Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Etika dan Pentingnya Dialog Antar Umat Beragama

umat
Sumber: istockphoto.com

Allah telah memerintahkan kita untuk tidak memaksakan kehendak agama yang satu kepada agama yang lainnya agar terciptanya etika kerukunan sesama umat manusia. Hal ini telah Allah sebutkan dalam Q.S al-Kafirun:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ, لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ, وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ, وَلا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ, وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ, لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ.

Artinya: Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah, Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah, Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku“. [Q.S. al-Kafirun:109:1-6]

Dalam Tafsir Taysir telah dijelaskan bahwa Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk tidak menyembah apa yang orang-orang kafir sembah. Dan tiap-tiap orang berbuat menurut keadaanya masing-masing yaitu dimana orang-orang kafir anti dari apa yang orang-orang beriman kerjakan dan begitu sebaliknya.

Dalam surat tersebut sudah jelas bahwa tidak ada paksaan satu sama lain dimana dengan hal tersebut akan menciptakan kedamaian dan kerukunan antar umat beragama. Karena dalam berdialog ini tiap-tiap individu maupun kelompok harus mengutamakan sikap toleransi, membudayakan keterbukaan, saling pengertian, mengembangkan rasa saling menghormati.

Tujuan dan Pentingnya Dialog Antar Umat Beragama

Dialog antar umat beragama ini sangat penting karena dialog tidak akan terjadi jika situasi diwarnai oleh permusuhan. Perbedaan-perbedaan tentu saja akan menimbulkan gejolak yang sedikit-banyaknya akan bersentuhan dengan keharminisan sosial. Dalam dialog harus menciptakan atmosfir saling memahami, saling menerima, dan saling berkolaborasi di antara umat agama.

Pemikiran dialog antar agama ini menawarkan berbagai pemikiran yang mendasar dalam tujuan untuk menyatukan umat manusia tanpa terkecuali, menyelesaikan beberapa konflik yang terjadi di berbagai daerah meski dalam wadah agama-agama yang berbeda namun tetap mengutamakan sikap toleransi, membudayakan keterbukaan, saling pengertian, mengembangkan rasa saling menghormati hak-hak setiap manusia.Dengan adanya dialog antar umat beragama ini akan menciptakan kerukunan serta menyatukan umat manusia dalam wadah agama yang berbeda. Serta tidak memaksakan kehendak agama yang satu kepada agama yang lainnya. Adapun tujuan yang lain yang ingin dicapai dalam dialog yaitu menghidupkan suatu kesadaran baru tentang keprihatinan pokok iman orang lain, mengarah kepada kerja sama untuk memecahkan persoalan kemanusiaan bersama di masyarakat, dialog mengarah kepada suatu pemahaman yang otentik mengenai iman orang lain tanpa sikap untuk meremehkan dan apalagi mendistorsikan keyakinan-keyakinan mulia tersebut, dan menggalang kerjasama antaragama untuk memecahkan masalah-masalah kemanusiaan yang ada di masyarakat.

Baca Juga  Lebih Utama Mana, Menghafal atau Memahami Al-Qur’an?

Dalam dialog antar umat beragama memiliki tiga unsur penting yaitu:

  1. Kesediaan untuk menerima adanya perbedaan keyakinan dengan orang atau kelompok lain.
  2. Kesediaan membiarkan orang lain untuk mengamalkan ajaran agama yang diyakininya.
  3. Kemampuan untuk menerima perbedaan dan selanjutnya dapat menikmati suasna kesyahduan yang dirasakan oleh orang lain ketika sedang mengamalkan ajarannya tersebut.

Allah telah memerintahkan Rasulullah untuk menanggapi secara positif terkait pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh komunitas non-muslim. Pertanyaan selalu ditanggapi dengan baik meskipun pertanyaan tersebut sesungguhnya diajukan untuk menguji kemampuan maupun kebenaran ajaran islam. Ia tidak menanggapinya secara emosional, melainkan menjawab secara wajar sesuai dengan pertanyaan yang diajukan .adapun beberapa pertanyan yang pernah diajukan oleh kelompok non-muslim pada Rasulullah adalah tentang roh, ashabul kahfi, Zulkurkain. Disinilah peran pentingnya diadakan dialog antar umat beragama kemudian pertanyaan-pertanyaan yang bernada menguji tersebut dijawab oleh Rasulullah sebagaimana dengan petunjuk Allah dalam Q.S. al-Isra’:85:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلا قَلِيلا

Artinya: Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. [al-Isra’:17:85]

Dengan ayat tersebut Rasulullah mengajak berfikir positif untuk menjaga hubungan baik dan agar terciptanya dialog yang produktif.

