Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Cinta Dunia Perspektif Said Nursi dalam Risalah An-Nur

cinta dunia
Sumber: https://www.yenisafak.com/

Pada Q.S Ali Imran (3): 14 menjelaskan bahwa pandangan manusia memang menyukai kesenangan duniawi atau cinta dunia. Kesenangan itu seperti perempuan-perempuan, anak-anak, dan harta benda. Namun terkadang kenikmatan duniawi seperti itu membuat manusia terlena karena menikmatinya dengan hawa nafsu. Dalam hal ini, salah satu mufassir yang berjuang menyembuhkan penyakit yang diderita umat Islam dengan Al-Qur’an adalah Said Nursi. Ia menggunakan akal dan hatinya untuk menafsirkan Al-Qur’an. Sehingga dapat dikatakan tafsirnya bersifat logis yang lahir dari seorang sufi.

Cinta Dunia

Said Nursi tidak kemudian menyuruh umat Islam agar tidak mencintai kesenangan-kesenangan itu. Melainkan ia menasehati agar mencintai mereka karena Allah Swt semata. Kecintaan terhadap kenikmatan duniawi karena Allah Swt yang dapat dibenarkan oleh agama. Selain itu merupakan bentuk kesyukuran kepada-Nya dan perenungan terhadap karunia-Nya dalam rasa cinta itu sendiri.

Said Nursi menjelaskan bagaimana seharusnya manusia menyikapi cinta dunia dan mengekspresikannya. Misalnya kecintaan manusia terhadap makanan dan buah-buahan. Janganlah mencintai makanan dan minuman lantaran nafsu semata. Sehingga mengabaikan tugas mulut sebagai penjaga yang memasukkan semua makanan ke dalam istana perut. Namun cintailah mereka karena ia merupakan salah satu bentuk kenikmatan yang terpancar dari nama al-Rahman dan al-Mun’im Allah Swt.

Contoh lainnya, kecintaan manusia terhadap perempuan pendamping hidup. Cintailah mereka lantaran ia merupakan salah satu hadiah dari Allah Swt. Cintailah mereka karena keindahan akhlak, kelemah-lembutan, dan kesopanan yang memancarkan jiwa keperempuanannya, bukan karena kecantikan lahiriah yang bersifat sementara.

Makna Harfi dan Ismi

Oleh karena itu, Said Nursi memerintahkan agar manusia mencintai dunia beserta seluruh makhluk yang ada di dalamnya karena makna harfi. Yang bermakna di balik hakikat sesuatu dan melarang mereka untuk mencintai kenikmatan dunia dengan makna ismi yaitu karena hakikat sesuatu itu. Misalnya ketika melihat keindahan alam, janganlah berkata “Betapa indahnya ini!” Tetapi katakanlah “Betapa indah penciptanya!”

Baca Juga  Al-Baqarah Ayat 155-157: Ganjaran Kesabaran Bagi yang Lulus Melewati Musibah

Jika semua kenikmatan di dunia dicintai karena Allah Swt. maka akan melahirkan kenikmatan yang hakiki tanpa rasa sedih dan pertemuan yang tak akan lenyap. Bahkan kecintaan duniawi itu akan terus menambah rasa cinta kepada Allah Swt. Dengan demikian, seharusnya setiap manusia tidak memasukkan ke dalam hatinya suatu kecintaan selain cinta kepada Tuhannya.

Cinta Majazi dan Hakiki

Menurut Said Nursi, cinta terhadap sesuatu terbagi menjadi dua. Ada cinta majazi dan cinta hakiki. Said Nursi mengilustrasikannya dengan seorang raja yang memberikan sebuah apel kepada salah seorang. Apabila orang itu menunjukkan kecintaannya kepada buah apel yang merupakan buah yang lezat dengan melahapnya langsung di hapadan sang raja. Tentu hal ini tidak disukai oleh raja bahkan membencinya. Dalam artian, ia mencintai apel tersebut dengan makna ismi. Cinta yang demikian hanya melahirkan kenikmatan yang bersifat sementara. Bahkan akan habis setelah selesai memakannya bahkan meninggalkan kesedihan.

Sementara, apabila orang itu mencintai buah apel sebagai bentuk karunia kerajaan. Kemudian seraya menunjukkan kecintaannya kepada sang raja, tentu hal ini membuat sang raja senang. Dalam arti, ia mencintai apel tersebut dengan makna harfi karena ia merupakan bentuk nikmat dari kerajaan. Cinta yang demikian akan melahirkan kenikmatan yang hakiki tanpa rasa sedih di dunia maupun di akhirat.

