Tajdeed.id Kanal Tafsir Berkemajuan

Al-Qur’an Berwajah Puisi Karya HB Jassin

jassin
Sumber: https://hot.detik.com/

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang kemukjizatannya tidak akan pernah berakhir. Sepanjang sejarah dari zaman klasik hingga kontemporer kitab suci al-qur’an telah banyak menghasilkan kitab-kitab tafsir. Salah satu tokoh Indonesia yang mempunyai kepedulian terhadap al-Qur’an adalah H.B Jassin dengan karya terjemahannya yang fonumnetal dan kontroversial yang berjudul al-Qur’an berwajah puisi. Kemudian oleh tim depag diganti nama menjadi Al-Qur’an bacaan mulia.

Biografi HB Jassin

Hans Bague Mantu Jassin atau yang lebih dikenal dengan nama H.B Jassin. Beliau lahir di Gorontalo (Sulawesi Utara) pada tanggal 31 Juli 1917 dan wafat pada tanggal 11 maret 2000. Nama pertama beliau Hans adalah gabungan dari nama kedua orang tuanya; Begue Mantu Jassin dan Habiba Jau, sedangkan Begue diambil dari nama ayahnya.   

Masa kecil Jassin dihabiskan di tanah kelahirannya hingga tamat sekolah dasar khusus pribumi di zaman belanda yaitu hollands Inladsche School (HIS). Kemudian, pada tahun 1932 beliau lulus dari H.I.S Gorontalo dan melanjutkan ke SMP Mulo. Setelah itu melanjutkan ke SMA HBS (Hogere Burger School) pada tahun 1939 di Medan. Ketika tinggal di sana beliau pernah bertemu sastrawan yang terkenal Bernama Chairil Anwar dalam perkumpulan pecinta baca dan olahraga.

Pada tahun 1957, beliau berhasil menamatkan studinya di Universitas Indonesia pada Bidang Fakultas Sastra. Setelah lulus dari sana, beliau melanjutkan studinya di Universitas Yale di Amerika Serikat (1959). Kemudian, pada tahun 1979 beliau dianugrahi gelar Doktor Honoris Causa oleh kampus almamaternya yaitu Universitas Indonesia.

Baca Juga  4 Buku At-Tafsīr wal Mufassirūn Berdasarkan Kawasan

Dalam bidang Sastra beliau pernah bekerja di Balai Pustaka, yang hanya duduk dalam sidang pengarang redaksi dibawah bimbingan Armin Pane pada tahun 1940-1942. Setelah itu, pada tahun 1942-1945 beliau menjadi redaktur majalah panji Pustaka. Kemudian, berganti nama menjadi panca Raya, disini beliau menjabat sebagai wakil pimpinan redaksi pada tahun 1945-1947. Selain itu, beliau juga pernah bekerja sebagai redaktur di majalah sastra-budaya ternama di Indonesia. Seperti, majalah Bahasa dan budaya (1952-1963), majalah kisah (1953-1956), majalah seni (1955), dan lain sebagainya.

Semasa hidupnya beliau telah menghasilkan banyak karya yang ditulisnya. Seperti Kesustraan Indonesia Di masa Jepang (1948), Kumpulan cerita pendek dan lukisan (1946), Gema tanah air: prosa dan puisi (1948), Kisah: 13 cerita pendek (1955), Analisa: Sorotan atas cerita pendek (1961) dan pujangga baru: prosa dan puisi.

Metodologi dan Latar belakang Penulisan Tafsir al-Qur’an Bacaan Mulia

Tafsir al-Qur’an Bacaan Mulia merupakan salah satu karya monumental beliau berupa terjemahan al-qur’an ke dalam Bahasa puisi. Dalam menuliskan kitab tafsir al-Qur’an ini beliau menggunakan sumber bil ra’yi. Dengan metode yang digunakan yaitu metode Tahlili, sedangkan coraknya adalah corak Lughawi. Jassin merupakan seorang sastrawan, oleh karena itu dalam menerjemahkan al-qur’an beliau lebih menekankan pada aspek Bahasa. Bahkan beliau berusaha dengan semaksimal mungkin untuk mencari sinonim dari terjemahan lafadz agar dapat sesuai dengan irama.

