Ada tiga hal ghaib yang hanya Allah yang mengetahui keadaannya. Yaitu jodoh, maut, dan rezeki. Namun dari tiga hal yang ghaib tersebut hanya dua yang dijamin oleh Allah SWT yaitu maut dan rezeki. Sedangkan jodoh tidak dijamin. Semua orang pasti mati ada dalilnya “sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. (QS. Ali Imran : 45).
Semua orang pasti mendapat rezeki juga ada dalilnya “dan tidak ada suatu binatang melata (seluruh makhluk hidup termasuk manusia) pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Hud : 6)
Jodoh Tidak Dijamin Allah
Yang tidak ada jaminan itu adalah masalah jodoh. Sehingga banyak kita lihat orang yang meninggal dunia padahal belum bertemu dengan jodohnya. Ini menunjukkan bahwa tidak semua orang mendapat jodoh. Dan begitulah keadaannya, karena memang tidak dijamin oleh Allah mendapat jodoh di dunia. Adapun kalau di akhirat itu persoalan lain di luar pembicaraan dalam tulisan ini.
Penulis mengamati di berbagai media sosial,baik Facebook, Instagram, maupun status Whatsap,beberapa orang-orang yang sudap siap menikah, terkadang bersikap diam dan menunggu saja dalam masalah jodoh ini. Bahkan keluar statement-statement yang mengindikasikan adanya paham jabariah dalam hal jodoh ini. Misalnya mereka berkata “kalau jodoh tak kemana”, “jodoh pasti bertemu, jadi kenapa harus capek-capek kita mengejarnya”. Terkadang kata-kata tersebut memang disertai dengan sikap berdiam diri. Inilah yang penulis maksudkan sebagai indikasi paham Jabariah.
Paham Jabariah ini adalah salah satu aliran teologi dalam Islam yang mempunyai doktrin bahwa semuanya terjadi karena kehendak tuhan (Allah), sehingga manusia tidak punya daya dan upaya mengenai hal kehendak tuhan tersebut. Oleh sebab itu paham Jabariah ini banyak ditolak oleh para ulama, karena menjadikan orang bersikap apatis dan berpangku tangan saja.
Doa Tanpa Usaha
Ulama mayoritas menganut aliran teologi Asyariyah-Maturidiyyah atau yang lebih dikenal dengan Ahlusunnah Wal Jamaah. Dalam aliran ini, berkeyakinan bahwa memang sesuatu itu sudah ditetapkan oleh Allah SWT, tetapi sebelum ketetapan itu datang, manusia masih bisa mengusahakannya. Itulah yang dikenal dengan istilah ikhtiar.
Begitu banyak orang yang terjebak pada aliran paham jabariah terutama dalam masalah jodoh ini. Mereka tiap hari berdoa tetapi minim usaha. Hal ini penulis amati banyak terjadi terutama pada kaum perempuan.
Mereka sangat yakin jodoh akan datang, tetapi tidak berusaha untuk menjemputnya. Bisa jadi ini merupakan salah satu sikap perempuan yang memiliki rasa malu yang lebih besar dibanding lelaki. Tetapi menurut hemat penulis ini tidaklah pada tempatnya.
Ihktiar Yang Bisa Dilakukan
Dalam sebuah hadis dikisahkan bahwa ada seorang sahabat Nabi yang ketika itu bersama dengan sahabat Nabi yang lain yaitu Anas. Anas saat itu sedang bersama dengan putrinya. Anas bercerita “ pernah ada seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW, menawarkan dirinya kepada beliau. Perempuan itu berkata : Wahai Rasulullah, apakah engkau membutuhkanku?”. Anak perempuan Anas lalu menyelah “alangkah sedikit rasa malunya. Tidak tahu malu. Tidak tahu malu.” Kemudian Anas berkata “Ia lebih baik daripada dirimu. Ia menginginkan Rasulullah sehingga ia menawarkan dirinya kepada beliau. (HR. Bukhari, Ibnu Majah dan Nasai)
Hadis di atas menunjukkan bahwa dalam hal mencari jodoh, apabila menemukan orang yang tepat, rasa malu hendaknya disingkar, bahkan Anas sahabat Nabi SAW tidak menganggapnya sesuatu perbuatan yang memalukan sehingga mencoreng pribadi perempuan tersebut. Karena hal ini demi untuk kemaslahatan dirinya.
Apabila tidak sanggup mengikuti cara tersebut. Bisa disampaikan kepada orang-orang yang dianggap amanah dalam menjaga rahasia dan benar-benar berniat membantu. Ataupun bisa menyampaikannya kepada orang tua/wali untuk mencarikan jodoh. Sehingga ada ikhtiar yang dilakukan dalam menjemput jodoh, tidak hanya berdiam diri.
Editor: An-Najmi Fikri R
























Leave a Reply