Menilik pelajaran sebab turunnya salah satu surah dalam juz 30, yaitu ‘Abasa ayat 1-10. Dijelaskan bahwa Allah menurunkan firman tersebut ketika Rasulullah bermuka masam dan memalingkan diri dari seorang buta yang datang menghampirinya dan memotong pembicaraan. Ayat ini menjadi teguran kepada Rasulullah yang di dalamnya terdapat pelajaran yang bisa kita petik hikmahnya.
Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa pada masa itu, Rasulullah sedang mengadakan pertemuan bersama kaum Quraisy dengan tujuan untuk mengajak kaum tersebut memeluk Islam. Akan tetapi ditengah obrolan, ada seorang buta yang hadir dengan niat meminta diajari Alquran oleh Nabi. Nabi merasa tidak senang dengan kehadirannya dan tidak menjawab pertanyaan seorang buta tersebut. Hal inilah yang kemudian melandasi turunnya surah ‘Abasa.
***
Atas dasar ayat al-Qur’an tersebutlah kemudian memahamkan kepada kita bahwa anak yang berkelainan memiliki hak yang sama untuk memeroleh pendidikan. Bahkan di mata Tuhan, kedudukan manusia adalah sama. Selaras dengan ayat tersebut, penulis merasa terenyuh dengan kejadian pagi tadi yang baru saja penulis alami. Di saat dalam perjalanan berangkat sekolah, di depan penulis ada seorang siswa yang dibonceng ayahnya. Rupanya dia adalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Hal yang romantis dari pertemuan itu adalah, anak tersebut menoleh kearahku, tersenyum dan melambaikan tangan padaku. Entah apa yang mendorong ia melakukan hal tersebut, seketika aku balas senyumnya dan lambaian tangannya, dan dia begitu terlihat bahagia. Dari pengalaman penulis dan dari firman Allah tersebut kemudian membuka mata kita bahwa Anak Berkebutuhan Khusus juga berhak untuk diperhatikan, didahulukan, dan diberi kebahagiaan.
Penggalan ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah juga memiliki perhatian yang sama kepada hambaNya yang memiliki kekurangan. Begitupun dengan kita sebagai hamba yang diberikan rezeki berupa fisik yang baik, sudah semestinya memberikan ruang yang sama untuk mereka yang berkebutuhan khusus.
***
Kejadian yang penulis alami tersebutlah menjadikan penulis merenung bahwa ada beberapa sikap yang kita tunjukkan kepada penyandang disabilitas dengan didasarkan pada Al-Quran.
Pertama, tidak mengabaikan penyandang disabilitas. Sebagaimana yang penulis paparkan di awal, bahwa Allah menegur Rasulullah melalui surah ‘Abasa. Tentu peneguran ini menandakan bahwa kita harus memiliki sikap saling menghargai kepada siapapun tanpa terkecuali.
Lebih jauh lagi, ayat ini memberi sebuah pelajaran dan arahan kepada kita tentang peristiwa individual. Kedua, memberikan hak yang sama. Kita tidak pernah memahami apa yang dirasakan oleh penyandang disabilitas, mungkin mereka kerap berpikir bahwa hidup yang ia jalani adalah sebuah kesia-siaan. Akan tetapi, jika menilik surah Al-Mu’minun ayat 115 bahwa Allah tidak menciptakan manusia secara main-main (sia-sia).
Hal ini perlu dipahami secara bersama bahwa semua dari kita diciptakan tentu tidak dalam keadaan tidak berguna, pasti ada manfaat dan maksud dari Allah. Karena kelompok disabilitas merupakan kelompok minoritas yang rentan mengalami diskriminasi. Tentu harus menjadi sebuah pelajaran bagi kita bahwa sebenarnya keberadaan mereka memiliki hak yang sama dengan kita. Hak yang sama untuk bahagia dan membahagiakan sekitarnya.
Editor: An-Najmi

























Leave a Reply