“Aku tidak berguna dan tidak berharga di dunia ini. Aku enggak bisa apa-apa.” Tidak jarang perkataan ini terbisikkan dalam setiap hati manusia. Karena pada kenyataannya, hampir setiap manusia pernah mengalami titik terendah dalam hidupnya. Perasaan ‘tidak berguna’ yang kerap kali muncul ini populer dengan istilah feeling worthless.
Apa itu feeling worthless? Feeling worthless merupakan suatu kondisi di mana seseorang muncul perasaan tidak berguna atau tidak berharga dalam hidupnya. Kondisi demikian menyebabkan seseorang berputus asa, useless, dan merasa dirinya tidak memiliki nilai apa-apa. Imbasnya, seseorang akan mengalami kemunduran, sehingga menghambat kemajuan perkembangannya.
Menanggapi fenomena ini, mari berdialog dengan al-Qur’an dalam kacamata sejumlah mufassir. Namun sebelumnya, perlu diketahui bahwa pada hakikatnya, manusia memiliki kesempurnaan yang menjadi nilai harga diri sebaik-baiknya yang dianugerahkan oleh Allah.
Kesempurnaan Manusia
Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang paling sempurna jika dibandingkan dengan makhluk lain. Sebagai misal, manusia diciptakan dengan bentuk fisik dan psikis yang paling lengkap, bagus, lagi sempurna dalam keberfungsiannya. Sebagaimana firman Allah Q.S. at-Ṭīn [95]: 4 berikut.
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ
Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Ditafsirkan dalam kitab Auḍaḥ al-Tafāsīr (juz 1, h. 455) bahwa taqwīm merupakan taṣwīr, yang bermakna bentuk rupa atau fisik yang dapat terlihat oleh indra penglihatan. Manusia diciptakan dengan bentuk fisik yang paling baik, sebagaimana Allah menciptakan tegap postur tubuhnya dengan anggota badan yang proporsional, serta bercirikan memiliki kemampuan menangkap pengetahuan dan pemahaman. Ditambahkan keterangan mengenai fisik atau bentuk manusia dalam kitab Fatḥ al-Raḥmān fī Tafsīr al-Qur’ān (juz 7, h. 395), bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dalam kondisi telungkup posisi arah tubuhnya, kecuali manusia. Oleh karenanya, postur tubuh manusia tegap dan proporsional.
Lebih lanjut, Wahbah az-Zuhaili menambahkan dalam kitab Tafsīr al-Munīr (juz 30, h. 306), bahwasanya di samping kesempurnaan fisik manusia yang telah disebutkan, kemampuan psikis seperti memahami, berbicara, mengatur, dan berbuat bijak, memungkinkan manusia layak menjadi khalifah di bumi, sebagaimana yang telah dikehendaki Allah.
***
Dimilikinya kesempurnaan yang dikaruniakan kepada manusia, baik secara fisik maupun psikis, Allah menempatkan kemuliaan kepada mereka. Hal ini yang termaktub dalam Q.S. al-Isrā’ [17]: 70 berikut.
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا
Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.
Dalam ayat ini, terkandung empat kemuliaan yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia. Pertama, karramnā banī ādama (Kami telah memuliakan anak cucu Adam). Ditafsirkan dalam Tafsīr Jalālain (h. 374), bahwa lafaz karramnā dimaknai dengan faḍḍalnā, yakni ‘Kami utamakan’. Allah memberikan keutamaan kepada manusia sebagai anak turun Nabi Adam dengan pengetahuan, akal, bentuk yang paling baik, bahkan setelah wafat-pun dianggap suci, dan lain-lain. Tafsīr al-Sa’di (h. 463) menambahkan, kesempurnaan yang dimiliki manusia tersebut menjadikan beberapa manusia pilihan untuk menjadi utusan-Nya dan menurukan kitab-Nya kepadanya sebagai tuntunan umat.
***
Kedua, ḥamalnāhum fī al-barri wa al-baḥri (Kami angkat mereka di darat dan di laut). Ditafsirkan dalam Tafsīr Jalālain (h. 374), bahwa ḥamalnāhum fī al-barri dimaknai dengan ‘ala al-dawābbi, yakni menaiki kendaraan darat. Sementara al-baḥri, dimaknai dengan ‘ala as-sufuni, yakni menaiki perahu-perahu. Dengan kemampuan berpikirnya, manusia mampu berkendara di daratan maupun di lautan dengan menggunakan kendaraan-kendaraan sesuai dengan kondisinya. Sehingga mampu mengantarkan mereka ke berbagai tempat di belahan dunia untuk menambah pengalaman dan belajar darinya.
Ketiga, razaqnāhum min al-ṭayyibāti (Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik). Ditafsirkan dalam kitab Fatḥ al-Raḥmān fī Tafsīr al-Qur’ān (juz 4, h. 118) bahwa rezeki baik yang dikaruniakan Allah adalah berupa lezatnya makanan dan minuman. Ibnu Katsir memperjelas dalam tafsirannya (juz 5, h. 97), bahwa makanan dan minuman lezat terdiri atas tanaman, buah-buahan, daging, susu, dan masih banyak lainnya. Juga pemandangan yang indah, pakaian-pakaian yang bagus dengan beragam jenis, warna, dan bentuk.
Keempat, faḍḍalnāhum ‘alā kaṡīrin min man khalaqnā tafḍīlā (Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna). Ditafsirkan dalam kitab Tafsīr Ibn Kaṡīr (juz 5, h. 97), bahwa Allah mengaruniakan kelebihan-kelebihan kepada manusia atas makhluk lainnya, yakni hewan dan makhluk lain. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, yakni secara singkat disimpulkan bahwa pembeda dengan makhluk lain ialah manusia memiliki akal dan nafsu.
Memberdayakan Diri dengan Menangkis Feeling Worthless
Menanggapi fenomena feeling worthless, atau kondisi di mana manusia muncul perasaan tidak memiliki keberhargaan diri, tidak berguna, atau semacamnya, kesempurnaan yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia ini hendaknya menjadi renungan agar senantiasa mensyukuri nikmat-Nya dengan memelihara dan menumbuhkembangkan fungsi fisik dan psikis, sehingga kemudian mampu menghasilkan manfaat melalui anggota-anggota badan yang dimiliki. Memelihara fisik dengan memakan makanan yang bergizi, dan mencegah makan makanan yang menimbulkan penyakit; serta memelihara psikis secara spiritual dengan agama dan pendidikan yang baik.
Sejatinya, manusia adalah makhluk yang bernilai atas kesempurnaan yang dimilikinya, baik secara fisik maupun psikis. Tidak ada manusia yang tidak berguna di muka bumi ini. Seringkali keterbatasan dipahami oleh manusia sebagai ketidaksempurnaan. Nyatanya, manusia sendiri yang membatasi kesempurnaan yang dianugerahkan Allah Yang Maha Tidak Terbatas. Perlu digarisbawahi, bahwa keterbatasan hanya dimiliki oleh orang yang tidak mau memberdayakan dirinya.
Di samping itu pula, upaya memberdayakan diri merupakan bagian dari mengualitaskan generasi bangsa. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bahwa manusia merupakan khalifah yang ditempatkan di muka bumi ini, maka hendaknya berupaya memanfaatkan karunia-Nya atas apa yang dimiliki sebagai salah satu bentuk mensyukuri nikmat-Nya. Jadi, bagaimana? Apakah nikmat Allah masih kurang untuk menghasilkan manfaat atas kesempurnaan yang dititipkan dari-Nya? Nikmat Allah tidak terbatas, manusia sendiri yang membatasinya.



























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.