Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Al-Qur’an dan Simbol Kuasa Kerasulan Nabi Muhammad

simbol kuasa
Sumber: https://www.vecteezy.com

Referensi sejarah Islam sepakat bahwa kerasulan Nabi Muhammad dimulai semenjak turunnya wahyu pertama di Gua Hira. Peristiwa tersebut bermula ketika Jibril mendatangi nabi Muhammad dengan menjelma sebagai laki-laki biasa. Lalu menyuruh Rasulullah untuk membaca, dan diwahyukan 5 ayat pertama pada surat Al-‘Alaq. Wahyu Al-Qur’an yang nantinya menjadi simbol kuasa kerasulan Nabi Muhammad.

Peristiwa pewahyuan ini merupakan hal yang sangat berat bagi Nabi Muhammad. Bagaimana tidak, Nabi yang disebut “al-ummi” sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf Ayat 157 disuruh untuk ‘iqro’ 3 kali oleh malaikat Jibril.

Iqro yang disebutkan sebanyak 3 kali oleh malaikat Jibril menjadi pembuka kerasulan, namun belum menjelaskan tugas seorang rasul. Tugas itu baru dijelaskan pada wahyu berikutnya, Al-Muddassir. Nabi Muhammad yang sedang berselimut diseru oleh Al-Qur’an dan diperintah untuk mengabarkan nazir.

Kerasulan Nabi Muhammad

Peristiwa kerasulan Nabi Muhammad pun mulai menyebar ke penduduk Mekkah. Quraisy semula menduga bahwa apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad tidak akan lebih dari kata-kata para pendeta. Dan kepercayaan masyarakat akan kembail kepada kepercayaan nenek moyang mereka.

Akan tetapi perkiraan mereka meleset. Meskipun Al-Qur’an memiliki kemiripan dengan tradisi syair yang selama ini mereka cintai, Al-Qur’an dan Nabi Muhammad tetap sesuatu yang baru. Al-Qur’an meledak-ledak, kuat, dan berbeda. Ia memiliki mekanisme pewahyuan yang sama dengan kahin yang menerima syair. Akan tetapi ia memproklamasikan otentisitas yang lebih tinggi, yaitu dari penguasa Arsy. Ia menerimanya dari rasul, bukan dari jin maupun syaithan.

Muhammad mendadak menjadi pusat perhatian orang-orang Quraisy. Ia dituduh sebagai penyair, karena ia diwahyukan ungkapan-ungkapan indah. Ia juga dituduh sebagai orang gila, karena pesan-pesan wahyu yang ia sampaikan susah diterima oleh penduduk Mekkah.

Baca Juga  Semangat Bela Negara: Ajuran Al-Quran kepada Umat Islam

Dengan demikian, di luar pewacanaan Asma’ Al-Qur’an, keberadaan Al-Qur’an telah menempatkan Muhammad kepada pusat perhatian. Kondisi tersebut bisa dibahasakan sebagai bentuk sebuah kuasa. Maka Al-Qur’an adalah simbol kuasa Nabi Muhammad.

Simbol Kuasa Nabi Muhammad

Al-Qur’an sebagai simbol kuasa Nabi Muhammad, maksudnya jika Nabi Muhamad berbicara atas namanya sendiri (tanpa Al-Qur’an) ia akan diabaikan. Ia hanya akan dianggap seperti para pendeta dan pelaku monotoisme yang ada pada masanya.

Akan tetapi, Nabi Muhammad berbicara membawa Al-Qur’an. Itulah yang membuat Ia berbeda. Ia menjadi pusat perhatian bagi penduduk Makkah. Artinya, dengan Al-Qur’an Nabi Muhammad memiliki kuasa. Dengan Al-Qur’an Nabi Muhammad mampu mengontrol wacana dan pengetahuan Bangsa Arab tentang ketuhanan, kerasulan, dan kitab suci layaknya seseorang yang sedang menjinakkan kuda.

Respon awal mungkin liar, keras, dan bisa dibilang aneh. Akan tetapi secara perlahan, terbukti bahwa dalam waktu kurang lebih 23 tahun, kuasa Nabi Muhammad diakui bukan hanya oleh penduduk Quraisy Makkah, melainkan juga Madinah, dan seluruh jazirah Arab.

Pembelaan Al-Qur’an untuk Nabi Muhammad

Lalu, bagaimana mekanisme pembelaan Al-Qur’an terhadap Nabi Muhammad? Sebagai simbol kuasa, Al-Qur’an melakukan pembelaan pada Nabi Muhammad jika otoritasnya diganggu, baik gangguan secara langsung terhadap Al-Qur’an maupun terhadap pribadi Nabi Muhammad. Ketika orang Quraisy menuduh Nabi Muhammad sebagai orang gila (majnun), Al-Qur’an melalui surah At-Takwir:22 menjawabnya dengan, “وما صاحبكم بمجنون” (Dan temanmu {Muhammad} itu bukan orang gila). Berikutnya, Al-Qur’an menegaskan bahwa apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad bukanlah sesuatu yang keluar dari mulut seorang majnun, melainkan dzikr yang disampaikan melalui Rasul Karim.

Tekanan dan tuduhan yang dilakukan oleh orang Quraisy terhadap Nabi Muhammad terus meningkat dan berulang. Mereka menuduh Nabi Muhammad sebagai penyihir (sahir) dan pendusta (kazzab), menolak kenabiannya, menuduh Nabi Muhammad sebagai orang gila, dan sebagainya.

Baca Juga  Kaburo Maqtan: Ketakutan Para Pemimpin dalam Menjalankan Amanat

Al-Qur’an juga menggunakan terma-terma Asma’ Al-Qur’an untuk memperjuangkan identitasnya. Al-Qur’an seolah tengah menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk menolak kenabian Nabi Muhammad. Karena berita kenabiannya, serta misi yang ia bawa disampaikan oleh Al-Qur’an yang posisinya mengatasi tradisi syair jahiliyah maupun kitab suci terdahulu yang mereka kenal. Asma’ Al-Qur’an digunakan sebagai tameng terhadap tuduhan-tuduhan tersebut.