Bulan Ramadan sudah dilalui, ramadhan merupakan bulan yang mulia disisi tuhan. Karena dalam bulan itu ibadah- ibadah istimewa telah digelar juga berpotensi ada pahala yang terkandung di dalamnya. Salah satunya yang utama adalah Puasa. Puasa atau dalam bahasa arab Shaum, merupakan ibadah wajib di bulan Ramadan karena begitu istimewanya. Dimensi puasa secara teosentris maupun antroposentris.
Secara historis kata puasa bukan kata murni dari Arab, itu merupakan serapan dari akulturasi Hindu-Budha dahulu di Nusantara. Puasa diambil dari bahasa sansekerta yaitu ‘upa‘ dan ‘vasa‘, upa yang bermakna dekat, dan vasa bermakna Yang Maha Agung. (Nuryandi, 2022) Tetapi memang puasa dan shaum masih ada kaitanya secara horizon. Perintah puasa telah tercantum pada Al- Quran yang berbunyi,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183)
Ayat tersebut merupakan perintah langsung dari Tuhan untuk membentuk pribadi manusia yang menerapkan saleh ritual dan sosial. Karena takwa dan puasa itu dimensinya sangat luas, sehingga sudut pandang kita tidak boleh monoton mengenai puasa harus dinamis dapat dikontekstualisasikan. Karena puasa sendiri memang secara teknis, menahan diri dari lapar dan haus. Tetapi ada yang lebih penting jika puasa itu memang kata nabi “Junnatun” (Perisai). Makna perisai juga memiliki nilai- nilai filosofis- sosiologis untuk menerapkan bagaiman dari ritual menuju action movement.
Jagat Viralitas Yang Unik
Hari- hari ini memang unik, agama baru yang bernama “Medsos” telah menjangkiti para kawulanya yang disebut “Netizen”. Umat hari ini dijebak realitas baru yakni Viralitas dan Algoritmik. Yang artinya kebutuhan manusia selain makan dan minum. Bekerja ada satu yakni Upload Status dan mengikuti arus media sosial seperti; tiktok, youtube, instagram, dimana pengaruh kuat untuk mengacak-acak kepribadian umat.
Bayangkan saja rasa malu telah diumbar- umbar dan bukan hal yang tabu. Dan banyak muslimah yang terjangkit penyakit cantik harus eksis. Akibatnya kita sendiri terkadang sangat sulit untuk menghindarinya, memakai analogi puasa sebagai perisai. Mungkin bisa diterapkan dengan cara mengurangi kadar yang buruk, seperti mempercayai hoax, tontonan yang kurang etis, atau apapun yang dirasa bisa merubah mental dan mindset berpikir seseorang.
Beberapa sosiolog, seperti Bryan S Turner dan Max Weber melihat agama sebagai tindakan sosial dan kontrol sosial (Putra, 2020). Tindakan sosial yang direncanakan oleh Max Weber adalah bahwa tindakan yang dilakukan oleh seorang individu memiliki makna dan tujuan diarahkan pada diri sendiri (yang melakukan). Konsep puasa secara teoritis seharusnya dapat dihayati di dunia medsos ini dan disebarluaskan. Konsep yang tradisional kurang relevan di zaman sekarang, harus ada pembaruan mengenai konsep tersebut. Kemudian digabungkan dengan mengambil jalan Wasathiyah, karena di dunia medsos ini kebenaran dan keaslian tidak bisa hanya dinilai sistematis maupun logis, haruslah empirik. Nyata di kehidupan masyarakat terjun dan merasakan.
Bulan Ramadhan: Saleh Ritual dan Sosial
Selain berpuasa, bulan ramadhan juga dianjurkan untuk memperbanyak sunnah ritual agama. Tetapi semua itu tidak baik jika dipaksakan, mereka masyarakat memandang pruralistik tentang Ramadan. Ada yang melakukan improvisasi kesalehan ritual; juga yang melakukan kesalehan sosial. Asal tidak meninggalkan syariat agama yang wajib juga sakral, ganjaran atau implikasi dari saleh sosial akan berpengaruh besar untuk diri sendiri dan masyarakat. Misalnya menolak kemungkaran di bulan puasa, sebagian dari dimensi puasa. Tidak usah jauh- jauh mengurangi tontonan yang kurang berfaedah, menambah tontonan yang mengarah kepada tarbiyatul nafs produktivitas dan etos kerja.
Kemudian juga ada penyelidikan terhadap Umiarso dan Makhful (2018) berjudul. “Puasa dan pendidikan agama Islam Membangun boneka manusia “Tuhan”: Revisi kritis halaman epistemologi dan aksiologi (Pembelajaran) Pendidikan Agama Islam”. Studi ini menemukan bahwa dengan adanya puasa dapat beribadah menjadi alat desain Kemungkinan identitas manusia kemanusiaan dan ketuhanan. (Islamy, 2021).
Maka dari itu, Ramadan adalah wadah yang tepat untuk reinterpretasi dimensi puasa diaktualkan sebagai usaha manusia untuk memahami dirinya sebagai ritual dan digerakkan sebagai usaha sosial. Dalam Surat Hujurat ayat 10 telah dijelaskan dengan redaksi,
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu; (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.
***
Dalam ayat tersebut ada kata ikhwatun, yang bisa diartikan saudara, ikatan, solidaritas. Dan ayat tersebut merupakan penunjang dan memperkuat bahwa kebaikan-kebaikan di bulan Ramadan adalah tanggung jawab kita bersama. Bagaimana memproduksi hal-hal konstruktif yang mendekatkan kepada fastabiqul khoirot.
Puasa juga sebaiknya diamini sebagai budaya identitas bangsa Indonesia. Bagaimana perisai berfungsi, mencegah radikalisme beragama, perpecahan, profesionalitas kerja, dan berusaha mengembalikan ghirah etika yang benar, dihadapan public dan society. Karena agama tidak hanya bekerja sebagai seorang sufi yang selalu merindukan Tuhan Nya. Tetapi juga memperjuangkan apa yang kurang dalam bermasyarakat dan berbangsa. Agama semua itu benar, tinggal pelaku agama tersebut, memberikan cermin apa kepada kita?


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.