Adapun yang melatarbelakangi penulisan kitab Al-Qur’an Bacaan Mulia adalah dengan diIlhami terjemahan Marmaduke Pickthalt The Glorius Koran, pada 1950, H.B Jassin mulai menangkap keindahan puisi sebuah terjemahan al-Qur’an. Sejak itu, Jassin mulai memperdalam al-Qur’an. Beliau membaca, menghayati dan menghafalkan al-Qur’an setiap saat.

Kemudian pada 12 Maret 1962, istri tercinta H.B Jassin meninggal dunia. Kejadian tersebut menggugah kesadarannya tentang arti kehidupan manusia di dunia sangat singkat. Sebagaimana tradisi yang berlaku, selama tujuh hari pada malam hari diadakan pengajian dirumahnya untuk mengaji al-qur’an 30 juz. Pada malam kedelapan kematian sang istri, rumahnya terasa sepi. Karena sudah tidak ada lagi yang melantunkan ayat-ayat al-Qur’an. dari sini, mulailah H.B Jassin memikirkan cara untuk menumbuhkan rasa rindu dalam tradisi mengaji.

Baca Juga  Melacak Model Hermeneutika Perspektif Islam dan Barat

Al-Qur’an dan Puisi

Menurutnya al-Qur’an itu puitis seperti puisi, sehingga rasanya lebih indah kalau disusun berbentuk puisi. Pada 7 Oktober 1972 “proyek terjemah al-Qur’an” Jassin dimulai. Dua tahun kemudian, tepatnya tanggal 18 Desember 1974, Jassin menyelesaikan terjemahan seluruh ayat al-Qur’an.

Setelah edisi pertama diterbitkan, Jassin diserang oleh banyak pihak karena dipandang tidak mempunyai ilmu yang dibutuhkan untuk menerjemahkan al-Qur’an. Oleh karena itu, banyak yang memberikan kritik, bahwa Jassin tidak layak menerjemahkan al-Qur’an. Namun, Jassin beruntung menerima surat tashih dari Departemen Agama, dan karya terjemahannya tersebut sempat terbit hingga beberapa kali cetakan. Cetakan pertama (1978) sebanyak 10.000 eksemplar diterbitkan oleh penerbit Djambatan.

Contoh Perbedaan Terjemahan Al-Quran Bacaan Mulia dan Depag

QS Yasin ayat 43-44

وَإِنْ نَشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلا صَرِيخَ لَهُمْ وَلا هُمْ يُنْقَذُونَ (43) إِلا رَحْمَةً مِنَّا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ (44)

Terjemahan al-Quran Bacaan Mulia

Dan jika kami kehendaki, kami dapat menenggelamkan mereka, maka tiada yang dapat menenggelamkan mereka. Maka tiada yang dapat memberi pertolongan dan tiada mereka dapat diselamatkan (43) kecuali sebagai  rahmat dari kami, dan untuk kesenangan sementara (44)

Terjemahan Depag

Dan jika kami menghendaki, kami tenggelamkan mereka. maka, tidak ada penolong bagi mereka dan tidak (pula) mereka diselamatkan (43) melainkan (kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai waktu tertentu. (44)

Karakteristik Tafsir Al-Qur’an Bacaan Mulia

  1. Menggunakan tartib Mushafi, yaitu menerjemahkan al-Qur’an dimulai dari surat al-Fatihah sampai surat al-Ikhlas.
  2. Pada surat al-Fatihah. terdapat hiasan kaligrafi surat al-Alaq ayat 1-12 yang berbentuk bundar melingkar.
  3. Page orientation yang digunakan disusun dari kiri ke kanan, bukan kanan ke kiri sebagaimana lazimnya layout teks Arab. Dalam hal ini Jassin mengikuti pola penerjemahan yang telah beredar sebelumnya, seperti penerjemah Mahmud Yunus dan terjemahan Departemen Agama.
  4. Teks Arab dan Terjemahannya disusun berdampingan, dengan teks Arab ditempatkan di sebelah kanan, dan terjemahanya di sebelah kiri.
  5. Teks Arab maupun terjemahnya disusun simetris dengan pola rata tengah, Pola penulisan ini mengikuti pola penulisan puisi.
  6. Diawal surat, ia menuliskan nama surat, status, dan jumlah ayat yang dituliskannya dalam kedua bahasa yaitu Arab di sebelah kanan dan terjemah Indonesia disebelah kiri.
  7. Menggunakan footnote dibeberapa tempat.
Baca Juga  Makki dan Madani: Komponen Dasar Memahami Al-Qur'an

Penyunting: Ahmed Zaranggi