‘Uzair adalah seorang Nabi yang diutus kepada Bani Israil pada masa antara Nabi Sulaiman dan Nabi Zakariya. Walaupun tidak termasuk 25 Nabi dan Rasul yang masyhur; Nabi Uzair memiliki peran besar dalam menjaga agama Allah; yaitu ketika di tengah-tengah Bani Israil tiada seorang pun yang hafal Taurat, Allah mengilhamkannya kepada Nabi Uzair, lalu ia menyampaikannya kepada Bani Israil.
Kisah Nabi Uzair dalam Al-Qur’an
Allah mengabadikan kisah Nabi Uzair dalam Al-Qur’an walaupun nama beliau tidak disebut secara langsung, yakni pada QS. Al-Baqarah: 259:
اَوْ كَالَّذِيْ مَرَّ عَلٰى قَرْيَةٍ وَّهِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَاۚ قَالَ اَنّٰى يُحْيٖ هٰذِهِ اللّٰهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ فَاَمَاتَهُ اللّٰهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهٗ ۗ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۗ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍۗ قَالَ بَلْ لَّبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ اِلٰى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۚ وَانْظُرْ اِلٰى حِمَارِكَۗ وَلِنَجْعَلَكَ اٰيَةً لِّلنَّاسِ وَانْظُرْ اِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوْهَا لَحْمًا ۗ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗ ۙ قَالَ اَعْلَمُ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya: “Atau seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh hingga menutupi (reruntuhan) atap-atapnya, dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?” Lalu Allah mematikan (orang itu) selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (menghidupkannya) kembali. Dan (Allah) bertanya, “Berapa lama engkau tinggal (di sini)?” Dia (orang itu) menjawab, “Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.” Allah berfirman, “Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, tetapi lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membaluṭnya dengan daging.” Maka ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, “Saya mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Awal mula Kisah Nabi Uzair
Ibnu Katsir mengisahkan dalam Qashashul Anbiya’ bahwa suatu ketika Nabi Uzair pergi untuk mengecek kondisi ladang miliknya. Ia menaiki keledai dan membawa bekal berupa roti kering, serta satu keranjang yang berisi buah anggur dan buah tin.
Sepulang dari ladang, ia menghampiri reruntuhan rumah-rumah saat matahari berada di tengah-tengah. Ia merasa kepanasan lalu turun dari keledai dan singgah atau berteduh di salah satu reruntuhan rumah. Ia lantas mengeluarkan piring, memeras anggur, dan menyelupkan roti ke dalam perasan anggur, lalu ia makan.
Setelah itu, ia berbaring sembari melihat bangunan-bangunan yang sudah rata dengan tanah, para penghuninya juga telah punah. Ia juga melihat seonggok tulang yang telah lapuk lalu berkata “Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?”, ia mengatakan itu karena heran bukan karena meragukan kekuasaan Allah. Allah kemudian mengutus malaikat maut lalu mencabut nyawanya. Allah mewafatkan Nabi Uzair selama 100 tahun.
Dibangkitkan Kembali dari Kematian
100 tahun berlalu, Allah mengirim Malaikat untuk membangkitkan kembali Nabi Uzair. Lalu Allah bertanya kepada Nabi melalui Malaikat-Nya “Berapa lama kau tinggal disini?”, ia menjawab “Aku tinggal disini sehari atau setengah hari” (Karena ia tidur pada pertengahan siang dan dibangkitkan sebelum matahari tenggelam), Malaikat kemudian berkata “Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun”, “Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah”. Yaitu roti kering dan perasan anggur di dalam piring yang masih tetap seperti sedia kala tanpa mengalami perubahan. Sepertinya Nabi Uzair mengingkari perkataan Malaikat (bahwa dirinya berada disitu 100 tahun lamanya), kemudian Malaikat berkata “tetapi lihatlah keledaimu!”, Nabi kemudian melihat keledainya yang ternyata sudah menjadi tulang-belulang dan sudah lapuk.
Kemudian, dengan kuasa Allah, Malaikat menyusun kembali tulang-tulang keledai itu, lalu memberinya urat nadi dan menutupinya dengan daging. Lalu menumbuhkan kulit dan bulu, lalu meniupkan ruh pada keledai itu sehingga dapat berdiri dan meringkik. Setelah Nabi Uzair melihat hal-hal itu Dan menyadari bahwa dirinya telah berada di situ selama 100 tahu. Maka nabi berkata “Saya mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu” yaitu Mahakuasa menghidupkan orang-orang yang sudah mati dan hal lain.
Nabi Uzair kembali ke kampung halamannya
Nabi Uzair kemudian menunggangi keledainya dan pulang ke kampungnya. Ketika Nabi Uzair sampai ke kampung halamannya, beliau mengatakan kepada Bani Israil bahwa dirinya adalah Uzair dan telah diwafatkan Allah selama 100 tahun lalu dibangkitkan kembali. Bani Israil menyangsikannya, lalu orang-orang berkata kepadanya. “Di antara kita, tak seorang pun hafal Taurat selain Uzair seperti yang kami dengar, maka imlakkan/diktekan Taurat kepada kami…!” Pada masa itu tidak ada lagi kitab Taurat yang tertulis, kitab Taurat yang disimpan oleh Nabi pun sudah rusak kertasnya dan hilang tulisannya. Nabi Uzair kemudian duduk di bawah sebuah pohon sementara Bani Israil berada di sekelilingnya. Nabi Uzair mendiktekan Taurat untuk mereka. Maka jadilah kitab Taurat tetap lestari berkat Nabi as.
Kesimpulan
Kisah tentang kekuasaan Allah yang dialami oleh Nabi Uzair hanya dikisahkan pada satu ayat, yaitu QS. Al-Baqarah ayat 259. Hal ini membuktikan bahwa satu ayat Al-Qur’an saja bisa mengandung kisah yang luar biasa. Dari cerita Nabi Uzair ini kita bisa mengambil hikmah bahwasanya Allah bisa membangkitkan makhluk-makhluk yang sudah mati dengan mudah walaupun makhluk itu sudah mati ratusan tahun dan hancur lebur tidak berbentuk (sebagaimana keledai Nabi Uzair); di samping itu Allah juga mampu membuat suatu hal tetap utuh terjaga selama ratusan tahun (sebagaimana bekal makanan Nabi Uzair). Semakin banyak kita mempelajari kisah-kisah orang terdahulu, semakin kita mengerti betapa Mahakuasanya Allah dan betapa luar biasanya para Nabi dan Rasul dalam menyampaikan ajaran Allah. Wallahu a’lam bishshowab.


























Kanal Tafsir Berkemajuan
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.