Etika Dialog Antar Umat Beragama dalam Al-Qur’an

Etika berasal dari Bahasa Yunani kuno yaitu “ethos” yang berarti padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) etika diartikan sebagai ilmu tentang apa yang baik dana pa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). Menurut Ahmad Amin etika adalah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik buruk, menerangkan apa saja yang seharusnya dilakukan oleh setiap manusia lainnya, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan manusia dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.

Baca Juga  Terus Berproses: Refleksi Qurani tentang Menerima Diri

Dialog dalam al-Qur’an ada beberapa etika yang harus dipegang oleh mereka, diantaranya:

  1. Meluruskan niat untuk mencari kebenaran
  2. Memperhatikan dan mendengarkan lawan bicara dengan baik
  3. Menghormati lawan bicara serta tidak merendahkannya
  4. Bersipak adil objektif serta proposiaonal
  5. Menggunakan retorika yang jelas dan singkat berdasarkan ilmu pengetahuan serta pemilihan kata-kata yang baik sopan lemah lembut tidak egois.

Al-Qur’an sudah memberikan contoh dalam beretika dalam berdialog. Sebagaimana dalam surat ali ‘Imran:159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. [ali’Imran:3:159]

Dalam tafsir Taysir telah dijelaskan bahwa Allah telah memberi rahmat kepada Rasulullah dan para sahabatnya dan Allah telah memberi karuniaNya kepada Rasulullah agar bersikap lemah lembut dan bersikap sopan santun kepada orang-orang kafir yaitu dengan mengasihi dan berakhlak baik kepada mereka sehingga mereka dapat berkumpul, mencintai dan mentaati perintah Rasul. Dan jika Rasul bersikap keras atau berakhlak buruk kepada mereka tentulah mereka akan benci dan menjauhkan diri darimu. Dan Allah memerintahkan untuk memusyawarahkan perkara-perkara yang membutuhkan bermusyawarah, tukar pikiran dan pendapat kepada mereka.Karena di dalam musyawarah itu terdapat faidah yang banyak dalam maslahat agama maupun dunia yang tidak mungkin dibatasi, di antaranya:

  1. Bahwasanya musyawarah itu termasuk ibadah-ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
  2.  Bahwasanya di dalam permusyawarahan itu terdapat toleransi untuk mencurahkan ide mereka dan menghilangkan ketidak enakan yang ada dalam hati mereka terjadi berbagai peristiwa. orang-orang yang memiliki kekuasaan atas orang lain apabila mengumpulkan para cendikiawan dan tokoh masyarakat, niscaya hati mereka akan tenang dan mereka akan mencintainya dan kemudian mereka mengetahui bahwa dia tidak berbuat sewenang-wenang kepada mereka, akan tetapi dia memandang kepada kemaslahatan umum bagi seluruh masyarakat.
  3. Dalam bermusyawarah terdapat pencerahan pikiran, di sebabkan pengaktipan akal pada objek peruntukannya hingga menjadi suatu tambahan bagi objek akal.
  4. Apa yang diahasilkan dari musyawarah adalah dari pikiran yang matang, karena seorang yang bermusyawarah hampir-hampir tidak membuat salah dalam pelaksanaanya, dan apabila terjadi kesalahan atau tidak sempurna sebagaimana yang di inginkan, maka ia tidak akan dicela.
Baca Juga  Menjaga Lingkungan Hidup: Tujuan dan Dampak

Dari ayat di atas ada dua kata kunci yang mendsari dialog yang dapat berjalan dengan efektif yaitu adanya kasih sayang dan masing-masing pihak menempatkan pihak lainnya dalam posisi yang setara sebagaimana yang terjadi dalam musyawarah. Kasih sayang dalam konteks dialog dapat diartikan sebagai sikap saling menghargai, saling menghormati, dan saling menjaga perasaan masing-masing dengan cara menghindari sikap-sikap dan kata-kata yang tidak sopan, merendahkan umat lain dan menyakiti atau menyinggung kelompok umat agama lain. Masing-masing umat beragama diberi hak untuk menyampaikan secara terbuka tentang problem dalam kehidupan bersama meurut perspektif masing-masing.

Editor: An-Najmi