Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Al-Amthal: Tafsir Kontemporer dengan Spirit Zaman

tafsir

Setelah mengenal biografi Nāsir Makārim pada artikel sebelumnya, pada tulisan ini akan dibahas sekelumit tentang kitab tafsir Al-Amthal fī Tafsīr Kitābillah al-Munzal. Dimulai dengan pendahuluan kitab, latar belakang penulisan, metode penafsiran, tipologi dan keistimewaan, serta hal-hal yang berkaitan dengan kitab tafsir ini. Mari kita telisik bersama-sama!

Kitab tafsir ini ditulis oleh Ayatullah Nāsir Makārim pada tahun 1421 H atau 2000 M, dan dibantu oleh 10 pakar tafsir yang merupakan pengajar di hauzah ilmiah. Mulanya ditulis dalam bahasa Persia dengan judul “Tafsīr Nemuneh” berjumlah 27 jilid, kemudian diterjemahkan dalam bahasa Arab oleh Muhammad Ali Aẓarsyab dan berjumlah 15 jilid. (Muḥammad Hādī Ma’rifah, Tafsīr wal Mufassirūn fi Thaubihi al-Qusyaib, jil. 2, hal. 1030)

Pada pendahuluan kitab tafsir ini, diuraikan dengan baik perihal makna tafsir, kapan tafsir Alquran dimulai, latar belakang penulisan, bahaya Tafsir dengan pendapat sendiri, tuntutan dan kemestian zaman, serta tipologi dan keistimewaan kitab. Pendahuluan ini cukup mengantarkan pembaca pada gambaran umum kitab tafsir ini.

Latar Belakang Penulisan

Mulanya, penulis mendapati dirinya dihadapkan pada pertanyaan dari berbagai kalangan, khusunya pada pemuda-pemudi yang haus akan nilai-nilai Alquran, tentang tafsir apa yang baik dan mudah dipelajari. Kebutuhan masyarakat atas mata air Alquran inilah yang menjadi motivasi penulis untuk menghadirkan kitab tafsir yang relevan, aktual dan populer.

Dengan kata lain, tujuan utama penulisan kitab tafsir ini adalah menjawab persoalan-persoalan yang samar di tengah masyarakat, dengan kontekstualisasi nilai-nilai Alquran di era kontemporer melalui bahasa kekinian. Sehingga dapat menghilangkan dahaga masyarakat atas mata air Alquran.

Metode Tafsir

Kitab tafsir ini menafsirkan al-Qur’an secara tertib mushaf lengkap 30 juz. Menafsirkan ayat-ayat Alquran dengan Alquran bil Quran, bil Riwayat dan aqli ijtihadi. Beragam nuansa dalam tafsir ini, namun yang lebih kental adalah corak sosial-kemasyarakatan. Tafsir ini merujuk 16 kitab-kitab besar terdahulu, baik dari mufasir Sunni atau pun Syiah. Yaitu sebagai berikut:

Baca Juga  Kriteria Kitab Tafsir Al-Qur'an di Masa Depan

Tafsīr Majma’ al-Bayān, Tafsīr Anwār at-Tanẓīl, Tafsīr Dūr al-Manthūr, Tafsīr al-Burhān, Tafsīr al-Mīẓān, Tafsīr al-Manār, Tafsīr fī Dhilal al-Quran, Tafsīr al-Marāghi, Tafsīr Mafātīḥ al-Ghaib, Tafsīr Rūḥ al-Jinān, Tafsīr Asbāb an-Nuzūl, Tafsīral-Qurṭubī, Tafsīr Rūḥ al-Ma’ānī, Tafsīr Nūr ath-thaqalain, Tafsīr ash-Shāfī dan Tafsīr at-Tibyān.

Pada pendahuluan, penulis menegaskan bahwa tafsir ini tidak akan menggunakan tafsir dengan pendapat sendiri. Yaitu ketika seorang mufasir datang sebagai guru bagi Alquran, bukan sebagai murid. Artinya, alih-alih mengambil manfaat dari Alquran, ia justru memaksakan pendapat-pendapatnya terhadap Alquran. Menurut Makārim, penafsiran semacam ini bukanlah penafsiran, melainkan pemaksaan terhadap Alquran.