Lalu, orang yang terlanjur mencintai kenikmatan duniawi dengan cinta majazi. Menurut Said Nursi sangat mungkin untuk mengalihkan cinta majazi-nya itu kepada cinta hakiki. Said Nursi menjelaskan bahwa cinta majazi dapat dipalingkan menjadi cinta hakiki. Saat ia melihat dunia pada buruknya kefanaan, lalu ia bergegas mencari kekasih abadi pada dunia dari dua aspek keindahannya. Yaitu cermin Asma’ al-Husna dan ladang akhirat. Namun, dengan syarat mampu membedakan antara dunia yang fana dan dunia luar.

Baca Juga  Mengenal Tafsir Risalah Nur Karya Badiuzzaman Said Nursi

Perumpamaan Yang Indah

Said Nursi kemudian mengumpamakannya dengan seseorang yang memasuki sebuah kamar. Di mana sisi dari dinding-dinding kamar itu tertutup penuh dengan cermin-cermin besar. Ketika itu, kamar indah itu berubah menjadi lima kamar. Satu kamarnya bersifat hakiki dan umum. Sementara empat kamar lainnya bersifat imajinasi dan khusus. Kamar khusus itu dapat diatur warnanya dengan mengganti warna cermin. Apabila cermin itu diganti berwarna merah, maka kamar khusus itu akan berwarna merah. Apabila cermin itu diganti berwarna hijau, maka kamar khusus itu akan berwarna hijau.

Orang itu dapat mengubah suasana kamar dengan menyetel warna cermin. Bahkan kamar itu dapat dirubah menjadi baik atau buruk, atau sesuai dengan keinginan penghuninya. Akan tetapi orang itu tidak dapat merubah dan mengganti kamar yang bersifat umum dan yang berada di luar cermin dengan mudah. Hukum keduanya berbeda, meski pada dasarnya sama. Dengan menggerakkan jari, orang itu bisa merusak kamar khususnya (dengan merusak cermin). Sementara, ia tidak dapat merusak kamar umum itu sedikitpun. 

Begitulah Said Nursi mengilustrasikan dunia; tempat singgah yang indah. Ia menjelaskan bahwa kehidupan setiap manusia laksana cermin yang luas dan besar. Setiap manusia memiliki dunia yang bersifat khusus dan dunia yang bersifat umum. Hanya saja pilar, pusat dan pintu dunia kita adalah kehidupan kita. Jika manusia mencintai dunianya. Lalu menyaksikan kefanaan dari segala sesuatu dan menyadari bahwa hal itu hanyalah sementara. Maka saat itulah cintanya terhadap hakikat sesuatu itu berubah menjadi cinta terhadap goresan Asma’ al-Husna. Selanjutnya, apabila manusia memahami bahwa dunia khusus merupakan ladang akhirat sementara baginya, maka ia akan memindahkan kecintaannya yang kuat terhadap kenikmatan duniawi kepada ladang akhirat. Saat inilah cinta majazi akan berubah menjadi cinta hakiki.

Baca Juga  5 Hikmah Gempa Bumi menurut Said Nursi dalam Risalah al-Nur

Orang-Orang Yang Lupa dan Lalai

Sebaliknya, orang yang lupa terhadap dirinya sebagaimana yang dijelaskan pada Q.S al-Hasyr (59): 19. Mereka tidak memikirkan kehidupannya yang sementara, dan menganggap dunianya fana itu sebagai sesuatu yang hakiki. Kemudian mengira dirinya kekal hingga menggenggamnya dengan seluruh perasaan. Maka orang ini akan hancur dan binasa. Cintanya akan menjadi perderitaan dan bencana baginya. Sebab, cinta majazi hanya akan melahirkan rasa belas kasih dan getaran kalbu yang putus asa seperti anak yatim. Akhirnya, ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk dirinya sehingga merasa terpukul dalam sebuah keputusan yang pahit.

Adapun orang pertama yang selamat dari kefanaan itu, maka ia telah menemukan salep penyembuh dalam menghadapi rasa kasihan. Saat ia mengalami penderitaan, ia menemukan keabadian cermin yang menampilkan manifestasi abadi dari Asma’ al-Husna yang kekal. Di balik keindahan seluruh makhluk yang akan menghadapi kefanaan, ia menemukan hiasan, penerangan, dan kebaikan yang bersifat permanen.

Kesimpulan yang dapat diambil adalah bagaimana seseorang mampu mengatur cermin kehidupannya dengan baik. Bagaimana seseorang dapat menikmati kenikmatan duniawi yang bersifat sementara sehingga memancarkan manifestasi abadi dari Asma’ al-Husna. Sehingga menjadi kebahagiaan yang hakiki di dunia maupun di akhirat.

Penyunting: Ahmed Zaranggi