Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat jibril, sebagai pedoman bagi umat muslim agar bisa menjalani hidup dengan baik. Al-Qur’an berisi ayat-ayat yang menuntun kewajiban muslim dan melarang hal-hal yang dilarang dalam agama islam yang sesuai dengan isi ayat-ayat Al-Qur’an. Bagi umat islam Al-Qur’an sangat diyakini sebagi hudan linnas dan Rahmatan lil alamin, yang memiliki fungsi penting bagi kelangsungan kehidupan manusia. Bagi umat manusia Al-Qur’an juga berfungsi sebagai mengatur kehidupan seseorang. Salah satunya yaitu mengenai pedoman tingkah laku seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana harus bersifat penyayang, rendah hati, tawadhu, menolong dan lain-lainnya yang mencerminkan perilaku Akhlahul Karimah. Adapun salah satu nilai terkandung dalam surah Al-Furqan ayat 63 yang menjelaskan mengenai sifat Tawadhu. Tawadhu banyak sekali berbungan dengan manusia sosial yang artinya bukan hanya menghenikan diri tetapi sebagai salah satu bentuk dedikasi kepada Tuhan.
Pengertian Tawadhu
Tawadhu merupakan salah satu sifat terpuji di dalam islam . Secara harfiah Tawadhu artinya rendah hati yang sudah sepatutnya harus dimiliki oleh setiap orang. Sikap ini menentramkan kehidupan dalam bermasyarakat dan menciptakan berbagai sikap terpuji atau mulia yang lainnya. Adapaun coontoh dari sikap tawadhu’ yang harus kita miliki yaitu menghargai orang lain. Karena dalam hidup bermasyarakat pasti akan kita dapati perbedaan-perbedaan pendapat sehingga kita sebagai orang islam harus bisa berperilaku baik dalam menanggapi perbedaan tersebut dengan cara menghargai argument-argumen orang lain. Lawan kata sifat tawadhu’ yaitu tinggi hati, sombong yang biasanya juga disebut dengan takabbur atau angkuh.
Allah sangat melarang keras manusia yang memiliki sifat sombong. Karena pada sifat sombong itu termasuk sifat tercela yang sangat dibenci oleh Allah Swt. Orang yang memiliki sifat tawadhu’ ini pasti di dalam dirinya memiliki kelebihan-kelebihan karena sifat ini merasa bahwa diri kita orang biasa; atau rendah tetapi pada aslinya memiliki banyak kelebihan pada dirinya. Sifat Tawadhu ini menuntut kita agar tidak bersifat sombong. Karena ketika kita berperilaku tawadhu atau rendah hati kepada seseorang akan sangat mungkin memicu perbuatan sombong. Jadi musuh terberat kita ketika menerapkan salah satu akhlakul karimah ini yaitu harus bisa menjauhi rasa sombong agar tidak terjerumus pada sifat tersebut.
Keutamaan sifat Tawadhu’
- Diangkat derajatnya
Allah akan memuliakan dan mengangkat derajat bagi orang-orang yang bersifat tawadhu’. Didalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam muslim; Rasulullah bersabda: “tidaklah sesorang yang bertawadhu yang ditunjukan semata-mata karena Allah Swt, melainkan Alaah akan mengangkat derajatnya”
- Menghasilkan keselamatan
Tawadhu dapat memberikan keselamatan, mendatangkan persahabatan, mengahapus dendam dan menghilangkan pertentangan sesama orang muslim.
- Dekat dengan Allah
Kita meyakini bahwa dengan bertawadhu’ hati kita akan selalu dekat dengan Allah Swt. Karena orang tidak menunjukan atau menyombongkan kebaikan yang dimilikinya yang disebut dengan tawadhu’; sehingga selalu dalam jalan pasrah atas segala ketentuan Allah.
- Jauh dari penyakit hati
Tawadhu’ akan menjauhkan diri dari penyakit hati. Sebab merasa bahwa segala sesuatu yang diberikan oleh Allah adalah lebih dari cukup dan juga sudah menjadi yang terbaik pada dirinya; sehingga akan terus berusaha jika menginginkan sesuatu dalam rangka untuk beribadah dan mencari ridho dari Allah.
Analisis Kontekstual surah Al-Furqan ayat 63 dalam tafsir Al-Misbah
Dalam surah Al-Furqan terdapat pendekatan kontekstual mengenai arti tawadhu. Bahwa tawadhu’ adalah kondisi atau keadaan yang sifatnya tengah-tengah antara sombong yang merupakan sifat tercela, sebab sombong merupakan sifat khusus dzatnya Allah Swt berfirman QS. Al-Furqan ayat 63.
وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا
Artinya: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan“.
Dalam kitab tafsir Al-Misbah karangan M. Quraish Shihab menjelaskan ayat di atas bahwa salah satu bentuk kelemahlembutan dan kerendahan hati mereka adalah sikap mereka terhadap orang-orang jahil. Karena itu ayat ini berbeda dengan ayat sebelumya. Kita juga dapat berkata bahwa seseorang yang menghayati bahwa Allah Swt adalah Rahman sebagai pemberi rahmat kepada semua mahkluk-makhluknya dalam kehidupan. Arti tawadhu dalam surah Al-Furqan memiliki arti rendah hati; sebagaimana yang dijelaskan di dalam kitab tafsir al-Misbah bahwa sifat tawadhu’ ini disebut dengan (هونا) haunan berarti lemah lembut dan halus. Patron kata dipilih di sini adalah mashdar yang mengandung makna “kesempurnaan”. Dengan demikian maknanya adalah penuh dengan kelemah lembutan.
Tawadhu’ dalam konteks ini bisa diinterpretasikan secara kontekstual sama dengan kita merasa belum bisa dan membutuhkan ilmu itu dan sombong. Sama dengan kita merasa sudah mengerti mengenai semua ilmu itu. Jadi sangat mungkin ilmu tidak dapat masuk kedalam hati orang yang bersifat sombong. Dan ini bisa kita terapkan dengan cara kontekstual dalam kehiduapan sehari-hari kita salah satu caranya; yaitu dengan merendahkan diri kita dalam hal masalah yang dihadapi tidak dengan cara tinggi hati atau bersifat sombong yang hal itu yang akan menjadikan hati kita rusak karena akhlak tercela.
Kesimpulan
Tawadhu merupakan salah satu sifat terpuji di dalam islam . Secara harfiah artinya rendah hati yang sudah sepatutnya harus dimiliki oleh setiap orang, adapaun keutaman tawadhu’ meliputi; diangkatnya derajat, menghasilkan keselamatan, dekat dengan Allah, jauh dari penyakit. Dalam surah Al-Furqan terdapat pendekatan kontekstual mengenai tawadhu’ adalah kondisi atau keadaan yang sifatnya tengah-tengah antara sombong yang merupakan sifat tercela. Tawadhu’ dalam konteks ini bisa diinterpretasikan secara kontekstual sama dengan kita merasa belum bisa dan membutuhkan ilmu itu dan sombong.
Editor: An-Najmi


























Leave a Reply