Dengan demikian, tafsir ini hanya kembali kepada Alquran sebagai seorang murid. Dengan segala kerendahan hati, dan mengerahkan segenap usaha, pikiran dan keikhlasan untuk memperoleh petunjuk dari seorang guru yang bernama Alquran. Nāsir Makārim as-Syīrāzī, Al-Amthal fī Tafsīr Kitābillah Al-Munzal, (jil 1. Hal 8)

Adapun metode kerja tafsir dalam tafsir ini terdapat tiga tahap. Pertama, ayat-ayat Alquran dibagikan kepada tim, lalu mereka mengkaji dengan acuan 16 literatur kitab tafsir besar terdahulu. Kedua, mengumpulkan semua penafsiran yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan zaman kontemporer. Kemudian pada pertemuan yang diadakan setiap hari, ditambahkan masukan dan koreksi. Ketiga, setelah diadakan kajian dan musyawarah seputar tema yang beragam, diteliti kembali secara saksama, kemudian dicetak.

Tuntutan dan Kemestian Zaman

Makārim membahas tuntutan dan kemestian zaman pada mukadimah tafsirnya. Kemudian, menjelaskan bahwa setiap zaman memiliki tipologi, kemestian dan tantangannya sendiri. semua itu bermula dari perubahan sosial dan budaya yang merupakan bagian dari proses sejarah masyarakat.

Bagi Makārim, seseorang yang tak berinteraksi dan mengenali kebutuhan dan problema zamannya dengan baik, akan terguncang di tengah kondisi, berada dalam kegelapan dan penuh keragu-raguan dalam melangkah. Akhirnya, ia teralienasi di hadapan serangan berbagai persoalan. Dan tak akan mampu memberi dampak perubahan bagi masyarakatnya. (Nāsir Makārim as-Syīrāzī, Mukhtaṣar Al-Amthal fī Tafsīr Kitābillah Al-Munzal, jil, 1. Hal. 5)

Baca Juga  Rekontruksi Pemahaman Q.S al-Baqarah: 223 Tentang Marital Rape

Lalu, Makārim menukil tuturan indah dari Imam Ja’far Shadiq,

Orang yang mengetahui zamannya tidak akan bingung dan takut oleh timbulnya problema dan tantangan”. (Biharul Anwar, jil. 75, hal. 269, hadis no. 109)

Dengan demikian, Makārim menghadirkan kitab tafsir ini dengan kesadaran atas kebutuhan dan tantangan zaman. Tafsir kontemporer yang ditulis dengan spirit zaman.

Tipologi dan Keistimewaan

Berikut adalah beberapa tipologi dan keistimewaan kitab tafsir ini:

  • Lebih menekankan pada problema-problema konstruktif yang dekat dengan kehidupan. Dan tidak memusatkan pada masalah kesusastraan dan keilmuan. Mengingat Alquran adalah “Kitab Kehidupan”.
  • Di akhir setiap ayat diberikan beberapa catatan terpisah tentang tema-tema yang terungkap dalam setiap ayat, seperti riba, perbudakan, hak-hak wanita, filsafat haji, rahasia diharamkannya judi, khamar, dan daging babi. Masalah jihad dalam Islam dan lain sebagainya.
  • Menampilkan penjelasan ayat secara jelas, akurat dan menarik. Dan berusaha menghindari bahasan yang kurang manfaatnya. Serta menampilkan sangahan dan kritikan sekitar prinsip-prinsip Islam yang berkaitan dengan ayat.
  • Menggunakan bahasa yang mudah dan kekinian, serta menghindari penggunaan istilah-istilah ilmiah yang sulit.

Kurang lebih, seperti inilah sekilas tentang gambaran umum dari kitab tafsir Al-Amthal fī Tafsīr Kitābillah al-Munzal. Kitab tafsir yang ditulis dengan semangat zaman dan bahasa yang kontemporer, aktual dan tentunya populer. Semoga dapat menambah wawasan kita terhadap kitab tafsir kontemporer.

Wallahu’alam bishawab.

Editor: An-Najmi Fikri R