Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Ayah! Anakmu Menantikanmu: Refleksi QS. Luqman 13

ayah
Sumber: istockphoto.com

Anak itu diibaratkan sebuah anugerah yang tiada terhitung kebahagiannya bagi pasangan keluarga. Pasangan laki-laki (ayah) dan perempuan (ibu) dengan ikatan pernikahan sejatinya bertujuan agar memiliki keturunan. Suatu anugerah yang tak terbilang apabila seorang pasangan diamanahi oleh tuhan dengan sang buah hati yang berbakti kepada orang tua dan juga menentramkan hati (qurratul a’yun). Namun, goal untuk mendapatkan anak yang dicita-citakan seperti tadi tentu kedua pasangan harus membutuhkan effort yang besar. Bagaimana tidak, anak seringkali digambarkan dengan kertas putih yang mana orangtua mempunyai otoritas untuk menulis, menggambar, atau bahkan merobek kertas tersebut.

Ayah dan Anak

Fenomena hari ini terlihat bagaimana begitu banyak anak-anak yang tidak sependapat dengan orang tuanya. Bahkan nasehat-nasehat yang diberikan terkesan mental dan tidak masuk ke dalam sanubari sang anak; dan petatah-petitih orang tua guna membentuk sang anak tak membekas sama sekali. Mungkin sebagian orang melihat bahwa anak tersebut mempunyai kepribadian yang durhaka kepada orang tuanya, karena enggan mendengarkan apa yang disampaikan orang tua kepada dirinya. Hal itu sering saya dengar pepatah bahwa sejatinya “nasehat orangtua itu tiada pernah expired (habis dilekang oleh waktu).

Ketidaksepakatan antara orang tua dan anak bahkan membawa pada pertengkaran dan pertingkaian. Namun, perihal tersebut mungkin bisa dilerai oleh sang ibu; yang mendekati sang anak dengan kasih sayang dan penuh pesan perdamaian dari hati ke hati kepada anak. Tak heran jika anak terkesan dominan punya kedekatan secara personal dengan anak. Meskipun demikian, anak juga menantikan peran dari sang ayah yang tidak hanya berfungsi sebagai pencari nafkah, tidak heran kita menemukan anak yang mencoret-coret buku diary pribadinya sambil menangis, tidak peduli akan sekitarnya, atau bahkan ngetrack balapan diluar. Prilaku itu semua bisa jadi dilakukan merupakan wahana untuk mengekspresikan  sang buah hati untuk mendapatkan perhatian dari ayah kepada anak.

Baca Juga  Pentingnya Pendidikan Seks Bagi Anak

Kadangkala, sang anak begitu sangat menantikan kehadiran sang ayah yang pulang dari kerjanya sekedar ingin menyampaikan kejadian yang ia temui selama seharian. Namun, penantiannya seakan sia-sia karena jangankan untuk bercerita dan bercanda gurau sekedar menyapa anaknya pun tidak dilakukan sang ayah. Begitulah mungkin yang dirasakan oleh sang anak, sehingga mungkin kedekatan secara personal tidak terjalin romantis dan hangat antara keduanya (anak dan ayah).

QS. Lukman ayat 13: Sebuah Refleksi terhadap Ayah

Kegelisahan sang anak mungkin sebagian orang terlalu berlebihan jika digaungkan sebagai sebuah permasalahan. Namun, konflik antara ayah dan anak sekecil apapun itu harus dicarikan solusinya agar tidak terjadi konflik yang berkepanjangan antara mereka. Jangankan untuk berdiskusi untuk mencari sebuah solusi, komunikasi antara anak dan ayah saja tidak terjalin dengan baik atau bahkan bisa dikatan cacat.

Peristiwa dialog antara Lukman dan anaknya; yang mengajak kepada kebaikan dan tidak mempersekutukan Tuhan terakam di dalam Al-Qur’an. Melalui rekaman peristiwa tersebut; seharusnya menjadi sebuah renungan betawa pentingnya peran sang ayah dalam perkembangan dan pembentukan anak di masa yang akan datang. Surat Lukman ayat 13 tersebut berbunyi :

وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar

Ayat di atas, mengajarkan tentang nasehat akan tersampaikan apabila hubungan secara personal antara ayah dan anak harmonis. Kisah lainnya yang diabadikan dalam Al-Qur’an; cerita nabi Ibrahim yang mempunyai kesibukan tetap menyempatkan bermain bersama anaknya. Begitupula nabi Yaktub bahkan ngobrol dengan nabi Yusuf yang sebagai anak dan ayah. Kisah-kisah tersebut bisa menjadi perenungan bagi sang ayah zaman now.

Baca Juga  Belajar Manfaat Bentuk Rasi Bintang Menurut Al-Qur'an

***

Pesan moral yang dapat dipetik dalam tulisan singkat ini, meski ayah mempunyai tanggungjawab terhadap kestabilan perekonomian keluarga. Ayah lebih dari itu kami sang buah hati menanti kehadiranmu dengan senyum di pipimu kepada kami. Sebagai bahan penutup dari tulisan ini penulis ingin mengutip quote dari Ibu yang menasehati ayahnya yang otoriter dalam film “ngeri-ngeri sedap” beliau mengungkapkan bahwa

“menjadi orangtua itu tiada lekang oleh waktu dan zaman. Boleh jadi kesuksesan kamu dihari lalu tidak sesuai dengan zaman dimana anak-anakmu kau bina dan bentuk”. Maka dalam hal ini menjadi orang tua harus update menyesuaikan kemauan anak-anak yang ingin menjadi apa kelak dikemudian harinya.

Editor: An-Najmi

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Bisa dihubungi melalui: Twitter: @ayasriyan, Instagram: @ayasriyan