Manusia merupakan makhluk Allah SWT yang paling sempurna ciptaanya dibanding dengan makhluk yang lainnya. Sejatinya manusia memiliki sifat monodualis, monodualis artinya manusia di dalam kehidupan memiliki dua peran; peran sebagai makhluk individu dan juga sebagai makhluk sosial. Di dalam Al-Qur‘an penyebutan manusia dengan empat istilah yaitu Basyar, Ins, Insan, dan nas. Banyaknya penyebutan manusia dalam al-Qur‘an, menandakan bahwa setiap kata tersebut memiliki makna yang berbeda-beda.
Manusia sebagai Basyar
Di dalam Al-Qur‘an manusia sebagai basyar disebutkan sebanyak 36 kali dan tersebar pada 26 surah kata basyar tidak hanya disebutkan untuk manusia biasa. Tetapi juga disebutkan untuk Nabi dan Rasul, karena itu menandakan bahwa Nabi dan Rasul itu juga memiliki sifat manusia biasa seperti, makan, minum, tidur, terjadi penuaan dan mati. Manusia sebagai basyar ini lebih diartikan kepada biologis,fisik,jasmaniah atau jasadiahnya.
Basyar juga mengandung pengertian bahwa manusia akan berketurunan yaitu mengalami proses reproduksi seksual, dan kata basyar juga mengindikasikan bahwa manusia itu hidup itu berproses untuk mencapai pada tahap dewasa. Pada level Basyar ini yang membuat Iblis memprotes Allah, karena telah menciptakan Adam. Seperti yang terdapat pada QS. Al-Hijr ayat 33 “aku tidak akan bersujud pada Basyar (Adam) yang diciptakan dari tanah lempung yang dibentuk”.
Iblis menolak bersujud kepada Nabi Adam, karena Nabi Adam diciptakan dari tanah. Iblis hanya melihat fisik Nabi Adam saja, sehingga tidak mau bersujud, karena Iblis tidak melihat kualitas dibalik penciptaan dari tanah itu. Oleh karena itu kalau hanya melihat orang lain dari luarnya saja, tidak melihat dari dalam. Maka apa bedanya dengan Iblis, begitu pula dengan orang yang dalam mencari pasangan atau jodoh ingin mendapatkan yang ganteng atau cantik, maka dia belum menemukan hakikat manusia, karena melihat manusia selalu dari luarnya saja.
Manusia sebagai Ins
Dalam bahasa Arab ins berarti jinak, ramah, dan menyenangkan atau lawan kata nufur (lari menjauh). Makna jinak disini adalah lebih ke adab, penyebutan Ins merupakan salah satu karakter fitrah manusia, oleh karena itu jika manusia tidak mau jinak atau taat kepada Tuhannya. Maka manusia tersebut belum kembali pada fitrahnya. Kata Ins di dalam Al-Qur‘an kurang lebih dalam 17 surat, ins dalam Al-Qur‘an disandingkan dengan jin. Kata ins di sandingkan dengan jin karena terdapat perbedaan, ins atau manusia itu sejatinya tampak atau kelihatan. Sedangkan jin dalam bahasa berarti samar,tidak terlihat atau tertutup, dan jin fitrahnya adalah tidak nampak. Oleh karena itu jika ada jin yang menampakkan maka jin tersebut sedang bermasalah atau tidak dalam fitrahnya. Kata ins sejajar dengan jin seperti terdapat pada surat Adz Dzariyat ayat 56 yang berbunyi
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”.
Dalam surat ini manusia dan jin diperintahkan oleh Allah SWT untuk beribadah kepadanya. Manusia disini disebut ins karena manusia pada fitrahnya itu mau diperintah; untuk melaksanakan perintah Allah atau jinak kepada sang Pencipta, manusia juga tidak memiliki kuasa untuk menolak perintah. Karena itu kalau ada manusia yang tidak mau mengikuti perintah Allah, maka manusia tersebut lagi dalam masalah karena tidak kembali pada fitrahnya.
Manusia Sebagai Insan
Kata Insan merujuk pada aspek akal budi, insan disebut dalam Al-Qur‘an sebanyak 65 kali dan tersebar dalam 43 surat, insan memiliki arti lupa. Ibnu Mandzur dalam bukunya; yang bernama Lisan Al-‘Arab yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a berkata “Sesungguhnya manusia dinamakan al-insan, karena ia diamanatkan kemudian ia melupakannya”. Sedangkan menurut Thalehah Hasan; insan dipakai untuk menyebutkan manusia dalam konteks manusia yang memiliki kelebihan-kelebihan. Pertama sebagai makhluk yang berfikir. Kedua makhluk pembawa amanah, ketiga makhluk yang bertanggung jawab pada apa yang diperbuat.
kesimpulan yang dapat diambil dari pendapat dua tokoh tersebut adalah, bahwa Allah SWT telah memberikan amanat kepada manusia. Namun manusia itu sendiri yang ingkar atau lupa terhadap apa yang diamanatkan oleh Allah. Allah mengangkat manusia sebagai Khalifah di bumi itu karena insan –nya ini, bukan karena basyarnya saja. Allah mengangkat manusia sebagai khalifah di bumi ini karena manusia memiliki akal yang digunakan untuk berfikir. Berbeda dengan hewan yang memiliki akal, tapi tidak digunakan untuk berfikir, kata insan bisa dijumpai salah satunya didalam surat at-Tin ayat 4.
Manusia sebagai Nas
Dalam al-Qur‘an kata nas disebutkan sebanyak 240 kali, tersebar dalam 53 surat. Penyebutan kata nas ini paling banyak digunakan oleh Allah untuk menunjukkan pada sikap manusia. Kata nas menunjukkan bahwa manusia sebagai makhluk sosial yang dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya tanpa memandang manusia itu kafir atau beriman, oleh karena itu terkadang manusia dalam melaksanakan baik atau buruk itu juga bisa berasal dari lingkungannya yang ditinggali. Kata nas juga menunjukkan manusia secara umum. Maksudnya nas itu menunjukkan pada manusia baik sudah beriman maupun belum. Kata nas juga menunjukkan bahwa manusia itu membutuhkan orang lain. Dalam al-Qur‘an juga menyebut manusia sebagai nas karena manusia tidak memiliki keimanan yang kuat, yang kadangkala beriman dan kadangkala pula munafik, hal ini dinyatakan dalam al-Baqarah ayat 8 yang berbunyi
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَۘ
Artinya: “Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman“.
Kesimpulan
Dalam Al-Qur‘an manusia memiliki beberapa penyebutan, seperti Basyar yang menunjukkan manusia lebih ke fisik atau jasmaniah nya. Ins menunjukkan bahwa manusia pada fitrahnya adalah makhluk yang jinak maksudnya yang beradab, yang taat pada Tuhannya. Insan menunjukkan bahwa manusia memiliki kelebihan-kelebihan, sehingga Allah mengamanatkan kepada manusia. Tetapi manusia melupakannya, sedangakan yang terakhir manusia sebagai nas, ini menunjukkan manusia sebagai makhluk sosial, atau manusia secara umum baik yang beriman maupun tidak.
Editor: An-Najmi

























Leave a Reply