga teori yang digunakan dapat beruapa teori-teori dalam ilmu linguistik. Pada objek visual, misalnya kajian al-Qur’an sebagai produk yang menampilkan beberapa mushaf dengan seni perwanaan.

Begitupula pada saat ini ranah objek big data, suara (audio) maupun visual juga menggunakan beberapa teori-teori sebagai pendekatan yang digunakan dalam penelitian. Dan tentunya semua objek tersebut tidak lagi terbatas pada keilmuan pada rumpun ilmu al-Qur’an dan tafsir, namun juga melibatkan pada rumpun keilmuan lainnya.

Baca Juga  Al Yasa' Abu Bakar: Ciri Tajdid Moderat Itu Ilmiah

“Bagi saya dan para beberapa sarjana yang lain menyadari, ini bisa menjadi lahan baru untuk studi ilmu al-Qur’an dan tafsir. Dan tentu keilmuan yang digunakan tidak lagi terbatas pada memahami teks, tapi juga melibatkan keilmuan-keilmuan lain di luar teks dengan berbagai pendekatan yang beragam”, jelas Jajang.

Pendekatan Baru: Tantangan Disiplin Keilmuan

Jajang A Rohmana menyampaikan bahwa studi-studi yang ditawarkan pada objek baru dalam penelitian al-Qur’an tersebut tidak terlepas dari tren penggunaan-penggunaan keilmuan lain. Karena itu menurutnya pada diskursus studi ilmu al-Qur’an tidak menutupi pintu untuk membuka kemungkinan-kemungkinan ilmu lain.

Dan diliat dari hasilnya penggunaan-penggunaan ilmu-ilmu bantu di luar tradisi ilmu al-Qur’an dan tafsir, yang kemudian nanti hasilnya dapat membuka banyak sekali wawasan dan temuan-temuan baru. Hal ini tentunya memungkinkan studi al-Qur’an dan tafsir semakin lama semakin berkembang.                                                                         

Mengenai penggunaan rumpun ilmu ini, Jajang A Rohmana membagi pendekatan keilmuan studi ilmu al-Qur’an dan tafsir menjadi 4 macam:

Pertama, monodisiplin yaitu strategi riset IAT yang fokus pada internal disiplin ilmu tafsir untuk menyelesaikan suatu masalah terkait tafsir.

Kedua, multidisiplin yaitu strategi riset IAT yang melibatkan (aditif) tidak hanya internal disiplin IAT, tetapi juga (minimal satu) disiplin keilmuan lainnya di luar IAT untuk menyelesaikan suatu masalah terkait al-Qur’an dan tafsir.

Ketiga, intedisiplin yaitu strategi riset IAT yang melibatkan transfer (interaktif, percampuran) IAT ke dalam disiplin keilmuan lainnya untuk menyelesaikan suatu masalah sehingga mampu memunculkan metode baru atau disiplin akademik yang baru dalam kajian al-Qur’an dan tafsir.

Keempat, transdisiplin merupakan strategi riset IAT (secara holistik) yang melibatkan pemangku kepentingan lain di luar akademisi IAT, seperti praktisi profesional, pemerintah, politikus, penguasa, pesantren, masyarakat, agar hasil penelitian dapat memiliki probabilitas yang lebih tinggi untuk diaplikasikan di masyarakat.

Baca Juga  Ledakan Bom Bunuh Diri di Makassar, Rohim dari Maarif Institute Sampaikan Peringatan

Terakhir, dosen UIN Sunan Gunung Jati Bandung ini mengatakan semakin berkembangnya zaman, studi al-Qur’an dan tafsir tidak hanya berobjek pada studi teks yang bertumpu pada pengulangan-pengulangan teks itu saja. Lebih-lebih dengan berkembangnya al-Qur’an di dunia digital saat ini, akan ditemukan beberapa objek yang dapat menjadi kajian baru dalam studi al-Qur’an. Oleh karena itu Jajang A Rohmana mengingatkan, ini menjadi tantangan bagi kita para pengkaji al-Qur’an untuk turut meningkatkan kapasitas kita untuk menguasai keilmuan-keilmuan lainya yang dapat berfungsi sebagai pendekatan baru dalam studi al-Qur’an dan tafsir.

“ Ya ini tantangan saya kira bagi kita para pengkaji al-Qur’an, untuk meningkatkan kapasitas kita penguasaan keilmuan kita yang tidak hanya cukup di studi al-Qur’an dan tafsir tetapi juga merambah ke  keilmuan-keilmuan lain yang bisa memperkaya sudut pandang kita, perspektif kita, daya kritis kita dalam melihat perkembangan al-Qur’an di masyarakat”, jelas Jajang.

Reporter: An-Najmi Fikri R