Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Isyarat Pentingnya Berlapang Dada dalam Al-Qur’an

Sumber: istockphoto.com

Menurut Syekh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dalam kitab Asyartu Asbabin Linsyirahi As-sadr, lapang dada adalah rasa puas, rasa tenang, hilangnya rasa tidak nyaman dan masalah dari hati, serta terus menerus merasa bahagia. Sampai-sampai, Ibnu Hibban menyatakan betapa berlapang dada ini penting, termasuk dalam hal berlapang dada dengan perbuatan buruk manusia. (Raudhatul ‘Uqala, 166).

Isyarat Lapang Dada dalam Alquran

Perintah berlapang dada dalam al-Qur’an tidaklah sedikit. Berbicara lapang dada, tentu identik dengan nama surah, yakni surah al-Insyirah atau juga dikenal surah asy-Syarh. Nama surah ini diambil dari ayat pertama:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?

Ibnu Katsir memaparkan dalam tafsirnya, bahwa yang dimaksud lapang dada di sini mencakup maknawi dan hissi. (Tafsir Ibnu Latsir, 8/415). Yang dimaksud lapang dada maknawi yaitu berlapang dada yang menyangkut bathiniyah, bagaimana hati Rasulullah begitu kuat dan sabar menghadapi cobaan dan gangguan manusia dengan kemuliaan akhlaknya. Sedangkan lapang dada hissi (inderawi) yaitu berlapang dada berkaitan kisah Rasulullah dibelah dada oleh malaikat Jibril. Akan tetapi, Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsirnya mengatakan, mayoritas mufasir mengatakan bahwa makna lapang dada dalam ayat ini adalah lapang dada yang abstrak (maknawi). Mufassir lain seperti syaikh As-Sa’di pun menafsirkannya maknawi, maksud melapangkan dalam ayat ini yaitu bawa Allah memberikan kelapangan dalam syari’at dan kemudahan untuk berdakwah di jalan Allah. Nabi Muhammad dikaruniai akhlak yang mulia hingga dimudahkan untuk menjalankan kebaikan.

***

Pentingnya lapang dada dalam surah al-Insyirah menunjukan betapa beban berar dakwah Rasul tidak akan mampu diangkat dan dilewati tanpa adanya sikap lapang dada. Selain surah al-Insyirah, pentingnya berlapang dada juga terlihat dalam doa nabi Musa as dalam surah Thaha ayat 25:

Baca Juga  Ustadz Fathurrahman Kamal: Batas Rasa Sabar Manusia

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي

Dia (Musa) berkata, ‘Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku.”

Ayat di atas adalah potongan doa nabi musa dan merupakan doa paling pertama yang belau panjatkan ketika diperintah berdakwah kepada Fir’aun. Mengapa Nabi Musa memohon kelapangan hati sebagai permohonannya yang paling pertama sebelum meminta yang lain. Hal ini erat kaitannya dengan keutamaan berlapang dada. Ketika Allah melapangkan dada seseorang, maka segala kesulitan yang dihadapi akan terasa lapang, dan itu merupakan nikmat Allah yang diberikan kepada para nabi.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengutip Imam Ad- Dhahak yangbmeriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Mereka bertanya: “Hai Rasulullah, apakah Allah melapangkan dada”? Nabi saw menjawab: “Benar Allah melapangkan dada”. Mereka kembali bertanya: “Apakah tanda Allah telah melapangkan dada?” Kemudian beliau menjawab:  Tanda Allah melapangkan dada adalah bergesernya dari dunia yang menipu kepada kehidupan yang kekal, serta menyiapkan kematian sebelum kedatangannya.”.

Menaladani Lapang Dada Rasulullah

Betapa banyak kisah yang menggambarkan betapa lapang dadanya suri tauladan, Rasulullah saw dalam segala aktifitas kehidupannya. Pada tulisan ini, akan disuguhkan satu contoh sikap lapang dada Rasulullah yang sangat fantastis.

Diriwayatkan dari Aisyah bahwa ia sedang berdialog dengan Nabi saw. Aisyah bertanya, apakah ada hari yang lebih berat dilalui Rasul dari pada peperangan Uhud? Yakni peperangan Rasulullah yang mengalami kekalahan.

Rupanya Rasulullah menjawab, bahwa memang ada hal yang lebih berat dari itu yang pernah dilaluinya, yakni pada saat peristiwa ‘Aqabah, saat beliau tidak disambut orang di sana, penduduk Thaif yang sudah menolak dan melemparinya dengan batu sampai tubuh beliau terluka, hingga Rasul pergi dengan kesedihan yang dalam. Setibanya di daerah Qarnuts Tsa’alib, Rasulullah mengangkat kepalanya dalam keadaan awan menaunginya. Hingga munculah Jibril mengabarkan bahwa malaikat penunggu gunung akan datang.

Baca Juga  Jadikan Sabar Dan Sholat Sebagai Penolong Hidupmu!

Tibalah malaikat tersebut menyapa dan mengucapkan salam lalu mengatakan, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar penolakan kaummu. Dan aku penjaga gunung mendapat titah untuk melaksanakan perintahmu sesuai kehendakmu. Bahkan jika engkau mau, akan ku benturkan dua gunung ini di atas mereka.”

Akan tetapi, Rasulullah menjawabnya dengan penuh kelapangan dada: “Sesungguhnya aku berharap akan terlahir dari tulang sulbi mereka keturunan yang beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukanNya.” (HR. Muslim no. 429). Peluang Rasul untuk membinasakan kaum yang telah menyakitinya dikalahkan oleh keluasan dan kelapangan hatinya.

Demikian isyarat pentingnya bersikap lapang dada. Hendaknya kita membiasakan doa berlapang dada sebagaimana yang dicontohkan nabi Musa di atas.

Wallah a’lam.

Editor: An-Najmi